• News

  • Peristiwa

Menyakitkan untuk Pasien COVID-19! Beginilah Cara Kerja Ventilator

Begini cara kerja ventilator yang menyakitkan bagi pasien Covid019.
Antara
Begini cara kerja ventilator yang menyakitkan bagi pasien Covid019.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Seorang perawat yang bekerja dengan ventilator,  Echy Purba membagikan pengalamannya merawat pasien Covi-19.

"Jadi ini dia ... buat orang-orang yg tidak mengerti bagaimana rasanya menggunakan ventilator, tapi ingin mencari kesempatan untuk tidak 'tinggal di rumah', tidak social-distancing dan keluar tanpa masker,” tulis dia dalam Facebooknya beberapa waktu lalu.

Sebagai awalnya, ini bukan masker oksigen yg diletakkan di mulut sementara pasien bisa nyaman berbaring dan membaca majalah. Ventilasi untuk Covid-19 adalah sebuah intubasi menyakitkan yg turun ke tenggorokan anda dan akan tetap di sana sampai anda hidup atau mati.

Hal ini dilakukan ke pasien dengan anestesi selama dua  hingga tiga minggu tanpa bergerak, sering dalam keadaan terbalik, dengan selang tube dimasukkan dari mulut ke trakea dan memungkinkan anda bernapas dengan irama mesin paru-paru. Pasien tak dapat berbicara atau makan, atau melakukan sesuatu secara alami - mesinnya membuat anda tetap hidup.

Ketidaknyamanan dan rasa sakit yang dirasakan pasien darinya berarti para ahli medis harus memberikan obat penenang dan penghilang rasa sakit untuk memastikan toleransi terhadap selang tube selama mesin diperlukan. Ini seperti berada dalam koma buatan.

Setelah 20 hari dari perawatan ini, seorang pasien muda akan kehilangan 40% massa otot, dan mendapat trauma mulut atau trauma pita suara, serta kemungkinan komplikasi paru-paru atau jantung.

Karena alasan inilah orang lanjut usia atau orang yang sudah lemah tak dapat bertahan dari perawatan dan mati. Banyak dari kita berada di kapal pandemi yang sama ... jadi tetaplah dalam keadaan aman kecuali jika anda ingin mengambil risiko berakhir di sini. Ini BUKAN flu.

“Tambahkan juga selang tube ke dalam perut anda, baik melalui hidung atau kulit untuk memasukkan makanan cair. Tambahkan kantong yg lengket di sekitar pantat anda untuk mengumpulkan diare. Tambahkan kateter foley untuk mengumpulkan urine. Tambahkan infus untuk cairan dan obat-obatan. Tambahkan A-line untuk memantau tekanan darah anda yang benar-benar tergantung pada dosis pengobatan yang harus dihitung dengan baik. Tambahkan tim perawat, CRNA dan MA untuk memposisikan anggota tubuh anda setiap dua jam dan berbaring di tikar yang mengalirkan cairan dingin untuk membantu menurunkan suhu 40 derajat Celsius Anda," itulah kalimat yang sering dilontarkan perawat.

“Adakah dari  Anda yang mau mencoba semua itu? Tetaplah di rumah dan pakailah masker saat anda pergi! Tetaplah aman dan tetaplah sehat!,” tulis Echy.

Echy menambahkan, apa yang artikel ini tidak katakan adalah bahwa pasien dapat mendengar semua yang dikatakan, jadi jika staf medis dengan ceroboh berbicara tentang kematian, pasien bisa panik.

Jika obat penenang berkurang, pasien panik karena dia tidak bisa bernapas atau berbicara atau, dalam kasusnya, bergerak.

Ketika mereka mulai menurunkan obat penghilang rasa sakit, pasien berteriak di kepalanya tetapi tidak bisa mengeluarkan suara.

Ketika mereka mengeluarkan selang tube, itu sangatlah tidak nyaman.

Ketika trakea nantinya dapat menggantikan respirator, pasien masih tidak akan dapat berbicara atau makan tanpa selang tube.

Ketika Anda memilih untuk berkerumun, membuka masker, atau pergi ke toko-toko yang baru dibuka untuk beli sesuatu yang tidak terlalu penting, tanyakanlah pada diri sendiri, apakah layak resikonya anak anda akan menderita seumur hidup, bahkan mungkin meninggal, sendirian, demikian tulis perawat.

Editor : Sulha Handayani