• News

  • Peristiwa

Matahari Tutup Gerai dan Tak Gaji Karyawan, Denny: Siapa yang Mau Disalahkan?

Denny Siregar
foto: istimewa
Denny Siregar

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Emiten pengelola ritel fesyen Grup Lippo, PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) mengambil sejumlah kebijakan sebagai antisipasi dampak pandemi virus corona (COVID-19) terhadap kinerja perusahaan.

Langkah ini diambil untuk menjaga posisi perusahaan di tengah pandemi COVID-19 yang terus meluas di Tanah Air. Berdasarkan surat yang disampaikan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa ini (31/3/2020), terdapat enam poin penting yang diambil perusahaan, mulai dari penutupan gerai hingga menurunkan beban perusahaan dari segi sumber daya manusia (SDM).

Penutupan gerai ini akan dilakukan mulai 30 Maret 2020 hingga 13 April 2020 mendatang.

Namun demikian perusahaan menyebut penutupan ini bisa diperpanjang hingga, bergantung pada perkembangan penyebaran dan dampak COVID-19.

"Matahari.com akan terus beroperasi seperti biasa dan meningkatkan sumber dayanya untuk melayani permintaan yang meningkat," tulis manajemen perusahaan, dikutip Selasa (31/3/2020).

Selain itu, manajemen perusahaan juga menarik rekomendasinya untuk membayarkan dividen untuk kinerja perusahaan tahun lalu. Hal ini lantaran adanya kemungkinan tekanan atas trafik dan permintaan konsumen yang berkepanjangan.

Perusahaan juga memutuskan untuk menurunkan sejumlah beban perusahaan, termasuk gaji karyawan di seluruh level dengan penurunan terbesar di level senior.

Menanggapi kondisi buruk yang dialami Matahari, pegiat media sosial Denny Siregar membuat catatan panjang di akun Facebooknya, Sabtu (4/4/2020) dengan judul "Tsunami Itu Sudah Kelihatan."

Berikut catatan lengkap Denny Siregar:

TSUNAMI ITU SUDAH KELIHATAN..

Situasi sekarang ini mirip jam dinding kehabisan batere..

Jarum jam terdiam. Tidak ada energi untuk menggerakkan. Aktivitas berhenti. Pendapatan tidak ada, pengeluaran untuk konsumsi terus berjalan.

Tidak ada yang mau liburan, hotel-hotel tutup dan merumahkan ribuan karyawan. Beberapa pabrik masih produksi, masalahnya barangnya siapa yang mau beli ? Situasi yang sama dialami para pedagang yang mengandalkan jualan untuk makan sehari-hari.

Kemarin saya mampir ke Mall. Meski masih buka, tapi pengunjung sepi. Karyawan toko bengong, menunggu tokonya tutup sebentar lagi.

Seluruh gerai Matahari Departemen Store tutup sampai 13 April, kemungkinan diperpanjang. Bayangkan disana ada 40 ribu karyawan dan 850 pemasok yang pasti akan terhantam.

Perusahaan media terkena juga. Grup Vivanews yang juga membawahi TVOne, belum bisa gaji karyawan. Iklan tidak ada, para pemasang iklan mengurangi pengeluarannya.

Yang gajian, sekarang mungkin masih selamat. Bulan depan belum tentu ada yang bisa dimakan.

Dan situasi ini bukan cuma terjadi di Indonesia, tapi seluruh dunia. Pemerintah di masing-masing negara sibuk mengeluarkan uang ribuan trilyun rupiah untuk memerangi virus, hampir tidak ada cash untuk ekonomi.

Ini situasi yang jauh lebih parah dari krisis ekonomi. Kalau krisis masih ada aktivitas jual beli, tapi wabah ini membuat semua berhenti.

Parahnya, tidak ada yang bisa memperkirakan ini sampai kapan. Analisa statistik bertebaran, tapi mereka juga menghitung dengan keraguan.

Siapa yang mau disalahkan ?

Seperti bayi yang mau lahir, perut saat ini mengalami kontraksi keras. Sesudah hancurnya ekonomi, kemungkinan besar akan terjadi gejolak sosial. Beberapa negara sudah gelisah, penduduknya mulai menjarah.

Kalau dulu saat krisis kita diminta untuk mengencangkan ikat pinggang. Saat sekarang, apa yang harus dikencangkan ? Pinggang pun bisa saja menghilang.

Sesudah gempa besar Corona, tsunami resesi bentar lagi akan menghantam dunia.

Siap-siap saja. Mudah-mudahan pemerintah kita jauh lebih siap dari sebelum virus menerpa..

Mau seruput kopi dulu, mumpung masih ada..

Editor : Taat Ujianto