• News

  • Peristiwa

Gegara Jari Istri TNI AD, Denny: Awasi Ustaz dan Pengajian Istri, di Sanalah Awal Mula

Denny Siregar
foto: istimewa
Denny Siregar

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Anggota TNI Rindam Jaya yang berada di bawah komando Kodam Jaya, Sersan Mayor T dijatuhi hukuman disiplin berupa penahanan ringan selama 14 hari. T dihukum lantaran istrinya, SD melakukan penghinaan terhadap pemerintah.

Sersan Mayor T dijatuhi hukuman disiplin berupa penahanan ringan selama 14 hari. T dihukum lantaran istrinya, SD melakukan penghinaan terhadap pemerintah.

"Menjatuhkan hukuman disiplin militer kepada Sersan Mayor T (anggota Rindam Jaya) berupa penahanan ringan sampai dengan 14 hari," kata Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat, Kolonel Inf. Nefra Firdaus dalam keteragannya, Minggu (17/5/2020).

Menanggapi berita tersebut, pegiat media sosial Denny Siregar, Senin (18/5/2020) membuat cuitan panjang berjudul "Jari Jari Istri TNI". Selain mengomentari istri TNI AD yang membuat suaminya ditahan, Denny juga meminta agar para ustaz diawasi, termasuk pengajian di sekitar anggota dan istrinya. Berikut catatan lengkap Denny Siregar:

JARI JARI ISTRI TNI...

Sejak dengan tegas mencopot seorang Dandim, saya jatuh hati dengan KSAD Jenderal TNI Andhika Perkasa..

Tidak mudah bagi institusi sebesar dan setutup TNI untuk membuka "aib"nya ke publik, karena bagi TNI kehormatan korps yang sering disebut jiwa korsa adalah segalanya. Dan itu berarti melindungi nama institusi dengan berbagai cara.

Tapi Jenderal Andhika dengan berani mendobrak tradisi itu, dengan mengumumkan pencopotan Dandim Kendari, hanya karena ulah istrinya yang memposting konten negatif terhadap penusukan Wiranto waktu itu di media sosial.

Apa yang dilakukan Andhika Perkasa melahirkan rasa hormat pada TNI dari kalangan sipil, karena itu seperti pengakuan terbuka dari TNI sendiri bahwa ada anggota mereka yang "salah jalan". Meski pasti yang dilakukannya juga menimbulkan ketidaksukaan dari kalangan internal TNI sendiri.

Dan hari ini, satu orang anggota lagi jadi korban gara2 ulah istri yang tidak tahan mencurahkan isi hatinya di medsos. "Semoga rezim tumbang sebelum akhir 2020"  katanya.

Jelas pernyataan ini adalah sebuah blunder, karena biar bagaimanapun TNI adalah bagian dari pemerintah juga. Jika sang istri berharap pemerintah sekarang tumbang, berarti termasuk TNI juga.

Pernyataan sang istri itu viral di media sosial dan kembali menampar TNI sebagai institusi. Jenderal Andhika marah lagi, lalu menghukum suaminya dengan penahanan 14 hari karena tidak mampu "mengendalikan" sang istri.

Mungkin istri anggota tersebut belum tahu, kalau dirinya sudah melekat jadi satu dengan jabatan suaminya.

Tentu apa yang dilakukan Andhika Perkasa ini bukan tanpa alasan atau sekadar gagah-gagahan, tetapi upaya kerasnya untuk mendisiplinkan dan menyatukan kembali TNI dalam satu komando barisan. Bahaya kalau anggota TNI terpisah-pisah dalam ideologi dan kepatuhan. Bisa kacau nanti negara..

Dan ini PR besar. Sejak negeri ini dipimpin seorang sipil seperti Jokowi, saya mendengar memang banyak ketidakpuasan internal TNI sendiri. Apalagi ketika politik pecah belah mulai berjalan saat kampanye.

Ingat mantan Danjen Kopassus yang ditahan karena penyelundupan senjata pasca Pilpres kemarin ? Dia juga melibatkan personel militer aktif utk menuntaskan niatnya.

Merapatkan barisan pasca terbelah duanya masyarakat sesudah Pilpres, bukan hal mudah. Ini perlu penggodokan lagi, bukan hanya pada suami sebagai anggota, tetapi juga istri yang tergabung dalam Persit bahwa mereka adalah "alat" pemerintah.

Bukan malah jadi lawannya..

Apa yang dilakukan KSAD Jenderal Andhika Perkasa, harus didukung penuh. Bahaya untuk negara kalau TNI dibawa-bawa dalam politik. Kalau perlu, Presiden harus bawa KSAD ke tempat yang lebih tinggi dalam jabatan Panglima, untuk melakukan tugas besar itu.

Saya hanya mau titip saja sama pak KSAD..

"Pak, awasi juga ustad2 dan pengajian disekitar anggota dan istrinya. Mungkin saja, disanalah awal mula masalah.."

Puasa dulu, libur seruputnya..

Denny Siregar

Sebelumnya dilansir Detik.com, Sersan Mayor T dijatuhi hukuman disiplin berupa penahanan ringan selama 14 hari. T dihukum lantaran istrinya, SD melakukan penghinaan terhadap pemerintah.

"Menjatuhkan hukuman disiplin militer kepada Sersan Mayor T (anggota Rindam Jaya) berupa penahanan ringan sampai dengan 14 hari," kata Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat, Kolonel Inf. Nefra Firdaus dalam keteragannya, Minggu (17/5/2020).

Hukuman disiplin terhadap Sersan Mayor T berdasarkan hasil sidang putusan yang dilaksanakan di Markas Besar TNI AD, pada Minggu (17/5). Sidang tersebut dipimpin langsung KSAD Jenderal Andhika Perkasa dan dihadiri oleh Wakil KSAD Mayjen TNI Moch Fachruddin beserta jajaran.

Nefra menyebut T ditahan lantaran tidak bisa menjalankan perintah kedinasan terkait penggunaan sosial media. Dalam hal ini, T tidak dianggap tidak dapat membina istrinya terkait penggunaan sosial media, di mana ada aturan soal ini di instansi TNI.

SD yang postingannya di Facebook itu menjadi viral, terbukti telah menyalahgunakan sosial media.

"Karena tidak mentaati perintah kedinasan yang sudah dikeluarkan berulang kali tentang larangan penyalahgunaan sosial media oleh Prajurit TNI AD dan keluarganya," ucap Nefra.

Sementara itu, Nefra menyebut TNI AD mendorong agar SD, yang tergabung dalam Persatuan Istri TNI AD atau Persit, diproses secara hukum pidana. SD diduga melakukan penghinaan terhadap pemerintah.

"Komentar negatif tentang pemerintah," ucapnya.

SD sebutnya diduga melanggar pasal UU nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan atas UU nomor 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik.

"Mendorong proses hukum terhadap saudari SD dalam kapasitasnya sebagai anggota Persatuan Istri TNI AD," ujar Nefra

Adapun SD membuat postingan di akun Facebooknya, Suswati DIY. Dalam komentar dia menuliskan kata-kata dalam bahasa Jawa 'mugo rezim ndang tumbang sblm akhir tahun 2020' yang artinya 'semoga rezim segera tumbang sebelum akhir tahun 2020'.

Seorang teman SD mengingatkan lewat kolom komentar terkait pekerjaan sang suami yang mendapat gaji dari pemerintah. SD balas mengomentari dengan kalimat 'sing gaji TNI bkn negoro ning rakyat, duite seko rakyat' yang artinya 'yang menggaji TNI bukan negara tapi rakyat, uangnya dari rakyat'. Saat ini akun SD di Facebook sudah tidak bisa ditemukan.

Editor : Taat Ujianto