• News

  • Peristiwa

Terungkap! 4 Perusahaan Bakrie Disebut Ikut Andil ‘Gembos‘ Aset Jiwasraya

Kepala Divisi Investasi PT Asuransi Jiwasraya (AJS) Persero, Faisal Satria Gumay
Istimewa
Kepala Divisi Investasi PT Asuransi Jiwasraya (AJS) Persero, Faisal Satria Gumay

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Kepala Divisi Investasi PT Asuransi Jiwasraya (AJS) Persero, Faisal Satria Gumay mengatakan, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dalam hasil auditnya menyebut bahwa PT AJS berinvestasi di instrumen saham maupun reksa dana saham yang tidak berkualitas atau tidak memiliki potensi untuk bertumbuh optimal.

Hal tersebut disampaikan Faisal saat dihadirkan sebagai saksi oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam sidang lanjutan perkara dugaan korupsi pengelolaan keuangan dan dana investasi pada PT Asuransi Jiwasraya (Persero) di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Senin (13/7/2020). 

"Untuk produk reksa dana, Asuransi Jiwasraya memegang reksa dana saham, reksa dana pendapatan tetap dan reksa dana terproteksi," kata Faisal sembari menyebut beberapa saham yang ada dalam semua underlying instrumen reksa dana yang dipegang Jiwasraya, salah satunya adalah saham PT Prima Cakrawala Abadi Tbk (PCAR).

Berdasarkan analisa, lanjut Faisal, pada 2014 Asuransi Jiwasraya menempatkan dana di reksa dana saham yang produknya dibuat berdasarkan permintaan Jiwasraya dan mendapatkan kesepakatan bersama dengan Manajer Investasi. "MI diminta untuk membikinkan produk khusus untuk AJS," ujarnya.

Menurut Faisal, penurunan aset investasi pada reksa dana saham yang dimiliki Jiwasraya merupakan imbas dari kesepakatan-kesepakatan yang terjadi sejak 2014 tersebut. "Sekarang, kondisi reksa dana saham yang dipegang AJS itu adalah imbas dari acc (accord/kesepakatan) yang sebelum-sebelumnya," ungkap Faisal.

Analisa Faisal selaku Kepala Divisi Investasi Jiwasraya menemukan fakta bahwa ada 24 emiten yang sahamnya menjadi basis reksa dana milik Jiwasraya mengalami penurunan harga hingga menyentuh level terendah Rp50 per lembar alias saham gocap. "Dari 24 saham itu, ada dua emiten yang delisting dari Bursa Efek Indonesia (BEI)," terang Faisal.

Yang menarik dari fakta persidangan tersebut, terdapat empat emiten yang merupakan perusahaan dari Grup Bakrie, yakni PT Darma Henwa Tbk (DEWA), PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dan PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL).

Selain empat saham itu, Faisal merincikan bahwa saham-saham gocap berikutnya, antara lain BTEK, JGLE, SMRU, ARMY, ARTI, BIPI, BORN, CNKO, ELTY, HADE, IIKP, KBRI, MTFN, MYRX, RIMO, SIMA, SUGI, TRAM dan TMPI. 

"Dua saham yang sudah delisting adalah PT Cipaganti Citra Graha Tbk (CPGT) dan PT Sekawan Intipratama Tbk (SIAP)," jelas Faisal.

Reporter : Adiel Manafe
Editor : Sesmawati