• News

  • Peristiwa

Sebut Klarifikasi Said Didu ke LBP Lemah, Emrus: Baiknya Mediasi dan Makan Siang Bareng

Pengamat sebut klarifikasi Said Didu ke LBP Lemah.
Demokrasi
Pengamat sebut klarifikasi Said Didu ke LBP Lemah.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pengamat komunikasi politik Emrus Sihombing menilai, ada dua pesan yang terkandung dibalik surat klarifikasi dari 
mantan Sekretaris Kementerian BUMN Muhammad Said Didu (MSD) kepada Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Meko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan (LBP).

Pertama, Emrus menyebut, langsung atau tidak langsung,  MSD mengakui bahwa video pertamanya mengkritik LBP belum lengkap fakta, data dan bukti yang kuat sehingga struktur argumentasi lemah. Karena itu, MSD dalam waktu yang tidak begitu lama melakukan tindakan klarifikasi.

"Menurut hemat saya, klarifikasi ini salah satu bentuk pengakuan bahwa pandangan MSD pada video pertama masih memerlukan penjelasan lebih lanjut," kata Emrus dalam keterangan tertulisnya, Kamis (9/4/2020).

"Beda halnya bila isi video pertama dapat dipertanggungjawabkan, maka MSD tidak perlu klarifikasi. MSD cukup mengatakan, bahwa isi video pertama dapat ia pertanggungjawabkan di ruang publik dan atau melalui proses hukum. Sembari mengatakan, dirinya akan hadapi sendiri tanpa dukungan pihak lain. Sebab, isi video pertama sebagai analisis dan pandangan pribadinya," ujarnya.

Kedua, Emrus berpendapat, semua isi klarifikasi MSD juga masih lemah. Dua pernyataan MSD, sebagai contoh, yaitu 'hanya memikirkan uang' serta terkait penyebutan 'sapta marga'.

"Selain sangat tidak mendidik di ruang publik, ungkapan, hanya memikirkan uang, uang dan uang, bisa menyesatkan makna di tengah publik. Sebab,  dua kali menggunakan kata 'uang' yang disertai dengan dua kata berikutnya 'dan uang' itu berpotensi memanipulasi persepsi publik, bahwa sosok yang dituju merupakan orang yang berperilaku jauh dari perilaku humanis. Tentu narasi ini sesat pikir," ungkapnya.

Sebab, lanjut Emrus, pandangan MSD ini sangat jauh dari realitas setiap manusia di dunia, siapapun itu. "Menurut saya, MSD danLBP, juga bagian dari komunitas manusia yang humanis. Buktinya, MSD dan LBP banyak orang yang menyanyagi dan mengasihi," ucap dia.

Kemudian, disebut Emrus, ungkapan 'semoga terbersit kembali sapta marga' itu bisa dimaknai seolah sudah tidak terbersit lagi karena adanya kata
'kembali' yaitu 'terbersit kembali.' "Artinya, bisa saja sudah dilupakan oleh orang yang dituju. Oleh karena itu, ungkapan MSD ini masih sangat diragukan," terangnya.

Emrus melanjutkan, sejatinya, dalam suatu kritik, atau perdebatan atau berwacana di ruang publik yang lazim, sama sekali tidaklah baik menyinggung latar belakang seseorang dari aspek apapun,  termasuk institusi yang membesarkan dan atau terkait postur tubuh seseorang.

"Yang harus dikritik, atau ditanggapi atau dievalusi menyangkut pandangan,  kebijakan, program dan kinerja seseorang atau institusi," imbuh Direktur Eksekutif Lembaga EmrusCorner itu.

Karenanya, Emrus menyarankan, perlu ada mediasi mempertemukan MSD dengan LBP. Pertemuan empat mata ini jauh lebih produktif daripada berbalas narasi di ruang publik saling membenarkan diri sendiri dan membuat tidak nyaman pihak lain yang terkait  dan
membawanya ke ranah hukum.

"Sebagai sahabat, saya menyarankan kepada MSD menemui LBP. Kepada LBP kiranya bersedia mengundang MSD makan siang bersama. Pertemuan semacam ini acapkali dilakukan para tokoh bangsa kita untuk menyelesaikan perbedaan pandangan. Namun tetap mengindahkan koridor protokol pertemuan yang sudah dibuat oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19," jelasnya.

"Dengan demikian, dialektika tidak produktif semacam ini segera berakhir. Semua energi bangsa tercurah menghadapi kepungan Covid-19," pungkas Emrus.
Sebelumnya diberitakan, Said Didu mengirim surat kepada Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan. Surat tersebut berisikan klarifikasi Said Didu terkait video yang diunggah di akun YouTube pribadinya berjudul 'MSD: Luhut Hanya Pikirkan Uang, Uang dan Uang'.

Surat itu dikirim Said Didu setelah Jubir Kemenko Marves, Jodi Mahardi, memintanya untuk menyampaikan permohonan maaf. Jika dalam 2x24 jam Said Didu tidak ada permintaan maaf, pihak Luhut akan menempuh jalur hukum.

Berikut isi surat klarifikasi Said Didu kepada Luhut yang juga diunggah di akun Twitternya, @msaid_didu, Selasa (7/4/2020).
Kepada Yth. 
Bapak Luhut B. Pandjaitan
Menko Kemaritiman dan Investasi
Di 
Jakarta

Dengan Hormat, 
Menunjuk surat Bapak tertanggal 4 april 2020, saya sampaikan klarifikasi sebagai berikut.

1. Video yang berjudul Luhut Hanya Pikirkan Uang, Uang, dan Uang di akun Said Didu adalah ulasan analisis kebijakan pemerintah dalam menangani pandemi corona COVID-19.
2. Bahwa pernyataan saya yang menyatakan bahwa Pak Luhut hanya memikirikan uang, uang, dan uang merupakan rangkaian tidak terpisahkan dari seluruh analisis tersebut yang maknanya adalah:
a. Bahwa kebijakan pemerintah saat ini saat saya merekam video tersebut lebih mengutamakan kebijakan penyelematan ekonomi dibandingkan dengan kebijakan mengatasi dampak pandemi corona secara langsung;
b. Bahwa Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Bapak Luhut Binsar Pandjaitan lebih mengutamakan kebijakan penyelamatan investasi yang mungkin merupakan pelaksanaan tugas bapak;
3. Pernyataan saya terkait dengan sapta marga yang secara jelas saya katakan bahwa 'semoga terbersit kembali sapta marga' merupakan harapan saya kepada Bapak sebagai purnawirawan TNI bahwa dengan jiwa sapta marga, pasti akan memikirkan rakyat, bangsa, dan negara.
4. Sebagai tambahan informasi bagi Bapak bahwa keterangan saya tersebut jauh dari kepentingan pribadi dan semata-mata karena panggilan nurani untuk memenuhi kewajiban sebagai anak bangsa dalam membangun sistem kehidupan berbangsa dan negara yang demokratis, peduli, dan kritis kepada setiap aparatur negara agar dalam mengambil langkah-langkah, kebijakan, dan program selalu fokus demi Indonesia yang maju, adil, dan makmur ke depan.

Demikian klarifikasi saya. Saya harap makna saya dalam video tersebut menjadi jelas.
Tangerang, 7 April 2020
Dr. Ir. Muhammad Said Didu.

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Sulha Handayani