• News

  • Peristiwa

Luhut vs Said Didu, Denny: Luhut Itu ‘Buldozer‘ Jokowi Lawan Ganasnya Dinosaurus

Denny Siregar
foto: istimewa
Denny Siregar

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Sejumlah tokoh publik mengkritik Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut Panjaitan yang berencana melaporkan Said Didu ke polisi.

Pegiat media sosial Denny Siregar pun tak ketinggalan juga membuat catatan panjang mengenai hal itu. Minggu (5/4/2020), Denny membuat tulisan di dinding Facebooknya dengan judul "OPUNG LUHUT". Ini beberapa penggalan catatanya.

"Tidak akan ada Jokowi kalau tidak ada Luhut.."

Begitu cerita seorang teman waktu kami ngopi bersama. Opung, panggilan LBP, adalah orang yang berjasa membawa Jokowi ke pentas Jakarta waktu itu.

Awalnya perusahaan furniture Jokowi mendapat bantuan permodalan dan jaringan dari perusahaan LBP. Dan melihat gaya kepemimpinan Jokowi, LBP tertarik membawanya ke pentas politik nasional, karena Indonesia sedang krisis kepemimpinan saat itu.

Dan disinilah Jokowi sekarang, menjadi Presiden dua periode, sebagian besar berkat jasa LBP juga.

Kenapa LBP tertarik sama Jokowi ?

Ini mungkin karena dulu Opung dekat dengan Gus Dur. Kepemimpinan Gus Dur membekas dalam hatinya dan ia mencari model pemimpin yang sama. Itu dia temukan dalam diri Jokowi, bahkan lebih lengkap lagi.

LBP bisa disebut "buldozer" Jokowi, mengamankannya dari ganasnya politik nasional yg penuh dengan TRex dan dinosaurus kejam lainnya, mulai dari militer, konglomerat mafia sampai politikus durjana.

Itulah kenapa Jokowi sangat percaya padanya. Selain dia belajar peta politik, Opunglah yang setia padanya ketika dia dihajar dari mana-mana.

Sejumlah tokoh publik mengkritik Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut Panjaitan yang berencana melaporkan Said Didu ke polisi.

Sebelumnya dilansir pojoksatu.id, salah satu tokoh yang mengkritik Luhut yakni imam Islamic Center of New York yang juga Direktur Jamaica Muslim Center, Muhammad Shamsi Ali.

“Jika anda alergi bahkan phobia kritikan, jangan duduk di posisi publik. Apalagi dalam sebuah tatanan demokrasi. Marah atau tersinggung ketika dikritik rakyat, menandakan anda tidak dewasa dalam demokrasi. Demokrasi membuka pintu luas mengoreksi kekuasaan,” kata Shamsi Ali melalui akun Twitternya.

“Banyak kemunafikan yg merajalela. Demokrasi dan toleransi dijunjung kalau berpihak kepadanya. Keadilan itu nilai yang dijunjung jika berpihak. Tapi ketika demokrasi, toleransi dan keadilan hadir membela kebenaran, dan tidak lagi berpihak, jadinya ancaman,” tambah pendiri pondok pesantren pertama di Amerika Serikat itu.

Kritikan serupa disampaikan ahli hukum tata negara yang juga pengamat politik, Refly Harun.

“Seorang pejabat negara harusnya tidak marah kalau dikritik, kritik yang paling pedas sekalipun, karena dia memang diberi kemewahan dan segala fasilitas oleh negara, baik uang maupun kekuasaan,” kata Refly Harun melalui akun Twitternya, @ReflyHZ, Sabtu (4/4).

Sementara Wasekjen Partai Demokrat, Rachland Nashidik menilai, Luhut akan gagal memperbaiki persepsi politik padanya jika memenjarakan Said Didu.

“Pak Luhut akan gagal memperbaiki persepsi politik padanya bila ia memenjarakan pengeritik seperti @msaid_didu. Mustahil memenjarakan semua orang agar tak ada lagi kritik yang memerahkan kuping. Kenapa tidak ajak saja Pak Didu berdebat untuk mencari tahu pikiran siapa yang benar?,” katanya.

Anggota DPR RI dari Fraksi Gerindra, Habiburokhman, juga menyayangkan rencana Luhut yang akan melaporkan Said Didu ke polisi.

sikap Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan yang mengancam akan mempolisikan Muhammad Said Didu.

“6 bulan jadi pejabat publik jadi paham kita kerja bagus blm tentu diapresiasi, kita kerja buruk pasti dicaci. Belum lagi fitnah sering kali diumbar tanpa tabayun. Tapi saya marah kalau ada pejabat pidanakan pengkritiknya. Kalau ada fitnah cukup diklarifikasi @MSaiddidu,” tegas Habiburokhman, Jumat (3/4).

Pendiri Advokat Cinta Tanah Air (ACTA) itu menambahkan, bagian penting dari pelayanan publik adalah kesediaan untuk menerima kritikan.

“Selama orang masih mau kritik berarti masih menaruh harapan pada kita,” tandas anak buah Prabowo itu.

Editor : Taat Ujianto