• News

  • Peristiwa

Haris Sebut Pemerintah Hamburkan APBN untuk Buzzer, Netizen: Bela Wan Getar Apa Dong?

Direktur Eksekutif Lokataru Haris Azhar
foto: suara.com
Direktur Eksekutif Lokataru Haris Azhar

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Rezim pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) dituding menghamburkan uang rakyat dalam skema APBN membayar buzzer atau influencer untuk menggiring opini publik. Bahkan para buzzer juga ‘menyerang’ warga yang mengkritik kebijakan pemerintah di media sosial.

Berita tersebut masih menjadi sorotan waeganet. Akun Facebook @Mak Lambe Turah, Minggu (21/6/2020) membagikan tautan dan berkomentar: kalau begitu semua yang membela wan getar apa dong namanya ???

@Addnanto Djoko: Tambah siji maning wong edan dinegeri ini ndro....

@Amanda Sumarsono: Serah lu deh ria

@Etzel Gazali: Buzer untuk mengimbangi buzer sebelah. Kalau tidak diimbangi, malahan hancur negeri kita. Jadi biaya bukanlah masalah demi keselamatan negeri ini.


Sebelumnya dilansir Suara.com, Direktur Eksekutif Lokataru Haris Azhar menyatakan, tidak rela dana rakyat dari APBN digelontorkan untuk para buzzer yang bekerja untuk menyerang aktivis demokrasi dan HAM, bahkan peyidik KPK seperti Novel Baswedan di media sosial.

“Saya keberatan uang rakyat dibuang-buang untuk membiayai kelompok ini (buzzer). Dicek teman-teman masyarakat sipil, follower akun-akun anonim penyerang itu cuma 3, 6,” kata Haris dalam diskusi bertopik Riuh Keruh Media Sosial dan Kebebasan Berpendapat yang diselenggarakan Rekat Anak Bangsa, Sabtu (20/6/2020).

Haris menilai pemerintah kerap abai dalam menegakan hukum bagi warga negara yang membutuhkan keadilan. Namun ketika warga yang bersuara dan mengkritik pemerintah justru dikriminalisasi.

Seperti kasus yang dialami Ravio Patra, pegiat demokrasi dan HAM, akun WhatsApp nya diretas karena terlalu lantang mengkritik kebijakan pemerintah dalam penanganan wabah.

“Negara sekarang perannya kebolak balik. Ketika harus intervensi seperti proses penegakan hukum kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan negara tidak hadir. Tetapi ketika ada warga yang berjuang untuk keadilan, mengkritik malah negara mengintervensi,” ujarnya.“Jadi negara tidak bisa mengintervensi sampai 24 jam itu (kerja-kerja buzzer).”

Editor : Taat Ujianto