• News

  • Peristiwa

Kemiskinan DKI Meningkat, FH: Gubernurnya Sibuk Banting Lidah, Rakyatnya Makin Miskin

Politisi Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean
Istimewa
Politisi Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Politisi Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean mengomentari sebuah judul berita "Corona, Kemiskinan dan Ketimpangan DKI Naik Paling Tinggi".

Ferdinand mengatakan dengan kondisi kemiskinan tersebut membuat masyarakat awam mudah dihasut untuk teriak anti pancasila dan menyalahkan pemerintah. 

Padahal mereka tak paham apa itu komunis dan apa itu Pancasila.

"Gubernurnya sibuk banting lidah, rakyatnya makin miskin. Dan kondisi kemiskinan itu membuat mereka bisa diarak teriak anti PKI bela Pancasila parahal mereka tak paham apa itu Komunis apa itu Pancasila.

Pantes Gub nya senang dgn kondisi sprt ini," tulis Ferdinand, Kamis (16/7/2020).

Cuitan Ferdinand pun direspon nitizen dengan berbagai komentar. Berikut komentar netizen yang terpantau netralnews.com.

@HarlemSulung: ntar juga sejahtera lagi kok kan bgi mereka agama solusinya, apalagi demonya itu 

@65buwal: Memanfaatkan rangorang tulul itu strategi, kewajiban untuk mencerdaskan bangsa tersingkirkan.

Ambisius 

@gi_pra: Semua Daerah warga nya makin miskin.presiden malah undang artis.

Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan kenaikan tingkat kemiskinan dan rasio ketimpangan (rasio gini)  DKI Jakarta paling tinggi di Indonesia pada Maret 2020. Peningkatan terjadi di tengah pandemi virus corona (covid-19).

Kepala BPS Suhariyanto mencatat tingkat kemiskinan DKI Jakarta meningkat 1,11 persen yaitu dari 3,42 persen pada September 2019 menjadi 4,53 persen pada Maret 2020. 

"Jadi ada tambahan penduduk miskin di mulai dari DKI Jakarta, Jawa, dan menyebar ke sana," ungkap Suhariyanto saat konferensi pers virtual, Rabu (15/7/2020) seperti yang dikutip dari CNN.

Sementara, rasio gini di ibu kota naik 0,008 poin dari 0,391 menjadi 0,3999 pada periode yang sama. Sebagai catatan,  rasio gini menggambarkan tingkat ketidakmerataan distribusi pendapatan penduduk. Koefisien 0 berarti pemerataan sempurna. Sebaliknya, koefisien 1 dapat diartikan ketimpangan sempurna.

Menurutnya, kemiskinan dan ketimpangan terjadi karena tekanan ekonomi akibat pandemi virus corona. Sebab, pandemi membuat pemerintah harus mengurangi aktivitas masyarakat, termasuk ekonomi yang kemudian mempengaruhi tingkat pendapatan.

"Hasil survei pendapatan seluruh masyarakat menurun, khususnya masyarakat berpendapatan rendah, di mana 7 dari 10 masyarakat pendapatan rendah di bawah Rp1,8 juta terpengaruh. Masyarakat pendapat tinggi di atas Rp2,7 juta juga turun pendapatannya," jelasnya.

Selain itu, DKI Jakarta merupakan kawasan perkotaan yang memiliki aktivitas ekonomi lebih tinggi. Imbasnya, ketika mobilitas masyarakat harus berkurang, dampak ke tingkat kemiskinan langsung terasa. Data mencatat secara total jumlah penduduk miskin di perkotaan naik dari 6,56 persen menjadi 7,38 persen.

Sementara di desa naik dari 12,6 persen menjadi 12,82 persen. "Peningkatan kemiskinan di perkotaan jauh lebih tinggi dari desa," jelasnya.

Di sisi lain, ia melihat hal ini juga tak lepas dari tingginya batas garis kemiskinan DKI Jakarta dibandingkan provinsi lain. Garis kemiskinan DKI Jakarta mencapai Rp680.401 per kapita per bulan dan Rp3,32 juta per rumah tangga miskin.

Sementara secara nasional, garis kemiskinan hanya berkisar Rp454.652 per kapita per bulan dan Rp2,11 juta per rumah tangga miskin.

Kendati begitu, DKI Jakarta bukan provinsi dengan tingkat kemiskinan dan rasio gini tertinggi di Indonesia. BPS mencatat tingkat kemiskinan tertinggi terjadi di Papua sebesar 26,64 persen pada Maret 2020.

Namun, tingkat kemiskinan hanya naik sedikit dari sebelumnya 26,55 persen pada September 2019. Sementara gini ratio tertinggi terjadi di Yogyakarta sebesar 0,434, namun kenaikannya masih lebih rendah dari DKI sebesar 0,06 dari 0,428 pada September 2019.

Beberapa provinsi dengan gini ratio yang juga tinggi, meski kenaikannya masih di bawah DKI Jakarta, yaitu Yogyakarta 0,434, Gorontalo 0,408, dan Jawa Barat 0,403.

Secara nasional, BPS mencatat jumlah penduduk miskin di Indonesia sebanyak 26,42 juta pada Maret 2020. Dengan jumlah tersebut, tingkat kemiskinan sebesar 9,78 persen dari total populasi nasional.

Jumlah tersebut meningkat dari 24,79 juta orang atau 9,22 persen dari total populasi pada September 2019. Lebih tinggi pula dari 25,14 juta orang atau 9,41 persen dari total populasi pada Maret 2019.

"Jumlah penduduk miskin naik 1,63 juta orang dari September 2019 dan naik 1,28 juta dari Maret 2019," pungkasnya.

Editor : Sesmawati