• News

  • Peristiwa

664 WNI Jamaah Tabligh di India Lapar dan Depresi: Netizen: Percaya Allah, Jangan Pulang

Sejumlah peserta Ijtima Ulama Asia berjalan ke lokasi perkemahan di Desa Pakkatto, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan
foto: antara
Sejumlah peserta Ijtima Ulama Asia berjalan ke lokasi perkemahan di Desa Pakkatto, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Sebanyak 664 warga negara Indonesia (WNI), menurut pemantauan Kementerian Luar Negeri Indonesia, menghadiri Tabligh Jemaah di India dan terjebak lockdown yang diberlakukan di negara tersebut. Menreka kini mengalami depresi dan lapar.

Berita tersebut menjadi pergunjingan di media sosial. Akun Facebook @Bude Sri Sabtu (18/4/2020) membagikan tautan dan memberikan komentar: Takbir....percayakn sama Allah..udh berdoa terus sja..klopun sampean mati..pasti mati syahid..72 bidadari dah siap menampung klian saudaraku..ok.udh jngn plng ke Indonesia ada corrona.

@Kenken: Sdh mirif orang India tuh....hidungnya aja yg pesek

@Eben: Sabar saudaraku jangan kawatir terus berdoa,gak makan pun gak mati kalau allah blm mengizinkannya

@Inah Velu: Kan dah cakap Kenapa masih nak pergi juga ber sabar kamu2 semua di sana indonesia sekarang ni tengah bertungku lumus menangin covid 19 so kamu2 semua banyak2 doa je Diam2 di sana ya.


Sebelumnya diberitakan Tirto.id, Jumat (17/4/2020), bagi publik awam di Indonesia, Tabligh Jamaat atau Jamaah Tabligh mungkin dikenal berat pengikutnya.

Di Jakarta, anda bisa menemukan pusat kegiatan Jamaah Tabligh di Masjid Jami Kebon Jeruk, salah satu masjid kuno di kawasan barat Jakarta yang dibangun berkat peran seorang Tionghoa bernama Chau Tsien Hwu pada 1786.

Konferensi Tablighi Jamaat tersebut berlangsung di tengah maraknya pandemi COVID-19. Banyak orang bahkan memilih tinggal lebih lama setelah konferensi.

Pada 22 Maret, markas Jamaah Tabligh ditutup dan sekitar 2.500 orang di sana diisolasi. Pemerintah India, yang dipimpin perdana menteri ultra-nasionalis dan anti-muslim Narendra Modi, beralasan pertemuan itu "menyebabkan lonjakan coronavirus terbesar di India".

Al Jazeera mencatat, dari sekitar 4.400 kasus positif COVID-19 di India, yang penduduknya 1,3 miliar, "hampir sepertiganya terkait pertemuan keagamaan di Markaz, kantor pusat Jamaah Tabligh biasa dikenal."

WNI Jamaah Tabligh: Lapar dan Depresi

Selain warga India, ada pula ratusan orang asing yang tak bisa keluar, termasuk 664 warga negara Indonesia, menurut pemantauan Kementerian Luar Negeri Indonesia.

Salah satunya adalah Ali Syahbana. Ia bercerita kepada reporter Tirto bahwa yang masih ada di Markaz, setelah penutupan itu, dipindahkan ke tempat lain untuk diisolasi atau dikarantina. Bersama 86 WNI lain plus empat warga Thailand, Ali dipindahkan ke Chander Shekhar Azad Government School, New Delhi.

Ali berkata hidupnya susah selama diisolasi. Badan ali mengurus, mungkin sampai 10 kilogram sejak diisolasi. Soal makan, ia bercerita setiap hari hanya disediakan nasi dan kari isi kentang, sementara untuk minum ada air putih yang rasanya seperti "mengandung kaporit".

"Kawan-kawan bilang lebih parah dari penjara yang bisa beli ini-itu," kata Ali lewat pesan singkat kepada Tirto, Kamis kemarin (16/4).

Setahu Ali, pemerintah Indonesia pernah memberikan bantuan makanan, tapi tak pernah sampai akibat kebijakan pengelola isolasi.

"Mereka [pengantar makanan] disuruh pulang," katanya.

Ali mengatakan para WNI hampir kehabisan visa. Mereka khawatir harus membayar denda overstay yang mencapai 50 dolar AS per hari.

Dengan semua kondisi itu, Ali berkata ada beberapa orang yang depresi sejak "22 Maret dikurung, enggak boleh ngapa-ngapain".
 
Khairil Marzuq, warga Indonesia asal Medan, berkata makanan tidak pernah datang tepat waktu. Ia mengaku diintimidasi oleh petugas pengelola isolasi India.

"Petugas yang melihat kami seperti tahanan penjara. Bahkan ada yang dinyatakan positif setelah pemeriksaan, dibawa tengah malam," kata Marzuq, pemimpin rombongan WNI, sebagaimana rekaman video yang dikirim Ali kepada Tirto.

Meminta Pulang

Seluruh WNI sempat ditempatkan di satu tempat isolasi, tapi lantas dipecah ke 34 titik karantina; 27 di New Delhi dan sisanya di luar New Delhi.

Marzuq bercerita mengenai perjalanan sejak dari Indonesia hingga harus diisolasi.

Menurutnya, ada yang sudah berangkat sejak akhir Desember 2019. Ia sendiri datang pada Februari 2020. Sedari awal, mereka telah membeli tiket pulang. Ada yang berencana balik beberapa hari setelah acara, tapi ada pula pada awal Mei.

Ada 25 WNI Jamaah Tabligh, delapan di antaranya ibu, yang jadwal pulangnya pada 18 Maret siang hari dengan rute India-Malaysia-Indonesia via maskapai Air Asia. Tapi, penerbangan mereka ditolak.

Marzuq ketar-ketir. Ia merencanakan pulang pada 18 Maret malam hari. Ia mengecek jadwal secara daring dan menemukan informasi penerbangan sesuai jadwal.

Tapi, katanya, "sesampai di bandara, tertolak."

"Ternyata pesawat yang penerbangannya sesuai jadwal hanya untuk orang berpaspor Malaysia," tambahnya.

Ia melapor ke Kedutaan Besar RI di New Delhi dan dilayani dengan baik. Sejak itu mereka kembali ke kantor pusat Jamaah Tabligh menunggu kabar selanjutnya.

Saat bersamaan, para WNI Jamaah Tabligh berinisiatif membeli tiket via Sri Lanka dengan harga tiket sekitar Rp7 juta.

Sialnya, India dinyatakan lockdown oleh Perdana Menteri Narendra Modi pada 24 Maret. Sri Lanka menerapkan tindakan karantina nasional lima hari sebelumnya.

Mereka terpaksa menjalani isolasi, tak bisa keluar dari negara itu, padahal perbekalan nyaris habis.

"Hanya untuk 40-45 hari," kata Marzuq.

Marzuq, Ali, dan ratusan WNI sekarang hanya punya satu harapan: KBRI di New Delhi bisa memulangkan mereka dengan pendekatan diplomatik.

"Kami terus berusaha kepada KBRI supaya dievakuasi," kata Marzuq.

"Tolong usahakan agar kami cepat dievakuasi," kata Ali.

Tirto meminta pendapat perwakilan dua organisasi muslim terbesar di Indonesia mengenai persoalan WNI Jamaah Tabligh yang tertahan pulang di India.

Rais Syuriah PBNU Masdar Farid Masudi mengatakan pemerintah Indonesia harus membantunya sebagai kewajiban konstitusional, "lebih cepat lebih baik."

Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti berkata pemerintah Indonesia harus melindungi warga sekaligus memperhatikan "hukum internasional dan kebijakan di negara bersangkutan" demi memulangkan Ali dkk.

Seandainya mereka telah kembali, "mereka harus menjalani karantina dan perawatan bagi yang positif COVID-19," tambahnya.

Kemenlu RI: Kami Terus Memantau

Pejabat juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia Teuku Faizasyah berkata terus memantau 664 WNI Jamaah Tabligh yang terkunci di India, yang tersebar di 33 lokasi isolasi di 12 negara bagian. (Menurut Khairil Marzuq, ketua rombongan WNI, dia dan teman-temannya tersebar di 34 lokasi isolasi.)

Faiza juga masih memeriksa kabar mengenai pengelola tempat isolasi di India melarang bantuan makanan, sebagaimana pengakuan dua sumber Tirto.

Faiza berkata pemerintah ingin memulangkan 664 WNI Jamaah Tabligh, tapi masalahnya pemerintah India menerapkan lockdownsecara ketat.

"Kebijakan ini bahkan menyebabkan puluhan ribu WN India yang bekerja di luar negeri tidak bisa kembali ke negaranya," katanya.

Faiza berkata para WNI akan dijemput meski ia belum memastikan kapan tepatnya. "Lihat perkembangan pasca-lockdown di India," ujarnya.

Editor : Taat Ujianto