• News

  • Bisnis

Ternyata Ini yang Dicari Dunia dari Indonesia

Kopi Indonesia banyak diminati dunia internasional.
Kemenparekraf
Kopi Indonesia banyak diminati dunia internasional.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Menteri Perdagangan Agus Suparmanto mengajak berbagai pihak untuk mempromosikan produk indikasi geografis (IG) seperti kopi arabika gayo di pasar global, khususnya Uni Eropa. Untuk itu, kolaborasi dan dukungan dari berbagai pemangku kepentingan diperlukan untuk meningkatkan ekspor kopi di tengah tekanan krisis global.

Hal ini disampaikan Mendag saat membuka acara Indonesia Coffee Week dan Coffee Tasting ofGayo Arabica Coffee yang berlangsungsecara virtual di Jakarta.

Turut Hadir dalam acara ini Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga, Duta Besar RI untuk Budapest Hungaria Dimas Wahab, Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darusalam Vincent Piket, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kasan, Inspektur Jenderal Kemendag Didid Noordiatmoko, Plt. Sekretaris DaerahAceh Tengah Arslan Abdul Wahab, Ketua ARISE Plus Marc Kwai Pun, Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan Perkasa Roeslani, Perwakilan Kementerian Hukum dan HAM,dan perwakilanMasyarakat Perlindungan Kopi Gayo(MPKG).

Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan melalui bersama Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, MPKG,sertaASEAN Regional Integration Support-Indonesia Trade Support Facility (ARISE Plus)Indonesia.

“Indonesia Coffee Week merupakan upaya bersama dalam mempromosikan dan meningkatkan kesadaran akan IGsebagai komponen penting untuk meningkatkan ekspor melaluibrandingdan pemasaran produk,” kata Mendag, dalam siaran persnya, Selasa, (22/9/2020).

Mendag menyampaikan, IG merupakan cirri khas produk di wilayah tertentu di mana kualitas, reputasi, atau karakteristik melekat dengan daerah asal produk serta memiliki faktor lingkungan geografis produk.

“Ciri-ciri tersebut meliputi faktor alam, faktor manusia atau kombinasi dari kedua faktor tersebut, yang memberikan reputasi, kualitas,dan karakteristik tertentu pada barang atau produk yang dihasilkan,” ungkapnya.

Dikatakan Mendag, Indonesia dan Uni Eropatelah memperkuat kerja sama ekonomi melalui ARISE Plus Indonesia. Kerja sama ini bertujuan untuk meningkatkan daya saing ekspor dan integrasi Indonesia dalam rantai nilai global. Saat ini, Indonesia dan Uni Eropadalam proses negosiasi Indonesia-EU Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA). Salah satu kesepakatannya adalah pertukaran registrasi produk IG sertamembuka jalan bagi pengakuan produk IG Indonesia di Uni Eropadan sebaliknya.

“Produk IGIndonesia merupakanpembawa identitas bangsa Indonesia di pasar Eropa. Kopi arabika gayo merupakan produk IGIndonesia pertama yang diakui Eropa sejak 2017. Diharapkandengan finalisasi IEU-CEPA iniberbagai jenis kopi dan produk IGlainnya dapatdiakui serta dilindungi di pasar Uni Eropa,”jelas Mendag.

Sementara itu, Dubes Vincent Piket mengatakan, perlindungan IGmerupakan hal yang penting, baiksecara ekonomi maupun budaya. Hal inidapat membantumenciptakan nilai bagi masyarakat lokal melalui produk yang berakar kuat pada tradisi, budaya,dan geografi.

“Uni Eropabangga memiliki sistem IGyang kuat dan mendukung perlindungan IGdi Indonesia. Kedua pihak telah bertukar daftar IG yang akan tertuang dalamIEU CEPAsetelah negosiasi selesai,” tandasnya.

Senada dengan hal itu, Dirjen Kasan mengungkapkan,produk IG berpotensi menjadi kontributor utama kinerja ekspor nasional. Untuk itu,diperlukan kesiapan data dan informasi yang lengkap sebagai faktor kunci sebelum melakukan promosi produk. Pengelolaan informasi produk IG sangat penting dan akan memudahkan pengambilan keputusan terkait promosi dan pemasaran, serta dalam menjalin kemitraan dengan pihak ketiga.

“Indonesia Coffee Week yang berlangsung pada 17—25 September 2020 dapat dimanfaatkan untuk mempromosikan kopi Indonesia. Diharapkan juga perwakilan perdaganganEropa dapatmemberiperhatian terhadap produk IG Indonesia, termasuk kopi arabika gayo, sehingga dapat menembus pasar global,”ungkap Kasan.

Kasan juga menyampaikan, untuk meningkatkan ekspor, Ditjen PEN juga melakukan berbagai langkah dan strategi. Langkah tersebut di antaranya,pertama peningkatan daya saing dan pengembangan produk/design ekspor seperti klinik produk ekspor dan design, kolaborasi kerja dengan disainer, sertaoptimalisasi Indonesia Design Development Center (IDDC).

Kedua, penguatan standar produk dan persyaratan internasional untuk meningkatkan akses pasar global melalui fasilitasi sertifikasi Hazard analysis and critical control points (HACCP), Good Manufacturing Practice (GMP),Halal, Organik serta Hak Kekayaan Intelektual (paten, merek, indikasi geografis, dan desain industri).Ketiga,pelatihan kepada calon eksportir baru, khususnya UKM, melalui program pendidikan dan pelatihan ekspor indonesia.

Di sisi lain. Plt. Sekda Arslan menyampaikan apresiasinya atas dukungan Kemendag dan Uni Eropayang telah membantu mempromosikan kopi arabika gayo sebagaiIG Indonesia sehingga diakui di EROPA.

“Diharapkan kerja sama ini terus berlanjut dan menghasilkan kontrak dagang serta dapat menyejarterakan eksportir dan petani kopi gayo di Aceh Tengah,” tutupnya.

Kopi arabika gayo merupakan salah satu kopi IG yang memiliki rasa dan ciri khas rasa yang telah dikenal dunia. Pada 2017, melalui bantuan dengan EU-Indonesia Trade Cooperation Facility (TCF, 2011—2016) kopi gayo mendapatkan status Protected Geographical Indications (PGI) dari Uni Eropa. Kerja sama bilateral untuk mempromosikan dan meningkatkan brandingkopi gayo berlanjut melalui program ARISE+Indonesia senilai EUR 15 juta (2019—2023). Ekspor kopi gayo berpotensi meningkatkan kontribusiterhadap ekspor kopi Indonesia, terutama ke pasar utama seperti Uni Eropadan Amerika Serikat.

Pada 2019, ekspor kopi Indonesia mencapai USD 883 juta, meningkat 8 persendibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat sebesar USD 815 juta. Selain kopi Aceh Gayo, program ini memberikan bantuan teknis untuk peningkatan kapasitas dan brandingkopi arabika Bali Kintamani, kayu manis Koerintji (Jambi), gula merah Kulon Progo (Yogyakarta), lada putih Luwu Timur (Sulawesi Tenggara), madu Sumbawa (Nusa Tenggara Barat),dan garam Amed (Bali).

Editor : Sulha Handayani