• News

  • Peristiwa

Tangkap Mafia ‘Robin Hood‘ dan ‘Sales Khilafah‘, DS: Secangkir Kopi untuk Polri

Denny Siregar
Istimewa
Denny Siregar

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pegiat media sosial, Denny Siregar, Selasa (4/8/2020) membuat catatan khusus tentang kasus penangkapan buronan kelas kakap kasus korupsi Djoko Tjandra (dalam tulisan Denny disebut dengan inisial JT) dengan judul "Bukan Kaleng Kaleng".

Ia menyebut Djoko Tjandra sebagai "Robin Hood" untuk para mafia hukum di Indonesia. Djoko Tjandra dikenal sangat royal terhadap para pejabat sejak era pemerintahan SBY. Ia dekenal sangat licin dan tak mudah ditangkap.

"Bahkan di Malaysia, JT dilindungi oleh pemerintahan lama disana. Ada informasi, JT ingin investasi membangun gedung tinggi di Malaysia, sehingga dia dianggap aset yang harus dilindungi meski di Indonesia dia koruptor. Jadi paham kan, orang ini bukan kaleng-kaleng..," tulis Denny di akun FB-nya.

Untuk itu, Denny mengacungi jempol terhadap kinerja Polri.

"Kalau Kabareskrimnya mata duitan, JT bisa lolos lagi ke luar negeri. Apresiasi untuk pak Listyo Sigit yang bisa teguh mengemban amanah Presiden untuk menangkap JT pulang ke Indonesia," ujarnya.

Selain mengacungi jempol kinerja Polri dalam kasus penangkapan Djoko Tjandra, Denny juga mengapreasi kasus penangkapan dua guru honorer di Kalimantan yang sebelumnya menyuarakan soal wacana "Khilafah".

"Selain Kabareskrim, saya juga ingin mengangkat secangkir kopi untuk Kapolda Kalimantan Selatan, Irjen Nico Afinta yang dengan berani menangkap dua guru honorer yang mengupload seruan2 khilafah di medsos mereka," tulis Denny.

"Apa yang dilakukan Kapolda Kalsel ini juga tidak mudah, karena dia mendapat tentangan dari banyak pengacara bahkan LBH dengan menangkap guru honorer itu," tegasnya.

Berikut catatan lengkap Denny Siregar:

BUKAN KALENG KALENG..

Menangkap Joko Tjandra itu bukan hal mudah...

Saya dengar, dia seperti "Robin Hood" buat para mafia hukum di Indonesia. JT royal bagi2 duit ke para pejabat dan aparat sejak pemerintahan SBY, sehingga dia bisa lolos dan kabur ke luar negeri. Kasus tertangkapnya pejabat kepolisian baru2 ini karena membantu JT, bisa jadi acuan betapa licinnya dia sehingga tidak mudah ditangkap.

Bahkan di Malaysia, JT dilindungi oleh pemerintahan lama disana. Ada informasi, JT ingin investasi membangun gedung tinggi di Malaysia, sehingga dia dianggap aset yang harus dilindungi meski di Indonesia dia koruptor. Jadi paham kan, orang ini bukan kaleng-kaleng..

Karena itu, gerakan Kabareskrim Polri Komjen Listyo Sigit Prabowo dengan melacak aliran uang JT dan kepiawaiannya bekerjasama dengan kepolisian Malaysia, harus diacungi jempol.

Kebayang bagaimana Kabareskrim harus menghadapi para pejabat dan aparat baik di Indonesia dan Malaysia, yang sudah "disiram" oleh JT.

Kalau Kabareskrimnya mata duitan, JT bisa lolos lagi ke luar negeri. Apresiasi untuk pak Listyo Sigit yang bisa teguh mengemban amanah Presiden untuk menangkap JT pulang ke Indonesia.

Tertangkapnya JT memulihkan nama baik Kepolisian RI yang sempat tercoreng akibat kasus suap yang melibatkan pejabat tinggi di institusi baju cokelat itu.

Selain Kabareskrim, saya juga ingin mengangkat secangkir kopi untuk Kapolda Kalimantan Selatan, Irjen Nico Afinta yang dengan berani menangkap dua guru honorer yang mengupload seruan2 khilafah di medsos mereka.

Apa yang dilakukan Kapolda Kalsel ini juga tidak mudah, karena dia mendapat tentangan dari banyak pengacara bahkan LBH dengan menangkap guru honorer itu.

Saya harus jujur, banyak kasus berkembangnya intoleransi dan gerakan khilafah ini di daerah2, karena kepolisian terkesan sungkan dan "tidak mau ribut" dengan ormas2 yang kerjaannya menekan pake massa. Mereka mungkin "takut dicopot" seandainya salah penanganan sehingga bisa membuat rusuh daerahnya. Apalagi kalau berurusan dgn propaganda khilafah.

Karena itu, keberanian Kapolda Kalsel dengan menangkap "sales2 khilafah" ini bisa dijadikan inspirasi kepolisian untuk mulai dengan tegas menangkap mereka sebelum menjadi besar. Dan semoga, pentolan2 sales khilafah nasional yang dulu tergabung di HTI bisa juga segera ditangkap supaya tidak meresahkan.

Saya tidak bisa berharap kepolisian kita bisa menjadi institusi sempurna dalam penegakan hukum. Tapi setidaknya, langkah Kabareskrim dan Kapolda Kalsel bisa menjadi momentum kebangkitan kembali aparat kita supaya bisa lebih profesional dalam menunaikan tugasnya.

Dan saya akan tetap setia menjaga marwah institusi kepolisian kita, karena jika bukan kita yang menjaga mereka, lalu kepada siapa lagi kita bersandar??

Saya harus angkat secangkir kopi malam ini untuk mereka, untuk Kapolri dan untuk seluruh jajaran kepolisian yang ingin institusi mereka bersih dan berwibawa..

Seruput..
Denny Siregar

Editor : Taat Ujianto