• News

  • Peristiwa

Prabowo Jadi Ketum Gerindra,Denny:Semoga Bisa Nyalon Presiden Lagi,Gak Ada Bapak Gak Rame

Prabowo Kembali Jadi Ketum Gerindra.
Metrobali
Prabowo Kembali Jadi Ketum Gerindra.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Pegiat media sosial Denny Siregar memberikan ucapan selamat kepada Probowo Subianto yang terpilih kembali menjadi Ketua Umum Partai Gerindra Periode 2020-2025.

Denny secara khusus berdoa agar Prabowo bisa terus sehat hingga 2024 sehingga bisa mencalonkan diri lagi sebagai Presiden pada pemilu mendatang.
“Selamat, pak @prabowo jadi Ketum @Gerindra lagi. Moga2 nanti di 2024 tetap sehat dan bisa nyalon lagi. Gak ada bapak, gak rame,” tulis Denny Siregar di akun Twitternya, Senin (8/6/2020).

Prabowo sebelumnya sudah dua kali menjadi pesaing Presiden Joko Widodo di Pilpres 2014 dan 2019. Keduanya berakhir dengan kekalahan. Karena itu, berbeda dengan Denny, Direktur Eksekutif Fixpoll Indonesia Anas RA menyarankan agar Prabowo Subianto mengikuti jejak Ketua Umum PDI Perjuangan

Megawati Soekarnoputri setelah terpilih kembali sebagai ketua umum Partai Gerindra. Jejak yang dimaksud adalah tidak mencalonkan diri sebagai presiden pada pemilihan umum (pemilu).

"Jika Prabowo ketum Gerindra lagi sebaiknya mengikuti jejak Megawati yang meski jadi ketua umum partai pemenang pemilu namun tidak ego mencapreskan dirinya lagi. Harapannya Prabowo mendorong figur baru di pilpres 2024," kata Anas dalam keterangan persnya kepada media, Sabtu (6/6).

Menurut dia, Partai Gerindra memiliki banyak stok pemimpin di internal Gerindra, seperti Sandiaga Uno, Sufmi Dasco Ahmad, dan Edhy Prabowo. Di eksternal partai, ada sejumlah kepala daerah yang didukung Gerindra dan memiliki prestasi baik dalam memimpin seperti Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Gubernur Sumatra Utara Edy Rahmayadi, dan Gubernur Kalimantan Timur Isran Noor.

"Ini tergantung political will Prabowo," ujarnya.

Ia menambahkan, menjadi ketua partai terus-menerus memang tidak dilarang dalam UU Partai Politik. Hal tersebut juga diperbolehkan sepanjang AD/ART partai membenarkan.

Namun, menurut dia, tradisi mengultuskan tokoh tertentu di sebuah partai politik sebagai simbol partai ibarat dua mata pisau. Pertama, memiliki ketajaman magnet pemilih atau voters dan menciptakan kesolidan internal kader.

"Kedua, di sisi lain, mengiris luka turbulensi regenerasi, bahkan akan cenderung menciptakan oligarki dalam memimpin. Itu sebabnya budaya aklamasi dan patronasi pimpinan partai menjadi pilihan parpol di Indonesia seperti PDIP, PKB, Nasdem, Gerindra," katanya.

Reporter : Dimas Elfarisi
Editor : Sulha Handayani