• News

  • Peristiwa

Hamdan: Gak Ngobrak-abrik Maksiat di Puncak karena Pelakunya Orang Arab? FPI Munafik!

Bareskrim Polri merilis kasus kasus prostitusi modus kawin kontrak di kawasan Puncak, Bogor, Jabar.
foto: suara.com
Bareskrim Polri merilis kasus kasus prostitusi modus kawin kontrak di kawasan Puncak, Bogor, Jabar.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Seorang warganet Facebook bernama @Hamdan Harahap, Senin (4/5/2020) mengritik Front Pembela Islam (FPI) dan viral di media sosial. Ia membandingkan dan mempertanyakan mengapa FPI tidak mengganggu praktik 'prostitusi' di Puncak, Bogor, Jawa Barat yang beberapa waktu silam mencuat di media massa.

Katanya: Kalau memang FPI mengklaim dirinya anti maksiat, kenapa FPI gk prnh ngobrak-abrik maksiat di Puncak? Apa krn pelaku2nya orang arab?
Atau jgn2 kalian dapat setoran dr pengelola? FPI MUNAFIK!

Cuitannya mendapat banyak komentar dan dibagikan ulang.

@Syafroeddin Zahri: Makanya di bogor banyak blesteran arab

@Rizal Rizal: Mereka beragama namun diotaknya hanya tentang seks semata

@Iwayan Sujani Mario: Karena FPI memang mau melegalkan maksiat . Dan menghalalkan yg buruk2 dan mengharamkan yg baik2. Coba diteliti dan diperhatikan semua tingkah lakunya semua, persis iblis kesurupan mengobrak abrik semua yg ada disampingnya. …

@Ling Min Seng: Benar sekali.. maksiat dipuncak sdh lama berlangsung.. pelakunya dari negara sana yg ...... jd kenapa fpi diamm? Jawabnya mudah saja . Satu guru satu ilmu jangan saling mengganggu....


Sebelumnya diberitakan Suara.com,  Bareskrim Polri berhasil mengungkap kasus tindak pidana perdagangan orang yang dilakukan dengan modus kawin kontrak di wilayah Puncak, Bogor, Jawa Barat.

Di media sosial, tempat ini disebut sebagai wisata seks "halal".

Karo Penmas Div Humas Mabes Polri Brigjen Argo Yuwono mengungkapkan awalnya polisi bergerak saat mendapatkan informasi dari YouTube yang menyebut lokasi ini sebagai wisata seks "halal" bagi para turis.

"Jadi ini berawal dari adanya video di youtube. Video di youtube itu dengan bahasa Inggris ya. Jadi ini di-upload kemudian di sana disebutkan bahwa di daerah Bogor, Jawa Barat, itu ada sex halal di sana. Jadi ini beritanya sudah sampai ke internasional," kata Argo di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Jumat (14/2/2020) silam.

Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigjen Ferdy Sambo mengatakan, tersangka Almasod Abdul Alziz Alim M alias Ali yang merupakan turis asal Arab Saudi sengaja pergi ke Puncak untuk mencari wanita.

"WNA tujuan ke Indonesia untuk berwisata (seks halal), lalu, mereka ke Puncak dan mencari wanita untuk kawin kontrak atau booking out, short time. Puncak menjadi tempat kegiatan-kegiatan seperti itu," jelasnya.

Ali ingin melakukan kawin kontrak ingin melakukan kawin kontrak atau booking out (BO) short time, dia kemudian bertemu H Saleh untuk mencarikannya perempuan.

Kemudian, H Saleh menghubungi Nunung dan Rahma sebagai penyedia perempuan di villa daerah puncak Bogor dan di Apartemen Puri Casablanca.

"Para perempuan (korban) tersebut kemudian dibawa oleh Nunung dan Rahma ke H Saleh di Villa wilayah Puncak Bogor dengan menggunakan kendaraan roda empat yang dikemudikan Okta. keuntungan yang didapat oleh H. Saleh dari WN Arab tersebut sebesar Rp 300 ribu," kata Brigjen Ferdy Sambo di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Jumat (14/2/2020).

Di situ, Nunung dan Rahma mematok harga untuk booking out (bo) short time dengan waktu 1-3 jam seharga Rp 500 ribu hingga Rp 600 ribu, sedangkan 1 malam dengan harga sebesar Rp 1 juta hingga Rp 2 juta.

Atau booking out secara kawin kontrak dengan harga Rp 5 juta untuk jangka waktu 3 hari dan Rp 10 juta untuk jangka waktu 7 hari.

Berdasarkan penyelidikan, Nunung dan Rahma ternyata masing-masing memiliki sedikitnya 20 perempuan yang akan dijual, sementara H Saleh sudah menyediakan lebih dari 20 pelanggan dan 12 kali menjadi saksi nikah kawin kontrak sejak tahun 2015 hingga sekarang.

"Keuntungan yang diperoleh kedua mucikari tersebut adalah sebesar 40 persen dimana jika korban mendapatkan uanlg sebesar Rp 1 juta maka mucikari mendapatkan Rp 400 ribu ataupun mucikari mendapat keuntungan sebesar 20 persen per-orang dari penghasilan yang didapatkan oleh korban," ucapnya.

Dari pengungkapan kasus ini, polisi telah menyita sejumlah barang bukti di antaranya 7 unit handphone, uang Rp 900 ribu, print out pemesanan Apartemen Puri Casablanca, akses Apartemen Puri Casablanka, request form Open Balconidoor nomor 010489 atas nama Abdul Alziz Almasod, guest registration Puri Casablanca nomor 073187 kamar 20.9 tanggal 31 Januari 2020.

Lalu, 1 buah invoice nomor 00104739/A atas nama Abdul Alziz Almasod, 1 bendel Booking De Resident At Puri Casablanka dari tanggal 31 Januari 2020 sampai dengan 3 Februari 2020 atas nama Abdul Alziz Almasod dari booking.com, paspor atas nama Abdul Alziz Almasod No. 366370 yang dikeluarkan Kingdom of Saudi Arabia, 2 buah boarding pass Srilanka Airlines penerbangan Riyad-Jakarta atas nama Almasod.

Atas perbuatannya, mereka berlima dijerat Pasal 2 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Nomor 21 tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang dengan ancaman penjara maksimal 15 tahun.

Editor : Taat Ujianto