• News

  • Peristiwa

Teddy: Saya Muslim, Saya Puasa, Tapi Hina Bagi Saya Meminta Apalagi Memaksa Dihormati!

Dewan Pakar Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI), Teddy Gusnaidi.
Demokrasi
Dewan Pakar Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI), Teddy Gusnaidi.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Dewan Pakar Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI), Teddy Gusnaidi  mengomentari adanya sekelompok orang yang merusak dan menutup paksa warung di Sumatera Utara dengan alasan bulan suci Ramadhan.

Sebelumnya, viral di media sosial penutupan paksa dan perusakan barang di sebuah warung kopi yang juga menjual tuak di Desa Batang Kuis, Deli Serdang, Sumatera Utara oleh anggota ormas Front Pembela Islam (FPI).

"Kejadian perusakan dan penutupan warung oleh sekelompok orang yang merasa pemilik moral terjadi lagi, kini terjadi lagi di sumatera utara," tulis Teddy di akun Twitternya, Jumat, (1/5/2020).

Teddy kemudian mengunggah tulisannya pada 2017 lalu yang berjudul 'Saya Muslim, Saya Berpuasa, Tapi Hina Bagi Saya Meminta Apalagi Memaksa Untuk Dihormati!.'

"Ini tulisan lama saya terkait kekonyolan tersebut. Sangat memalukan, ini adalah perbuatan yang paling hina, sehina hinanya," ujarnya.

Berikut tulisan Teddy, dikutip netralnews.com dari blog pribadinya.

Saya Muslim, Saya Berpuasa, Tapi Hina Bagi Saya Meminta Apalagi Memaksa Untuk Dihormati!

Sebagai seorang muslim, saya harus menjelaskan hal ini agar supaya tidak ada oknum-oknum yang menggunakan nama Muslim, nama Ramadhan, untuk hal-hal yang merugikan saya sebagai umat Muslim dan membuat orang lain beranggapan jelek terhadap agama saya, yaitu agama Islam. Bagi saya ini kewajiban saya sebagai seorang muslim.

Sebagai seorang muslim, Saya pernah ditanya apakah anda setuju jika tempat hiburan dan tempat makan ditutup di bulan Ramadhan?

Saya akan balik bertanya, apa urgensinya di bulan ramadhan tempat hiburan dan tempat makan ditutup?

Oh menghormati bulan ramadhan katanya. Saya tanya balik lagi, memangnya bulan itu butuh dihormati? Dimana aturannya?

Maksudnya menghormati umat muslim yang sedang berpuasa katanya.

Bulan ramadhan adalah bulan ujian bagi umat muslim. Bagaimana mengujinya jika tempat hiburan dianggap kalian tidak baik itu, tapi ditutup? Ujiannya kok dihilangkan? Sedangkan bulan Ramadhan adalah bulan ujian? Gimana sih? bulan ujian kok gak ada ujiannya?

Lalu ada lagi yang bilang, kalau mereka ngeyel dan tidak menghormati maka kami akan sweeping jika ada tempat makanan dibuka siang hari dan tempat hiburan dibuka dimalam hari. Kalau ada yang mendobrak tempat makan, apa salah mereka? Kalau alasannya karena tidak menghormati orang yang berpuasa maka saya sebagai umat muslim akan protes!

Siapa yang menyuruh kalian mewakili saya untuk dihormati? Saya puasa tapi saya tidak sedikit pun berharap apalagi memaksa orang untuk hormati saya apalagi mewakili saya. Jadi jika ada yang mengatasnamakan umat muslim untuk melakukan itu, maka itu ngawur!

Sebenarnya yang di uji itu siapa sih? Kita yang sedang berpuasa atau Warteg, Rumah makan padang, Tempat hiburan dan sebagainya? Ini aneh kan? Yang puasa itu saya, yang menjalankan ujian itu saya. Jadi tidak boleh saya paksakan orang yang tidak puasa untuk mengerti saya, apalagi memaksa.

Islam tidak ajarkan hal itu.. Oknum- oknum yang mengatasnamakan umat saja yang suka menambah-nambahkan sesuatu yang tidak diajarkan oleh agama.

Orang yang tidak berpuasa berhak untuk bisa menjalankan rutinitas seperti biasa, dan di negara ini semua orang berhak untuk jalani pilihannya. Pilihan orang mau makan siang hari karena tidak berpuasa harus dihormati karena selama 11 bulan ini tidak ada masalah. Kenapa sekarang jadi masalah?

Pilihan orang untuk tidak mengikuti HIMBAUAN adalah hak. Sejak kapan himbauan menjadi sebuah kewajiban? Apalagi seolah-olah menjadi sebuah hukum? Karena mereka melakukan kegiatan mencari nafkah yang tidak melanggar hukum! dan mereka pun tidak memaksa kita atau memasukkan makanan ke mulut kita secara paksa kan? Jadi kalau ada yang marah kepada orang-orang yang tidak berpuasa maka patut dipertanyakan apa motif mereka melakukan itu?

Saya muslim, saya berpuasa tapi saya tidak pernah meminta-minta untuk dihormati dan meminta-minta orang lain harus menjaga saya agar saya tidak tergoda dengan makanan. Apalagi memaksa! Itu perbuatan hina dan sangat hina.

Saya muslim, saya berpuasa tapi saya tidak pernah meminta-minta untuk dihormati dan meminta-minta orang lain harus menjaga saya agar saya tidak tergoda dengan makanan. Apalagi memaksa! Itu perbuatan hina dan sangat hina.

Kalau ada yang tergoda melihat orang makan, yah jangan salahkan orang yang makan, tapi salahkan diri sendiri kenapa iman dan mentalnya lemah! itu sama saja buruk rupa cermin dibelah! cermin itu ibarat orang yang sedang makan. kenapa kita marah sama orang yang sedang makan hanya karena kita berwajah buruk??

Apalagi sampai harus marah-marah, menuding dan memaksa orang lain untuk menghormati saya yang lagi puasa. Kalau dipaksakan, maka pihak lain pun bisa memaksa saya untuk ikuti ritual agama mereka. Kalau saya tidak mau, maka mereka juga tidak mau..

Jika saya pemilik warteg, saya tetap akan buka karena saya sedang mencari nafkah dan saya tetap berpuasa walaupun didepan mata saya banyak makanan. Jika ada orang yang beragama Islam makan di warteg saya sebelum waktu berbuka puasa, berarti dia tidak bisa menjalani ujian. Jika yang bukan muslim, yah mereka datang karena lapar dan benar-benar mau makan, bukan ingin menggoda orang yang berpuasa! orang lapar mau makan kok dianggap menggoda?? 

Jika warteg saya didatangi oknum dan disuruh tutup, maka saya akan tanya, kalian siapa? apa hak kalian? Jika aparat hukum, maka saya tanya salah saya apa? apakah ada UU yang melarang saya berjualan? Jika tidak ada maka silahkan kalian pergi. Jika bukan aparat hukum, maka tidak perlu diskusi lagi. Saya suruh pergi.. Jika tidak mau maka saya akan tuntut secara hukum pemaksaan ini.

Jika ada yang melakukan Sweeping dan merusak tempat usaha saya dengan alasan bulan ramadhan, sambil mengatakan anda puasa kok ngak menghormati yang berpuasa? Saya jawab, yang tidak menghormati siapa? anda memangnya puasa? kayaknya gak deh... kalau saya berpuasa sambil mencari nafkah. Mana ada ajaran Islam orang yang berpuasa boleh melakukan tindakan anarkis? saya saja makanan begitu banyak didepan mata, tapi tetap puasa!

Jika orang mengaku berpuasa tapi melakukan tindakan pengancaman, memaki dan memaksa maka masih pantas disebut berpuasa?

Kalau mereka menjawab kami puasa! kami dari pagi menahan lapar dan haus tapi kalian malah membuka warung makanan! maka saya akan panggil aparat kepolisian untuk menangkap mereka dan saya akan panggil Ustadz untuk menjelaskan mereka apa makna dari puasa di Bulan Ramadhan ini. supaya mereka tahu bahwa puasa itu bukan hanya menahan lapar dan haus!

Logikanya begini, dirumah saya, saya buat aturan bahwa tidak boleh makan di teras rumah. Tidak baik dan tidak elok dilihat orang. Jika anak-anak saya makan di teras rumah, maka saya marahi dan suruh masuk. Makan didalam rumah.

Tetangga didepan rumah saya, ternyata sekeluarga senang makan di teras rumah mereka. Mereka senang makan bersama di tempat terbuka. Anak-anak saya menangis dan mereka maunya makan di teras rumah seperti tetangga didepan rumah. Anak-anak ingin seperti tetangga itu.

Lalu apakah saya harus datangi tetangga saya dan suruh mereka makan didalam rumah? Dengan alasan anak-anak saya melanggar aturan saya?? Yang ada saya dimaki-maki dan diusir oleh tetangga. Karena mereka tidak melanggar aturan, tidak mengganggu saya, kok jadi saya yang ribet?

Sama seperti itulah jika ada oknum yang menutup usaha warteg dan usaha lainnya. Yang DI UJI KITA KOK YANG HARUS BERKORBAN DAN DIRUGIKAN ORANG LAIN?

Kecuali kalau yang menyuruh menutup itu mau membayar ganti rugi secara utuh dengan ditutupnya usaha masyarakat. Jika tidak, maka itu zalim namanya!

Atau kalau mau fair, yang menyuruh menutup usaha orang lain itu, mau ngak dia juga berhenti bekerja selama bulan ramadhan? Berhenti berusaha? Kalau dia tidak mau, maka jangan sok untuk menyuruh orang menutup usahanya! Atau malah yang menyuruh tutup ternyata pengangguran... pantesan saja mereka tega karena  mereka tidak merasakan bagaimana sulitnya orang mencari uang.

Para pejabat, jangan juga ramadhan ini dijadikan alat untuk pencitraan. Menutup usaha orang agar dipuji sebagai pejabat yang peduli. Membuat surat edaran dengan MEMAKSA dan MENGANCAM PEMILIK USAHA untuk menutup usahanya di bulan ramadhan. Itu pencitraan bodoh dan mereka menari diatas kesulitan orang lain.

Okelah kalau yang ditutup perusahaan yang punya laba besar, mereka punya cadangan membayar upah dan THR bagi karyawan. Bagaimana dengan usaha yang pas-pasan? Mereka akan kesulitan. Akhirnya mereka nekat buka, lalu ujung-ujungnya di tindak oleh para oknum yang gila hormat, ditindak oleh para pejabat pemerintah daerah yang gila pencitraan.

Padahal yang namanya ujian yang baik adalah ketika kita diuji dalam kondisi riil. Bukan dalam kondisi yang dibuat-buat seolah-olah semuanya baik. Giliran setelah ramadhan, kita tidak bisa menerapkan apa yang kita kerjakan selama bulan ramadhan. Kenapa? Karena kondisi dilapangan setelah ramadhan berbeda jauh dengan saat bulan ramadhan. Kita sendiri yang buat kondisi kepura-puraan. Munafik kita! membuat suasana ujian dengan menghilangkan ujian itu sendiri.

Ibarat anak SD, ketika belajar diajarkan hanya penambahan. Giliran pas ujian, soalnya ada perkalian, pengurangan dan pembagi. Jelas sang murid akan kewalahan karena selama ini yang diajarkan hanya soal penambahan! Nah sama dengan kondisi di bulan ramadhan yang menutup usaha-usaha masyarakat!

Atau apakah berani para oknum yang saat bulan puasa menjadi POLISI MORAL dan para pejabat pemerintah daerah menjadi MALAIKAT, menutup yang namanya Mall dan Mini market yang tersebar ditengah-tengah masyarakat?

Tutup semua mall, semua mini market, semua yang berhubungan dengan makanan, tutup makanan cepat saji dan sebagainya. Pasar juga harus ditutup. karena disana ada jual makanan dan minuman. baik yang bisa dikonsumsi langsung atau dimasak terlebih dahulu. atau khusus pasar tradisional hanya boleh menjual barang-barang yang tidak bisa dimakan langsung, harus di masak terlebih dahulu. Jika itu semua diterapkan maka saya mau juga menutup tempat usaha saya. Jika hanya saya yang tutup dan yang lain tidak, itu namanya tidak adil!

Selain itu saya ingin para POLISI MORAL dan MALAIKAT membayar upah dan THR para pekerja saya. Selain itu mereka harus mengganti kerugian yang saya dapatkan. karena tidak ada diajaran agama bahwa kerugian adalah salah satu bagian dari ibadah puasa. tidak ada! dan tidak ada diajaran agama yang mengatakan bahwa boleh tidak membayar upah para pekerja ketika menjalani ibadah puasa. tidak ada!       

Islam ajarkan keadilan, tapi ternyata para POLISI MORAL dan MALAIKAT itu yang mengklaim sebagai pemilik ramadhan ternyata tidak mengamalkan ajaran Islam. karena mereka berbuat dan bertindak tidak adil.  bertindak sewenang-wenang, anarkis dan memaksa.

Ini adalah akal-akalan para oknum. Kenapa sesuatu yang tidak ada dibuat-buat ada. Sesuatu yang tidak diajarkan agama dibuat-buat seolah-olah itu ajaran agama?

Puasa itu lebih kedalam, lebih ke diri kita, perubahan kita, ujian terhadap kita, bukan untuk orang lain atau atas nama orang lain. yang berubah dalam bulan ramadhan ini adalah pribadi individu kita, bukan situasi dan keadaan disekitar kita yang harus merubah mengikuti kita.

Bulan yang indah ini, dimaknai oleh para oknum dan orang-orang yang tidak mengerti dengan cara yang salah. Sehingga akan membuat pihak lain berfikiran negatif. Mereka yang berfikir begitu tidak salah, karena faktanya perbuatan para oknum ada didepan mata mereka. melakukan perbuatan hina dan sewenang-wenang mengatasnamakan ramadhan.

Mari jalankan ibadah ini sesuai dengan ajaran agama, bukan dengan ajaran-ajaran yang dibuat-buat sendiri dan berlindung atas nama agama. Jangan-jangan orang-orang yang melakukan tindakan-tindakan yang tidak diajarkan Islam adalah orang-orang yang memang bertujuan untuk menghancurkan Islam tapi berkedok dan berjubah Islami.

Hati-hati..

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Sulha Handayani