• News

  • Peristiwa

Politikus Busuk Teriak Gerakan Rakyat, Abu Janda: Rakyat Males Dengernya

Pegiat Media sosial, Permadi Arya atau dikenal Abu Janda
Istimewa
Pegiat Media sosial, Permadi Arya atau dikenal Abu Janda

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pegiat media sosial Permadi Arya alias Abu Janda menyindir kelompok yang gemar berteriak people power atau gerakan rakyat pada setiap momen menyerang pemerintah lewat aksi unjuk rasa. Menurut Permadi, dengan mengandalkan kalimat sakti itupun, tak banyak rakyat yang mengikuti ajakan Mereka. Alasannya Karena, mereka yang berteriak itu merupakan politisi busuk.

"Kalah pilpres teriak2 People Power (gerakan rakyat).. yang turun seuprit 

Sekarang UU Ciptaker juga sama teriak2 gerakan rakyat.. yang turun seuprit

Kenapa? karena yang teriak2 gerakan rakyat-nya Politikus busuk & ulama cabul doyan chat porno. Rakyat males dengernya bossss," tulis Permadi di akun Twitternya, Rabu (21/10/2020).

Sebelumnya, penolakan terhadap omnibus Law Cipta Kerja Terus berlanjut. mahasiswa dan buruh juga menyatakan akan kembali demonstrasi pada Selasa hingga Kamis, 20 sampai 22 Oktober 2020, yaitu BEM SI dan Gerakan Buruh Jakarta (GBJ). Semuanya mengusung sikap serupa yaitu menolak Omnibus Law, setelah undang-undang itu disahkan pada Senin, 5 Oktober 2020.

Koordinator Wilayah BEM Jabodetabek-Banten Aliansi BEM Seluruh Indonesia (BEM SI) Bagas Maropindra menyatakan bakal turun hari ini hingga 22 Oktober mendatang. Mereka kecewa terhadap Presiden Joko Widodo atau Jokowi yang belum mau menemui mahasiswa.

Pada demonstrasi sebelumnya Jokowi hanya mengutus Staf Khusus Presiden Aminuddin Ma’ruf menemui mahasiswa. “Ini aksi damai dan lepas dari semua tindakan anarkis sebagai perwujudan gerakan intelektual dan moral mahasiswa Indonesia,” kata Bagas lewat rilis seusai berdemo, Jumat, 16 Oktober 2020.

Koordinator aksi Gerakan Buruh Jakarta Supardi bakal bergerak bersama Gerakan Buruh Bersama Rakyat (GEBRAK) unjuk rasa hingga 22 Oktober mendatang. Mereka menuntut agar Presiden mengeluarkan Peraturan Pengganti Undang-Undang. “Kami minta aparat kepolisian tidak melakukan tindakan represif kembali kepada pendemo,” ujarnya pada Jumat, 16 Oktober 2020.

Selain itu, sebanyak 14 pimpinan organisasi kemasyarakatan di Jakarta Timur mendeklarasikan kesiapan menjaga kondusivitas wilayah saat demo UU Cipta Kerja di Istana Negara, Jakarta Pusat, hari ini.

Deklarasi dipimpin Kepala Polres Metro Jakarta Timur Komisaris Besar Arie Ardian di Gelanggang Olahraga (GOR) Otista, Jatinegara, Senin, 19 Oktober 2020. "Kami telah membentuk wadah untuk ormas-ormas di Jakarta Timur bernama Koordinasi Ormas Besar Jakarta Timur, sehingga kalau ada yang berpotensi, segera koordinasi," kata Arie.

Belasan pimpinan ormas diberi pengarahan seputar semangat nasionalisme serta sejumlah peraturan dalam aktivitas penyampaian pendapat di muka umum. Sejumlah ormas yang hadir di antaranya Forum Betawi Rempug (FBR), Pemuda Pancasila (PP), Forum Komunikasi Anak Betawi (Forkabi), Laskar Merah Putih (LMP), GP Anshor, hingga Badan Pembina Potensi Keluarga Besar ( BPPKB) Banten.

Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya mengimbau pengguna kendaraan untuk menghindari kawasan Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Selasa, 20 Oktober 2020. Polisi menyiapkan rekayasa lalu lintas sehubungan dengan demonstrasi yang melibatkan sejumlah elemen masyarakat.

"Arus lalu lintas menuju Istana Merdeka akan ditutup total dan dialihkan," kata Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Sambodo Purnomo Yogo di Jakarta.

Massa demonstrasi dijadwalkan berkumpul di kawasan Taman Pandang, Jalan Medan Merdeka, Jakarta Pusat, pukul 10.00 WIB untuk menyampaikan penolakan terhadap UU Cipta Kerja.

Reporter : Dimas Elfarisi
Editor : Sesmawati