• News

  • Peristiwa

Denny Sindir Kadrun Kerjanya Sweeping dan Penggal, Netizen: Agama Rusak karena Ulah Mereka

Pegiat Media Sosial, Denny Siregar
Istimewa
Pegiat Media Sosial, Denny Siregar

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Pegiat media sosial Denny Siregar menyindir ancaman penggal kepala yang mulai dilontarkan kelompok pembela agama.

Menurut Denny, kerjaan kelompok tersebut saat kondisi normal adalah sering melakukan sweeping, sementara di kondisi new normal adalah penggal.

“Kadrun kondisi normal : Sweeping

Kadrun di new normal : Penggal,” kata Denny di akun Twitternya, Sabtu (30/5/2020).

Cuitan Denny itu langsung ramai dengan komentar netizen. Mereka ikut memberikan komen bernada yang sama.

“Agama rusak karena ulah mereka.....Harusnya berdakwah dgn santun dan sejuk..Nyatanya bikin gaduh...Rusaaaak rusaaak agama...Sepertinya Kapur lebih layak dapat tiket ke surge,” kata @OmPadi2

“Buat kadrun kadrun, islam bukan berarti kadrun. Kita tidak pernah menghina islam. Kita mengakui islam itu indah. Tapi orang yang menggunakan nama islam untuk kepentingan pribadi itu yang harus dipertanyakan. Apalagi sampai menghalalkan darah saudara sendiri,” kata @SelimMiless.

Cuitan @SelimMiless ini langsung ditanggapi oleh @celvindo yang merasa tak sepaham.

“Halal darah nya klu ada yg mnghina agama kmi,, nabi kmi,, Allah  kmi,, cba lo brni eng hina agama kmi,,,,, brni eng lo,, otak d pake,, klu d dpn gue ad yg brni mnghina agama gue,,, demi Allah,,,,,klu eng gue yg mati orang yg mnhina agama gue yg mati,,” kata @celvindo.

Sebelumnya diberitakan bahwa ada seorang pria adakan sayembara untuk memenggal kepala Permadi Arya alias Abu Janda. Pria itu memberikan sayembaranya lewat rekaman video yang diupload ke Youtube.

Pria yang ada video itu menilai parodi Permadi Arya telah melecehkan Habib Bahar Bin Smith. Ia menilai Abu Janda seorang PKI yang telah menghina ulama, kiai dan habaib.

Pria dalam video itu menyatakan tidak takut masuk penjara atas seruan untuk memenggal kepala Permadi Arya.

Reporter : Dimas Elfarisi
Editor : Sesmawati