• News

  • Peristiwa

Kecam Para Penjual Gelar Keturunan Nabi, Denny: Mirip Kisah Nabi Nuh, ya Ditelan Gelombang

Denny Siregar
foto: istimewa
Denny Siregar

SURABAYA, NETRALNEWS.COM - Polemik perkelahian Habib Umar Assegaf dengan aparat masih menjadi pergunjingan jagad medsos.

Pegiat media sosial Denny Siregar membuat cuitan, Jumat (22/5/2020) mengritik warga Indonesia yang secara berlebihan memuja faktor keturunan Nabi tanpa melihat bagaimana perilaku dan amal para keturunan nabi.

Ia membuat catatan panjang berjudul "Para Penjual Gelar Keturunan Nabi." Berikut catatan lengkap Denny:

PARA PENJUAL GELAR KETURUNAN NABI

Alkisah Nabi Nuh as selesai membangun kapal besarnya..

Ia lalu mengajak masyarakat disana untuk naik, karena akan ada banjir besar yang datang dan menenggelamkan semua disekitarnya.

Tapi, anaknya yang bernama Kan'an, menolak. Dia tidak mau ikut ayahnya yang dianggap banyak orang sebagai "orang gila". Istrinya Nabi Nuh as pun begitu.

Dia malu dengan suaminya dan menolak untuk naik kapal..

Dan kita sudah tahu apa akhir ceritanya. Banjir besar datang, anak dan istri Nabi Nuh as itu tenggelam bersama orang2 yang tidak percaya kepada beliau.

Siapa yang selamat ? Ada 80 orang pengikut yang rata2 orang miskin dan lemah. Mereka masyarakat biasa.

Sejak lama saya membuka pemahaman saya tentang Kitab Suci, bahwa didalam sana sarat sekali pesan dan makna yang dalam tentang kehidupan yang dibalut oleh peristiwa.

Jadi, Kitab Suci bukan hanya dibaca saja atau dihapalkan. Yang lebih penting adalah mampu tidak kita memahami makna pesan di dalamnya ?

Kisah Nabi Nuh as itu relevan dengan situasi sekarang, dimana ada orang2 yang mengaku sebagai "keturunan Nabi" dan menjual gelar kehabibannya kemana2 untuk memperkaya dirinya sendiri. Lucunya, banyak juga orang mendewakan mereka, hanya karena garis keturunan saja.

Padahal dalam kisah Nabi Nuh as, terlihat Tuhan tidak membedakan keturunan apa bukan, istri apa bukan. Kalau dia durhaka, ya habis ditelan gelombang. Dan yang selamat justru mereka yang bukan siapa-siapa.

Lalu, apa yang mau dibanggakan dengan gelar "habib" atau "keturunan Nabi" jika Tuhan saja tidak memilih manusia itu berdasarkan "siapa dia" tetapi "apa yang diperbuatnya" ?

Salah kaprah gelar habib yang kemudian dikapitalisasi demi keuntungan pribadi, membuat lahir manusia2 bodoh dengan pemahaman kering, karena mereka sejak kecil selalu di doktrin. Keturunan Nabi seolah jadi dewa dan tidak pernah salah.

Fanatisme sempit ini memang sengaja diciptakan untuk membangun pasukan2 mereka. Menciptakan robot2 massa demi kepentingan dunia.

Tapi Tuhan juga tidak "tinggal diam". Dibongkarlah satu persatu kedok2 mereka yang menjual2 nama kekasihNya, dengan aib sehingga menjadi olokan banyak orang.

Dan dari sana akhirnya muncullah jenis2 habib. Ada habib Firza. Ada habib sebat dulu. Dan yang terakhir muncul lagi habib Camry.

Alam sedang bekerja membuka mata banyak orang dengan peristiwa2. Mirip dengan kisah di Kitab Suci, hanya dipoles sesuai zamannya..

Sudah buka, bisa seruput kopi kali ini..

Denny Siregar

Sebelumnya diberitakan, Kabid Humas Polda Jawa Timur Kombes Pol Trunoyudo Wisnu Andiko membenarkan adanya insiden pelanggar pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di cek poin pintu keluar Tol Satelit Surabaya pada Rabu sore, (20/5/2020).

Dalam video yang beredar di media sosial tersebut, terlihat seorang pria berpakaian gamis sempat bersitegang dengan petugas karena mobil yang ditumpanginya dipaksa putar balik karena melanggar PSBB.

Truno dikonfirmasi di Surabaya, Kamis (21/5/2020), membenarkan bahwa sesuai pelat nomor kendaraan bahwa pria bergamis penumpang mobil sedan Camry itu ialah Habib Umar Abdullah Assegaf Bangil, Pengasuh Majelis Roudhotus Salaf, Bangil, Pasuruan.

Dikatakannya, insiden bermula ketika petugas menghentikan mobil tersebut yang melaju dari arah Malang dan keluar di pintu keluar Tol Satelit Surabaya.

Petugas melakukan pemeriksaan karena pelat mobil/nopol adalah N (Pasuruan), bukan L (Surabaya) dan W (Sidoarjo atau Gresik).

"Kedua, sopir tidak menggunakan masker. Ketiga, kapasitas (jumlah penumpang) melebihi," ucapnya.

Karena diketahui melanggar aturan PSBB yang berlaku di Kota Surabaya maka petugas gabungan pun meminta pengemudi dan pemilik mobil agar berputar balik.

Perwira dengan tiga melati emas itu menyatakan petugas sudah meminta pemilik mobil berputar dengan cara baik-baik, namun cara humanis petugas direspons oleh pria bergamis itu dengan kata-kata kasar.

Atas insiden tersebut, dia meminta di masa pandemik COVID-19, semua elemen masyarakat memahami dan memaklumi pentingnya kedisiplinan aturan protokol kesehatan untuk mencegah penularan Corona.

"Kedisiplinan melaksanakan protokol kesehatan harus menjadi tanggung jawab pribadi dan keluarganya," tuturnya dilansir Antara.

Editor : Taat Ujianto