• News

  • Peristiwa

Usai Kritisi Kasus Warga Kristen Dilarang Ibadah, DS: Lega, Indonesia Akan Baik-Baik Saja

Denny Siregar
Foto: Berita Satu
Denny Siregar

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Foto selembar surat dari Kepada Desa Ngastemi, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto, melarang salah satu warga bernama Sumarmi yang beragama Kristen beribadah di rumah sempat membuat heboh warganet di sosial media.

Pegiat media sosial Denny Siregar membuat catatan panjang menanggapi hal itu di akun FB-nya, Minggu (27/9/20). Ia memberi judul catatanya "SEBUAH CERITA TENTANG SALIB."

Dalam catatan tersebut, Denny mengisahkan pengalamannya berteman dengan seorang Kristiani dan tak sedikitpun membuat imannya terpengaruh, apalagi kemudian ingin pindah agama, termasuk dalam memandang "salib".

"Saya sendiri heran, emang kenapa kalau ada lambang salib? Toh itu hanya simbol, keimanan itu ada dalam hati dan akal. Tidak akan mengubah apapun jika logika berfikir kita dalam meyakini sesuatu punya dasar pijakan yang kuat. Saya malah shalat di dekat salib itu dan tidak tiba-tiba iman saya bergetar dan mendadak pengen pindah agama hanya karena itu", demikian salah satu penggalan catatannya.

"Ketika membaca ada sebuah desa di Mojokerto, dimana Kadesnya melarang umat Kristen beribadah dan mendirikan rumah pake salib, saya ketawa.Umat beragama semakin kesini kuantitasnya semakin banyak, tapi kualitasnya semakin tipis. Mirip barang branded kw, yang harganya makin murah dan kwnya semakin berpangkat," lanjut Denny.

"Mungkin satu saat, kalau Kades di Mojokerto itu saya undang ke apartemen yang saya tempati, dia langsung lari. Takut liat salib yang tergantung di dinding. Seperti teman saya yang pada waktu berkunjung, dia lihat salib dan bertanya heran, 'Lu pindah Kristen ya??'" tegas Denny.

Ternyata, menurut Denny, dari unggahan tulisannya, ia memandang banyak respons positif. Ia pun masih optimis bahwa Indonesia akan baik-baik saja.

Di akun FB-nya, Senin (28/9/20) ia menulis: "Baca komen2 pengalaman mereka yg beda agama tapi tetap silaturahmi dengan hangat antar sesama, saya langsung merasa lega, kalau Indonesia akan tetap baik-baik saja.. Kalaupun ada riak2 kecil dalam berbangsa, itu bagian dari bumbu tanpa berpengaruh pada persatuan kita semua.."

Viral warga Kristen dilarang doa bersama

Sebelumnya dilansir Indozone.id, sebuah surat dari Kepada Desa Ngastemi, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto, yang melarang salah satu warganya yang beragama Kristen beribadah di rumah, viral di sosial media.

Kepala Desa yang bernama H. Mustadi menujukan surat tersebut kepada warga bernama Sumarmi di RT 03 Dusun Karangdami, Ngastemi.

Sumarmi diberitahukan bahwa telah diadakan musyawarah tingkat desa dan dihadiri oleh Kades, perangkat desa, Muspika, Kepala KUA, Ketua MUI Bangsal, umat Kristen dan perwakilan umat muslim Desa Ngastemi, untuk membahas pembangunan rumah yang dilakukan oleh Sumarmi.

Hasil musyawarah itu menyoroti pembangunan rumah tersebut mencirikan karakteristik rumah ibadah, salah satunya adalah memiliki salib. Hasil musyawarah mengizinkan Sumarmi membangun rumah untuk tujuan hunian.

Tapi, jika tujuannya adalah untuk membangun rumah ibadah Kristen, maka dilarang karena tidak memenuhi peraturan.

Jika Sumarmi ingin mendirikan rumah ibadah, maka harus memenuhi peraturan SKB Dua Menteri (Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama).

Warga juga melarang Sumarmi mengadakan kegiatan ibadah dan doa bersama umat Kristen. Mustadi mengklaim kegiatan itu menimbulkan keresahan warga Dusun Karangdami.

Jadi, demi keharmonisan antar umat beragama, maka Sumarmi tidak boleh lagi menggelar ibadah dan doa bersama di rumahnya.

"Dilarang melakukan ibadah dan atau doa bersama di rumah saudara Sumarmi yang ada di RT 03 Dusun Karangdami tersebut agar tercipta suasana harmonis kehidupan antar umat beragama khususnya di Dusun Karangdami," tulis surat tersebut.

Surat ini ditandatangani oleh Kades Ngastemi, H. Mustadi pada 21 September 2020.

Sekadar diketahui, SKB Dua Menteri mensyaratkan warga yang ingin mendirikan rumah ibadah sedikit paling sedikit berjumlah 90 orang. Selain itu, pembangunan rumah ibadah juga harus disetujui oleh 60 warga sekitar.

SKB Dua Menteri ini telah lama menjadi sorotan karena membuat warga minoritas tidak bisa leluasa mendirikan rumah ibadah, jika berada di daerah mayoritas.

Editor : Taat Ujianto