• News

  • Peristiwa

Penerapan New Normal Mendapat Penolakan, Denny Siregar Malah Bilang Begini

Pegiat Media sosial, Denny Siregar.
Istimewa
Pegiat Media sosial, Denny Siregar.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Wacana penerapan tatanan hidup baru atau new normal oleh pemerintah terus bergulir meskipun kurva penularan Covid-19 saat ini belum melandai. Bahkan sejumlah pihak dengan tegas menentang wacana tersebut. 

Meski begitu, pegiat media sosial Denny Siregar merasa penerapan new normal yang tengah digodok pemerintah ini adalah bentuk tanggung jawab, karena meski ini adalah keputusan terburuk, tapi harus diambil untuk menghindari bahaya yang lebih besar, yaitu tsunami resesi ekonomi.

“Berani ambil resiko dan tidak cengeng. Keputusan terburuk harus diambil untuk menghindari bahaya yang lebih besar, yaitu tsunami resesi ekonomi..,” kata Denny Siregar di akun Twitternya, Kamis (28/5/2020).

Sebelumnya diberitakan bahwa Presiden Jokowi sudah mulai mengecek kesiapan para pelaku ekonomi untuk menjalani new normal di masa pandemi corona ini. Yang pertama beliau cek adalah mall Summarecon di Bekasi, Selasa (26/5) yang lalu.

Kini, Jokowi berencana untuk membuka pariwisata tanah air ketika penerapan tatanan hidup baru atau new normal telah diberlakukan. Meski begitu, Jokowi mengakui bahwa rencananya itu tak mudah untuk dilakukan karena risikonya amat tinggi.

Oleh karena itu, walaupun pariwisata akan dibuka dalam fase new normal, namun Jokowi meminta ada protokol kesehatan yang ketat untuk mencegah penyebaran virus corona.

"Perlunya sosialisasi yang masif, diikuti uji coba, diikuti simulasi-simulasi dan juga perlunya dimulai sekarang ini pengawasan agar betul-betul standar protokol kesehatan itu dijalankan di lapangan," kata Jokowi dalam rapat kabinet terbatas lewat video conference, Kamis (28/5/2020).

Kepada jajarannya, Jokowi pun meminta mereka untuk melihat negara-negara lain yang sudah membuka pariwisata dalam kondisi new normal. Ia menegaskan pariwisata harus kembali produktif.

Reporter : Dimas Elfarisi
Editor : Nazaruli