• News

  • Peristiwa

Usai Viral Foto Waduk Pluit Mengenaskan, Netizen: Kalo Bisa Puji2 Saja Komennya

Suasana Waduk Pluit yang mengalami pendangkalan di Jakarta, Selasa (11/6/2019)
Foto: Antara
Suasana Waduk Pluit yang mengalami pendangkalan di Jakarta, Selasa (11/6/2019)

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Viral kondisi waduk Pluit, Jakarta Utara yang kondisinya sempat "mengenaskan" telah ditindaklanjuti dengan upaya pengerukan dari Pemprov DKI Jakarta.

Namun, di sosial media, foto kondisi waduk Pluit sebelum dan sesudah era Ahok tetap masih beredar luas.

Akun FB @Mak Lambe Turah, Minggu (27/9/2020) membuat cuitan, katanya "pak anies lagi mumet, tolong komentarnya yang sopan2 semua, kalo bisa yang puji2 saja komennya."

Kondisi Waduk Pluit tergambar jelas dalam reportase garapan Lokadata.com melalui kisah seorang warga bernama Badruddin.

Ia berusaha mengingat-ingat. Pendangannya ia fokuskan hingga kerut di antara kedua matanya terlihat cukup jelas. Kepalanya ia posisikan menengadah ke langit. Tak lama kemudian, kata-kata itu ia keluarkan dari mulutnya.

"Pas zaman gubernurnya Anies (Baswedan), seingat saya belum pernah melakukan pengerukan sebelah sini," ucap Badruddin. Ketua RT 02, RW 17, Penjaringan, Jakarta Utara itu, tengah menggambarkan kondisi Waduk Pluit yang letaknya bersemuka dengan wilayahnya itu.

Hari-hari terakhir ini, kondisi waduk tersebut menjadi sorotan sejumlah media--pun media sosial. Pangkal bahasannya adalah, kondisi waduk yang namanya diambil dari sebuah kapal Hindia-Belanda, Het Whitte Paert, itu begitu memprihatinkan.

Kondisi waduk dalam kondisi hampir kering. Timbunan tanah bercampur berbagai jenis sampah terlihat dengan mata telanjang. Bahkan, lewat akun media sosial Twitter, Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia, Susi Pudjiastuti, sampai ikut berceloteh.

Sebenarnya, kondisi memprihatinkan tersebut tak terjadi pada seluruh sisi waduk yang memiliki luas sekira 80 hektare itu. Hanya sebagian--klaim Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta sekitar 30 persen--dari luas waduk yang mengalami kekeringan.

Tepatnya, yang sebelah selatan, berbatasan dengan tempat penampungan sampah sementara warga sekitar. Maksud Badruddin "yang sebelah sini" di atas, adalah wilayah bagian selatan waduk.

Meski demikian, menurut Badruddin, kondisi demikian memang baru kali ini terjadi sejak lebih dari 5 tahun lalu. "Zamannya Ahok (Basuki Tjahaja Purnama) dulu, begini juga. Tapi nggak sekering sekarang ini," kata Badruddin kepada Beritagar.id, Rabu (12/6/2019) kemarin.

Badruddin menceritakan, di zaman Ahok, sampah dan pasir yang mengendap di Waduk Pluit rutin dikeruk. Paling tidak, beko selalu tersedia di bibir danau. Kondisi ini juga terjadi saat Jakarta dipimpin oleh Joko "Jokowi" Widodo, yang saat ini menjadi Presiden RI.

Namun, di zaman Anies, intensitas pengerukkan tersebut menurun cukup jauh. Sepanjang ingatan Badruddin, baru kali ini Pemrpov melakukan pengerukkan Waduk Pluit di bagian selatan

"Zamannya Anies, kayaknya hanya sebagian yang dikeruk rutin. Sebelah sini (selatan), nggak. Baru kali ini saja dikeruk," katanya. "Soal perawatan lingkungan, jujur bagusan zamannya Ahok. Selalu ada yang ngeruk."

Polarisasi masyarakat pasca-Pemilihan Umum DKI Jakarta pada 2017 lalu, membuat saya tergelitik untuk menanyakan jawaban Badruddin apakah dipengaruhi pada sentimen politik.

Dia secara tegas mengatakan tidak. "Jujur di zamannya Ahok saya malah was-was. Karena banyak penggusuran kan? Kemarin saja rumah saya mau digusur," kata Badruddin. "Saya ngomong apa adanya."

Hal senada diungkapkan Bunga, sebut saja namanya demikian. Mengenakan pakaian seragam khas Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) DKI Jakarta, Bunga mengatakan, kondisi Waduk Pluit di zaman Ahok lebih baik.

"Di zaman pak Ahok, kondisi lingkungan lebih bersih. Nggak pernah waduk sampai kering begitu," kata Bunga kepada Beritagar.id (12/6).

Sedikit berbeda dengan jawaban Badruddin, menurut Bunga, proses pengerukkan Waduk Pluit sempat mandek. Sepanjang yang diingat Bunga, mandeknya proses pengerukkan mulai terjadi pasca-Anies menjadi Gubernur.

"Udah lama banget mandek. Ini aja karena lagi viral banyak beko (traktor) di sini, bisa lima sampai tujuh kali sekarang. Kemarin pak Walikota (Jakarta Utara) sampai ke sini" ucap Bunga.

Editor : Taat Ujianto