• News

  • Peristiwa

Pigai Sebut Rasisme di Indonesia Makin Nyata Berkembang saat Jokowi Berkuasa

Aktivis kemanusiaan Natalius Pigai
Istimewa
Aktivis kemanusiaan Natalius Pigai

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pengamatan hukum dan HAM, Natalius Pigai, mengatakan, rasisme di Indonesia berkembang pesat saat Presiden Joko Widodo (Jokowi) berkuasa.

Hal tersebut dikatakan Pigai menanggapi isu rasisme yang berujung pada aksi demonstrasi di AS. Menurutnya, kasus rasis kulit hitam di Papua tak pernah tersentuh oleh hukum. Karena aparat terkesan membiarkan dan menyetujui.

"Rasisme di Indonesia makin nyata berkembang saat Jokowi Berkuasa ciptakan buzzer. rasisme ke kulit hitam di Papua, aparat tdk pernah hentikan, terkesan ngebiarkan & menyetujui," kata Pigai dalam akun twiternya, @NataliusPigai2.

Ditegaskan Pigai kasus rasisme di AS merupakan bentuk terburuk dari perbudakan dan penjajahan.

"Rasisme di AS itu suatu bentuk terburuk dari Perbudakan dan Penjajahan," lanjutnya.

Diketahui status darurat ditetapkan oleh Gubernur Minnesota Tim Walz setelah demonstrasi selama dua hari yang berakhir rusuh akibat memprotes kematian George Floyd.

Dikutip dari BBC, Jumat (29/5/2020), Gubernur Walz juga mengaktifkan tentara nasional merespons permintaan wali kota Minnesota. Dia menyebut status darurat masa damai ditetapkan karena demonstrasi berakhir dengan penjarahan, vandalisme dan pembakaran pada malam sebelumnya.

Aksi tersebut pun berimbas pada kegiatan bisnis sehingga para tentara ditempatkan di sekitar St. Paul.

“Kematian George Floyd harus mengarah ke keadilan dan perubahan sistemik bukan kematian tambahan dan kerusakan,” katanya.

Adapun, isu rasisme meliputi kematian Geroge Floyd, pria berusia 46 tahun. Pria berkulit hitam itu tewas di tangan petugas kepolisian akibat dugaan menggunakan uang palsu.

Meski Floyd sempat dilarikan ke rumah sakit, nyawanya tak tertolong setelah mendapatkan kekerasan berupa injakan lutut di lehernya yang mengakibatkan dia sulit bernapas. Rekaman kejadian tersebut serta erangan Floyd saat mendapat perlakuan itu beredar luas dan memantik protes.

Protes dimulai pada Selasa, setelah Floyd dinyatakan meninggal dunia pada Senin. Polisi pun menyemprotkan gas air mata kepada para demonstran yang merusak fasilitas bisnis pada Rabu (27/5/2020) waktu setempat. Jumlah demonstran disebut bakal terus bertambah.

Tak hanya di satu tempat, aksi protes juga terjadi di Chicago, Illinois, Los Angeles, California, Memphis dan Tennessee. Aksi protes itu meledak karena kematian Floyd menambah panjang deretan kematian warga kulit hitam Amerika seperti Ahmaud Arbery di Georgia dan Breonna Taylor di Kentucky.

Wali Kota Minneapolis Jacob Frey menyebut bahwa hukuman bagi kriminal telah disiapkan bagi petugas kepolisian yang terekam terlibat menghilangkan nyawa Floyd. Empat petugas yang terlibat telah dipecat.

Sejumlah bank, anjungan tunai mandiri (ATM), pertokoan, perpustakaan tak luput dari kerusakan akibat protes. Hal itu menunjukkan kemarahan jelas dari para demonstran yang diperkirakan akan terus melancarkan aksinya bukan hitungan hari melainkan minggu.

Sebelumnya, saudara kandung Floyd, Philonise Floyd berharap agar para petugas kepolisian yang terlibat penyiksaan itu mendapatkan hukuman mati.

Dia pun menilai demonstran dan aksinya yang berakhir rusuh mencerminkan amarah yang tak bisa dia kendalikan. Alasannya, karena mungkin para demonstran merasakan sakit yang sama dengan yang dia rasakan. Dia merasa lelah melihat banyak orang kulit hitam mati dibunuh.

“Saya tak akan pernah mendapatkan kembali saudara kandung saya. Kami butuh keadilan,” katanya.

Reporter : Wahyu Praditya Purnomo
Editor : Nazaruli