• News

  • Peristiwa

Luhut: RI Butuh Ratusan Ribu Sarjana Teknik, DS Malah Olok-Olok Kualitas Sarjana Indonesia

Pegiat Media Sosial, Denny Siregar
Istimewa
Pegiat Media Sosial, Denny Siregar

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan mengatakan, jumlah tenaga kerja yang merupakan lulusan sarjana dan diploma dalam bidang teknik di Indonesia masih sangat sedikit.

Padahal negara ini butuh banyak tenaga kerja Sarjana dan Diploma jurusan teknik untuk memenuhi kebutuhan hilirisasi minerba yang jadi salah satu skenario pilihan pemerintah untuk memulihkan ekonomi dari dampak COVID-19. 

Keluhan Menteri Luhut itu kemudian ditanggapi pegiat media sosial Denny Siregar (DS). Salah satu pentolan relawan Jokowi itu tak merasa terkejut jika Indonesia kekurangan tenaga kerja sarjana atau diploma jurusan teknik.

"Ya, gimana ya pak Luhut ?

Disini banyak sarjana teknik yang lebih jago agama. Kalau sdg musim PKI, tiba2 jago sejarah. Pas Pandemi, jadi ahli Corona. Tergantung musimnya apa.

Yg mereka tdk jago ya dibidang yg harusnya mereka kuasai.." tulis Denny di akun Twitternya, Kamis (4/6/2020).

Sebelumnya, lewat keterangan tertulisnya, Luhut membeberkan data kebutuhan sarjana dan diploma teknik tersebut kepada media.

"Pada tahun 2025 Indonesia diproyeksi akan membutuhkan 276.298 lulusan Sarjana Teknik dan 458.876 lulusan Vokasi Teknik. Sedangkan ketersediaan untuk S1 diproyeksi hanya berjumlah 27.721 orang dan 5.634 orang D3," ujar Luhut, Rabu (3/6/2020).

Artinya, akan ada kekurangan tenaga S1 Teknik sebesar 248.577 dan D3 Teknik 453.243 pada tahun 2025. Selain itu, menurut data BPS tahun 2019, sebanyak 52,4 juta tenaga kerja di Indonesia berpendidikan SD ke bawah.

Kemudian yang berlatar belakang lulusan SMP 22,9 juta orang, 23,1 juta lulusan SMA, serta 14,6 juta lulusan SMK. Sedangkan yang lulusan diploma hanya 3,6 juta dan 12,61 juta yang berlatar belakang sarjana.

"Ini adalah tantangan serius bagi pemerintah yang tengah gencar melakukan hilirisasi industri minerba. Padahal, industri hilirisasi membutuhkan lulusan sarjana dan vokasi teknik dalam jumlah yang sangat besar," jelas Luhut.

Atas dasar itu, Luhut ingin Kementerian Perindustrian, Kemendikbud, hingga Kemenaker, merumuskan program pengembangan studi serta kurikulum pendidikan vokasi, khususnya terkait industri logam.

"Saya berharap ada kepaduan dalam merumuskan kebijakan ini, tidak bisa ada satu sektor yang merasa dirinya yang paling mengatur karena yang harus dikedepankan adalah kepentingan nasional. Jadi tidak bisa hanya bermuara pada kepentingan sektoral," ujarnya.

Reporter : Dimas Elfarisi
Editor : Nazaruli