• News

  • Peristiwa

Anies Terbitkan Kepgub 237 Soal Reklamasi, GM: Pertahankan Kekuasaan Masih Pakai Isu SARA

Politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Mohammad Guntur Romli
Istimewa
Politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Mohammad Guntur Romli

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menerbitkan izin reklamasi untuk perluasan kawasan Taman Impian Jaya Ancol. Izin itu tertuang dalam surat Keputusan Gubernur (Kepgub) Nomor 237 Tahun 2020.

Kepgub yang ditandatangani pada 24 Februari 2020 lalu berisi tentang izin pelaksanaan perluasan kawasan rekreasi Dufan seluas lebih kurang 35 hektare (ha) dan kawasan rekreasi Taman Impian Jaya Ancol seluas lebih kurang 120 hektare.

Penerbitan izin reklamasi tersebut juga digunakan untuk membangun Masjid Apung dan Museum Nabi. Terkait penerbitan Kepgub tersebut, politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Mohammad Guntur Romli angkat bicara.

Guntur Romli mengkritik Anies terkait penerbitan izin reklamasi Ancol san Dufan. Menurut Guntur itu hanyalah permainan politik Anies untuk melanggengkan kekuasaannya, dan reklamasi digunakan hanya sebagai kedok saja.

“Jadi isu SARA sudah disiapkan Anies Baswedan? Kalau anti reklamasi Ancol akan dituduh anti masjid & anti museum Nabi gitu? Menang pake isu SARA, mempertahankan kekuasaan pun msh pake isu SARA, klau itu benar, benar-benar pengecut & licik” tulis Guntur di akun twitternya.

Sebelumnya Corporate Secretary PT Jaya Ancol (PJA), Agung Praptono mengungkapkan, sesuai dengan visi Ancol untuk menjadi kawasan rekreasi terpadu dan lengkap, maka akan sejumlah pengembangan di Ancol.

“Seperti penataan area pantai symphony of the sea yang progresnya sudah bisa dilihat untuk area stone dan pembangunan Masjid Apung,” jelasnya saat dihubungi IDN Times pada Rabu (1/7/2020) siang.

Selain itu, Agung mengungkapkan bahwa Pemprov DKI Jakarta dan Dewan Masjid Indonesia (DMI) memiliki kerja sama yang akan dilaksanakan di Ancol. Kerja sama itu untuk membangun museum Nabi pertama di Indonesia.

“Pembangunan Museum Nabi yang merupakan pertama di luar Arab Saudi,” jelasnya.

Reporter : Wahyu Praditya Purnomo
Editor : Nazaruli