• News

  • Peristiwa

Ayo Liburan meski Ada Ancaman dari DKI, DS: Kecilnya Sering Diancam, Biar Dia yang Phobia

Denny Siregar
Foto: Istimewa
Denny Siregar

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Sebagian masyarakat merayakan liburan Hari Raya Maulud Nabi dan cuti bersama dengan rekreasi keluarga meski sempat ada imbauan agar tidak keluar kota untuk menekan penyebaran corona.

Menanggapi hal tersebut, pegiat media sosial Denny Siregar membuat cuitan panjang yang diunggah di akun FB-nya, Kamis (29/10/20).

"Libur panjang ini memang bagian dr strategi pemerintah untuk mengalirkan ekonomi ke daerah2. Semua harus belanja. Jangan lagi uang hanya disimpan di Bank atau dibawah bantal," ujar Denny.

"Baru kali ini saya senang mendengar kata macet. Berarti orang sudah pada keluar. Sudah mulai belanja. Dan harapan ekonomi kita mampu bertahan, semakin kuat," imbuhnya.

"Sementara di Jakarta, Gubernurnya terus ketakutan. 'Nanti gua tarik rem darurat..' Ancamnya."

"Begitu terus hidupnya. Penuh ancaman. Mungkin dulu kecilnya sering dapat ancaman. Jadi kebawa sampe sekarang. Mari kita bahagia. Biar dia yang phobia," tegas Denny

Berikut catatan lengkap Denny Siregar:

AYO LIBURANNNNNNN..

Dari kemaren dapat laporan dari teman2..
"Disini macet parah !"
"Lu jangan kemari deh, gua kejebak udah 7 jam.."

"Ampuuunn... Orang2 pada mau kemana sih ? Ini mobil kok plat B semua ??"
Libur panjang. Sejak Selasa orang2 sudah bersiap untuk liburan. Rabu mereka berangkat, bergerak bersama. Ketemu disatu titik, terjadi penyempitan.

Apalagi gajian udah ditangan, perusahaan2 mempercepat gajian supaya semua orang keluar dari kota, pulang ke desa dan penuhi daerah wisata.
Pemerintah juga keluarkan dana besar, model BLT. Uang harus ada ditangan masyarakat. Cash. Dibelikan sesuatu supaya beredar. Aliran uang dalam ekonomi itu seperti darah di tubuh kita. Harus mengalir terus menerus. Kalau mampet, stroke negara.

"Wah, nanti Corona menyebar ? Gawat ini !!"
Begitu teriak seorang teman, kelas menengah atas, yang sudah melockdown dirinya hampir setahun, dengan makanan melimpah ruah di dalam kulkas, dan kemampuan bertahan hidup sampai 20 tahun ke depan.

Tapi rakyat kecil gak bisa begitu. Hidup mereka bahkan dihitung dari jam ke jam. Sejam gak kerja, keluarga sehari gak bisa makan. Mereka harus bergerak. Corona ? Ah, itu hanya ketakutan. Tangisan anak gua karena lapar, itu lebih menakutkan.

Pemerintah terus bergerak. Vaksin dibeli dengan dana triliunan rupiah. Disebarkan ke seluruh rakyat Indonesia.

Apakah vaksin itu akan berhasil menyembuhkan? Bukan itu yang terpenting. Yang penting adalah keyakinan, bahwa penyakit bisa dihadang dengan obat2an. Kalau rakyat sudah merasa ada pengaman, maka mereka berani keluar. Ketika mereka keluar, kembali bekerja, aliran darah ekonomi akan kembali mengalir deras.

Libur panjang ini memang bagian dr strategi pemerintah untuk mengalirkan ekonomi ke daerah2. Semua harus belanja. Jangan lagi uang hanya disimpan di Bank atau dibawah bantal.

Baru kali ini saya senang mendengar kata macet. Berarti orang sudah pada keluar. Sudah mulai belanja. Dan harapan ekonomi kita mampu bertahan, semakin kuat .

Sementara di Jakarta, Gubernurnya terus ketakutan. "Nanti gua tarik rem darurat.." Ancamnya.

Begitu terus hidupnya. Penuh ancaman. Mungkin dulu kecilnya sering dapat ancaman. Jadi kebawa sampe sekarang.
Mari kita bahagia. Biar dia yang phobia.

Seruput kopi dulu ah...
Denny Siregar

Editor : Taat Ujianto