• News

  • Peristiwa

Kelompok Rentan yang Terinfeksi Covid-19 Berisiko Badai Sitokin, Ini Arahan Kemenkes

Kementerian Kesehatan memberikan bantuan Alat Pelindung Diri berupa masker N-95 sebanyak 8.500 buah  kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan. Hal ini dilakukan sebagai bentuk dukungan pemerintah pusat  kepada daerah dalam pengendalian COVID-19. Selain masker N95, bantuan yang akan diberikan berupa APD  lengkap 3.050 paket, box pengiriman spesimen standar IATA 350 unit, dan virus transport media 57.000 buah.
Kemenkes
Kementerian Kesehatan memberikan bantuan Alat Pelindung Diri berupa masker N-95 sebanyak 8.500 buah kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan. Hal ini dilakukan sebagai bentuk dukungan pemerintah pusat kepada daerah dalam pengendalian COVID-19. Selain masker N95, bantuan yang akan diberikan berupa APD lengkap 3.050 paket, box pengiriman spesimen standar IATA 350 unit, dan virus transport media 57.000 buah.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Staf Khusus (Stafsus) Menteri Kesehatan (Menkes) Mariya Mubarika katakan, saat Pandemi Covid-19, berdasarkan data terbaru yang memiliki risiko kesehatan berat adalah kelompok rentan. Kelompok rentan yang terinfeksi Covid-19 dapat mengalami badai sitokin atau citokyne strome.

Tidak bisa diremehkan, badai tersebut dapat menyebabkan kematian. Adapun untuk orang muda dan sehat terinfeksi pun mayoritas tidak bergejala dan ringan. 

"Oleh karena itu strategi kita harus lebih selektif lagi, yakni melindungi kelompok rentan. Terapkan 3 M; memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan harus dilakukan oleh semua orang tanpa kecuali," kata Stafsus Mariya, seperti dalam keterangan tertulis yang Netralnews terima, Senin (21/9/2020).

Kata Mariya, sekalipun orang bukan kelompok rentan dan anak-anak perlu terapkan 3M. Pasalnya jika ada yang terpapar meskipun tanpa gejala bisa menularkan anggota keluarga yang merupakan kelompok rentan yang akhirnya mereka harus menghadapi risiko berat.

Pernyataan ini disampaikan saat Gubenur Kalimantan Selatan Sahbirin Noor menerima Mariya beserta rombongan yang ditugaskan dalam “Taks Force Tim IX” pengendalian pandemi Covid-19 pada provinsi angka kejadian tertinggi di Hotel Ratan Inn pada 17 September 2020 lalu.

Lebih lanjut dijelaskan, wacana strategi perlindungan terhadap yang rentan dalam diskusi tersebut direncanakan akan mengaktifkan infrastruktur sistem kesehatan yang sudah ada seperti posbindu untuk penyakit tidak melular dan program keluarga sehat PIS PK. 

"Saya menyarankan baiknya semua kelompok rentan dan juga ibu hamil diberikan fasilitas pemeriksaan PCR bisa dalam bentuk voucher dan digunakan ketika muncul gejala, sehingga lebih cepat kelompok rentan terdiagnosis lebih besar kemungkinan selamat," imbau Dokter Mariya.

Dokter Mariya menyampaikan apabila kepatuhan bisa 99 persen, maka dalam dua minggu saja kita dikatakan sudah bisa keluar dari masalah besar ini. Apalagi, dia juga tegaskan bahwa virus yang menginfeksi akan mati sendiri dalam 10-14 hari. 

Dijabarkan, virus yang menempel di lingkungan akan mati sendiri: di kertas / tisu 3 jam, plastik 3 hari, gelas/kaca 4 hari, uang kertas 4 hari, tembaga 4 hari, besi 2-3 hari, kayu 2 hari dan lainnya.

Artinya jika dalam 14 hari saja masyarakat bisa kompak melakukan 3 M dan membersihkan lingkungan yang sering dikunjungi dengan disinfektan maka populasi virus akan habis. Bahkan menurutnya, bisa jadi kasus tidak ada lagi. 

"Jadi kita perlu kekompakan bersama, pandemi ini mengajarkan kepada kita semua bahwa kita sebagai manusia saling bergantung dan sebagai satu bangsa harus bersatu untuk mengatasi pandemi," kata Dokter Mariya.

 

Reporter : Martina Rosa Dwi Lestari
Editor : Widita Fembrian