• News

  • Peristiwa

SBY Sebut Malu di Negara Lain Tak Ada Ketegangan Pejabat vs Warga, Netizen: Kasihan AHY

Presiden Jokowi dan Mantan Presiden SBY
foto: rmol.com
Presiden Jokowi dan Mantan Presiden SBY

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyoroti isu yang berkembang di masyarakat soal 'ancaman' penghinaan presiden di tengah wabah virus Corona. SBY melihat munculnya situasi ketegangan antara masyarakat dan pejabat pemerintah.

Pernyataan SBY mengundang ragam pendapat warganet. @Kadresiyanto Susetyo membagikan tautan di akun Facebooknya dengan cuitan cukup menyentil.

SAYA MALU, MELIHAT MANTAN PRESIDEN DARI PARTAI PERNAH MENANG PEMILU, DLM KONDISI BANGSA MENGHADAPI WABAH COVID-19....SIBUK NGURUSIN ORG NYINYIR. BUKAN BANTU SELESAIKAN BENCANA BANGSA.......TIDAK ADA DI NEGARA MANAPUN MANTAN PRESIDEN SEPERTI INI....MALU...MALU ..SAYA INI..(emoticon sedih).

Sementara @Martina Gena menulis, Kaaihan (kasihan, red) AhY Pa sby klu klu kaya gitu, Semakin

@Dunia Abadi Abadi: Ra usah kkhen ngendiko pak ,,wes bantuo cr mmbasmi virus,iku cara wong itelek ,,ojo asal ngomong koyo mambu telek


Sebelumnya diberitakan, Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono melihat munculnya situasi ketegangan antara masyarakat dan pejabat pemerintah.

"Kedua, saya perhatikan beberapa hari terakhir ini justru ada situasi yang tak sepatutnya terjadi. Apa itu? Kembali terjadi ketegangan antara elemen masyarakat dengan para pejabat pemerintah, bahkan disertai dengan ancaman untuk 'mempolisikan' warga kita yang salah bicara. Khususnya yang dianggap melakukan penghinaan kepada Presiden dan para pejabat negara," kata SBY dalam sebuah tulisan berjudul 'Indonesia Harus Bersatu, dan Fokus Pada Penghentian Penyebaran Virus Korona' di laman Facebook miliknya, Rabu (8/4/2020).

SBY meminta situasi ini ditangani dengan bijak karena jangan sampai situasi tegang ini terus berlanjut. Apalagi saat ini seluruh masyarakat sedang menghadapi krisis wabah virus Corona.

"Mumpung ketegangan ini belum meningkat, dengan segala kerendahan hati saya bermohon agar masalah tersebut dapat ditangani dengan tepat dan bijak. Kalau hal ini makin menjadi-jadi, sedih dan malu kita kepada rakyat kita. Rakyat sedang dilanda ketakutan dan juga mengalami kesulitan hidup karena terjadinya wabah korona ini. Juga malu kepada dunia, karena saya amati hal begini tidak terjadi di negara lain," ujarnya.

Menurut SBY isu 'ancaman' penghinaan presiden adalah peringatan dari yang memiliki kuasa di bidang hukum. Hal ini baginya isu lawas.

"Isu yang muncul sebenarnya klasik dan tidak luar biasa. Intinya adalah bahwa negara, atau pemerintah, akan mempolisikan siapapun yang menghina presiden dan para pejabat pemerintah. Saya pahami ini sebagai peringatan (warning), bukan ancaman, dari pihak yang memiliki kekuasaan di bidang hukum," ucapnya.

"Mengapa saya katakan ini sebenarnya klasik dan tidak luar biasa, karena hal begini kerap terjadi di sebuah negara. Sekalipun negara itu menganut sistem demokrasi. Biasanya terjadi di negara yang demokrasinya tengah berada dalam masa transisi dan atau konsolidasi," sambungnya.

SBY mempertanyakan situasi kegaduhan politik ini. Situasi ini cukup luar biasa di tengah pandemi Corona bagi SBY.

"Yang menjadi luar biasa adalah kalau hukum-menghukum ini sungguh terjadi ketika kita tengah menghadapi ancaman korona yang serius saat ini. Jujur, dalam hati saya harus bertanya mengapa harus ada kegaduhan sosial-politik seperti ini?" imbuhnya dilansir Detik.com.

Editor : Taat Ujianto