• News

  • Peristiwa

Kontroversi Penghargaan Fahri & Fadli, YW: Sejak Kapan Penghargaan Berbau Cebong/Kampret?

Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya
Istimewa
Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pemberian bintang tanda jasa kepada duo politikus, Fahri Hamzah dan Fadli Zon, menuai kontroversi publik.

Pengamat politik Yunarto Wijaya (YW) lewat akun Twitternya @yunartowijaya, ikut menanggapi kontroversi ini. Menurutnya, publik seharusnya tidak protes atau nyinyir jika Fadli dan Fahri dapat penghargaan hanya karena dia suka nyinyir atau kritik Presiden Jokowi.

Yunarto menyarankan agar publik lebih mengkritisi kebijakannya.  

"Kok protes ke penghargaan gara2 yang dikasih adalah tukang kritik/nyinyir ke Jkw? Sejak kapan penghargaan berbau cebong atau kampret (partisan)? Mending kritisi apakah tepat bahwa pimpinan lembaga negara bisa lsg dikategorikan "berjasa" sehingga bisa otomatis dpt penghargaan..." tulis Yunarto di akun Twitternya, Jumat (14/8/2020).

Cuitan Yunarto langsung dapat tanggapan dari netizen @freddyths. "Ternyata aturannya sudah sejak 2010, lembaga negara boleh usulkan pimpinannya mendapat tanda kehormatan. Beberapa penerima kemudian berstatus nara pidana. Tapi tidak ada upaya mengkoreksi sesuatu yang ganjil dan mengganjal perasaan." 

Presiden Jokowi pun ikut angkat bicara mengenai hal ini. Melalui kanal YouTube nya,  Presiden Jokowi membeberkan alasan pemberian penghargaan tersebut. Menurutnya, kritik yang dilontarkan Fahri dan Fadli merupakan bagian dari demokrasi. Berlawanan secara politik bukan berarti bermusuhan.

"Bahwa misalnya ada pertanyaan mengenai Pak Fahri Hamzah, kemudian Pak Fadli Zon, ya berlawanan dalam politik, berbeda dalam politik ini bukan berarti kita bermusuhan dalam berbangsa dan bernegara," kata Presiden Jokowi melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden, Kamis (13/8/2020).

Inilah yang namanya negara demokrasi," lanjut dia.

Apalagi, pemberian bintang tanda jasa kepada Fahri Hamzah dan Fadli Zon telah dipertimbangkan secara matang oleh Dewan Tanda Gelar dan Jasa.

Maka, tidak ada alasan lain untuk tidak menganugerahi keduanya bintang tanda jasa.

"Penghargaan ini diberikan kepada beliau-beliau yang memiliki jasa terhadap bangsa dan negara dan ini melalui pertimbangan-pertimbangan yang matang oleh Dewan Tanda Gelar dan Jasa. Pertimbangannya sudah matang," lanjut Presiden Jokowi.

Reporter : Dimas Elfarisi
Editor : Sesmawati