• News

  • Bisnis

Tanpa Ragu, Disnaker Bintan Sebut 500 TKA akan Masuk dari China, Garap Smelter dan PLTU

Luhut Binsar Pandjaitan, Menko Maritim dan Investasi dalam kunjungan ke PT BAI di Kabupaten Bintan, Provinsi Kepri.
Humas Pemprov Kepri
Luhut Binsar Pandjaitan, Menko Maritim dan Investasi dalam kunjungan ke PT BAI di Kabupaten Bintan, Provinsi Kepri.

TANJUNG PINANG, NERTRALNEWS.COM - Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau menyatakan PT Bintan Alumina Indonesia (BAI) yang mengelola Kawasan Ekonomi Khusus di Galang Batang membutuhkan tenaga ahli dari China.

Kepala Disnaker Bintan Indra Hidayat mengatakan, jumlah tenaga ahli asal China yang akan bekerja di PT BAI sekitar 500 orang.

Mereka dibutuhkan untuk mempercepat penyelesaian pengerjaan proyek pembangunan pabrik smelter dan PLTU agar dapat beroperasi tahun 2021, seperti yang ditargetkan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut B Pandjaitan saat berkunjung ke lokasi proyek tersebut baru-baru ini.

"Kalau tidak ada tenaga ahli, pekerjaan PT BAI menjadi macet. Kalau pengerjaannya macet, tidak dapat beroperasi," katanya, di Bintan, Sabtu (4/7/2020).

Ia menegaskan, perusahaan itu tidak mungkin akan mempekerjakan tenaga ahli dari China bila tidak dibutuhkan. Pasalnya, biaya yang dikeluarkan cukup besar. 

Namun, hal itu harus dilakukan pihak perusahaan agar persoalan teknis yang membutuhkan keahlian khusus dalam pembangunan PLTU dan smelter dapat diatasi.

Tenaga ahli asal China pun tidak bekerja lama di PT BAI.

Sementara perusahaan dengan status penanaman modal asing ini semakin banyak mempekerjakan tenaga kerja lokal yang berkualitas bila sudah produksi.

"PT BAI ini seperti ayam yang bertelur emas bagi Bintan. Investasinya sangat besar, dan tenaga kerja yang dibutuhkan sangat banyak," katanya.

Pemkab Bintan dan PT BAI sudah menandatangani nota kesepahaman untuk mengutamakan tenaga kerja lokal bekerja di perusahaan itu. Nota kesepahaman itu berlaku selama lima tahun dan dapat diperpanjang.

"Tahun ini ada sekitar 700 orang tenaga kerja lokal yang terserap," tuturnya.

Direktur Utama PT BAI Santoni mengatakan tenaga kerja asal China yang dipekerjakan di perusahaannya memiliki keahlian, bukan pekerja biasa. Perusahaan tempat tenaga kerja asal China itu bekerja wajib menyelesaikan proyek di lokasi PT BAI.

"Tanpa tenaga ahli dari China itu, kami tidak yakin target penyelesaian pabrik smelter dan PLTU dapat selesai tahun ini," ujarnya.

Santoni mengatakan tenaga kerja asal China tersebut hanya bekerja sekitar 3-4 bulan, kemudian kembali ke negaranya. Ketika PT BAI sudah beroperasi, jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan sekitar 20 ribu orang.

"Saat perusahaan sudah melakukan kegiatan produksi, kami akan menambah pekerja secara bertahap hingga 20 ribu orang," katanya, seperti dilansir Antara.

 

Editor : Irawan.H.P