• News

  • Peristiwa

Anies Sebut Ekonomi DKI Minus 8,22%, MLT: Apa Ga Ada Koalisi Menyelamatkan Jakarta?

Gubernur Anies Baswedan
Facebook/Mak Lambe Turah
Gubernur Anies Baswedan

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Kabar kurang sedap datang dari Pemerintah Daerah DKI Jakarta. Gubernur Anies Baswedan mengungkapkan bahwa perekonomian Ibu Kota di kuartal II 2020 ternyata mengalami minus 8,22%.

Hal itu disampaikan Gubernur Anies melalui media sosialnya seusai menyimak penjelasan Badan Pusat Statistik (BPS) secara daring.

“Perekonomian Indonesia di kuartal Il ini turun 5,32% jika dibandingkan dengan tahun lalu, sedangkan Jakarta turun 8,22%, lebih dalam,” kata Anies di Jakarta, kemarin.

Menanggapi pernyataan Gubernur ANies, akun @Mak Lambe Turah, Kamis malam (6/8/2020) malah membuat cuitan bernada sentilan, katanya: "Apa ga ada Koalisi Menyelamatkan Jakarta ya???"

Sementara sebelumnya dilansir Media Indonesia, meski menyebutkan berita kurang mengenakkan tersebut, sayangnya Anies tidak menjelaskan secara detail soal data perekonomian Jakarta, seperti produk domestik bruto.

Ia hanya mengatakan bahwa sejak awal diperkirakan ekonomi Jakarta akan turun lebih dalam daripada nasional di saat krisis pandemi.

“Namun, juga diperkirakan bahwa saat wabah terkendali, ekonomi Jakarta termasuk yang akan rebound paling cepat, insya Allah,” klaim Anies.

Ia mengatakan adanya krisis kesehatan berdampak pada krisis ekonomi. Anies meminta warga tetap mematuhi protokol kesehatan selama beraktivitas di luar rumah.

“Kita harus disiplin membereskan sumber masalahnya, yaitu pandemi covid-19. Kita bagi tugas, rakyat jalankan 3M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak) kapan pun, saling mengingatkan untuk disiplin. Lalu, pemprov kerjakan 3T (testing, tracing, treatment),” pungkas Anies.

Jauh dari aman

Kepala Dinas Kesehatan DKI Widyastuti menuturkan Ibu Kota masih jauh dari kata aman soal penularan covid-19. Sampai kemarin pukul 13.25 WIB, jumlah kasus konfirmasi positif covid-19 mencapai 22.909 kasus.

“Kita belum aman. Covid-19 masih menjadi ancaman dan itu enggak mungkin selesai dengan jajaran kesehatan atau jajaran pemerintahan saja,” tegas Widyastuti.

Menurut data Dinas Kesehatan DKI, secara kumulatif angka positivity rate covid-19 ialah 5,5%. Angka itu memang masih di atas standar WHO. Widyastuti mengatakan, jumlah kumulatif itu terhitung dari Maret hingga Agustus ini.

“Standar WHO kurang dari 5%. Namun, secara kumulatif angka positive rate di Jakarta 5,5% sejak Maret sampai sekarang. Lebih tinggi dari WHO,” katanya.

Untuk saat ini, positivity rate DKI di angka 7,8%. Widyastuti pun membandingkan positivity rate DKI dan nasional dengan angka 12,67%. Diketahui, semakin tinggi angka positivity rate, angka penularan covid-19 tinggi juga.

Ia juga mengatakan, masih banyak warga Jakarta yang tidak menganggap covid-19 sebagai ancaman. Hal itu, sebutnya, dianggap menjadi tantangan bagi

Pemprov DKI yang selama enam bulan ini berjibaku menekan penularan kasus covid-19.

“Ternyata masih ada persepsi dari warga yang belum memahami dengan benar bahwa covid-19 itu masih menjadi ancaman. Masih menganggap covid-19 itu nanti selesai sendiri,” kata Widyastuti.

Editor : Taat Ujianto