• News

  • Pendidikan

Budaya Baca Rendah, Ini yang Dilakukan Penerbit

Formaci targetkan terbit buku 50 tiap tahun.(Dok: Formaci)
Formaci targetkan terbit buku 50 tiap tahun.(Dok: Formaci)

Berita Terkait

SEMARANG, NETRALNEWS.COM -  Upaya mencerdaskan bangsa, Forum Muda Cendekia (Formaci) menargetkan setiap tahun menerbitkan 50 buku.

Direktur Utama Formaci Hamidulloh Ibda menjelaskan, Formaci sudah lolos jadi penerbit oleh Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI. 

Ia menegaskan, bahwa Formaci yang berdiri sejak 2012 , sudah melakukan berbagai kegiatan sosial. “Pada 2014, kita sudah menggelar Lomba Baca Puisi tingkat Nasional. Di tahun ini, karena kita prihatin dengan budaya baca di Indonesia, makanya kita fokus untuk menerbitkan buku dengan mendirikan Formaci Press,” tutur  Hamidulloh.

Dijelaskannya, bahwa era digital seperti ini, telah menggiring masyarakat lebih intens menonton televisi, bermain game, dan media sosial (medsos), baik itu Fecebook, Twitter, Instagram, dan layanan pesan seperti WhatsApp, Blackberry Messenger, Line dan lainnya. 

“Pengguna Facebook di Indonesia, dari data yang saya dapatkan, pada 2015 mencapai 82 juta orang dan sampai Oktober 2016 mencapai 88 juta pengguna. Sementara pengguna WhatsApp sebanyak 1 miliar pengguna, Messenger sebanyak 1 miliar dan Instagram sebanyak 500 juta pengguna,” tandas Hamidulloh.

Menurut Hamidulloh, data tersebut menunjukkan bangsa ini dalam peradaban medsos. “Ironisnya, budaya membaca di Indonesia rendah. Hasil survei Central Connecticut State University menempatkan Indonesia di peringkat 60 dari 61 negara terkait minat baca,” ujar penulis buku Demokrasi Setengah Hati tersebut.

Direktur Formaci Press, Dian Marta Wijayanti menegaskan bahwa Formaci Press, menargetkan menerbitkan buku sebanyak 50 dalam kurun waktu setahun. “Sebagai penerbit baru, tentu kita punya target minimal. Untuk tahun ini ya kira-kira 50 buku akan diterbitkan, baik itu dari guru, dosen, peneliti, budayawan bahkan mahasiswa.”

Dian menegaskan, banyak tema yang bisa dikaji dan diteliti untuk dijadikan buku. “Kita fokus tidak hanya tema pendidikan, namun juga budaya dan sastra. Makanya, yang paling inti semua syarat administratif di Perpusnas RI dipenuhi,” ujarnya.

Dia berharap dengan hadirnya penerbit Formaci Press akan menambah wahana bagi penulis, dosen, guru, budayawan untuk menggerakkan budaya literasi. “Bagi saya literasi pokoknya ya membaca, meskipun secara catur tunggal bahasa ada keterampilan lain, yaitu menulis, menyimak dan berbicara,” ujar Hamidulloh, dalam siaran persnya, Jumat (28/04/2017).

Guru SDN Sampangan 01 Kota Semarang ini juga mengatakan, bahwa saat ini masih digodok RUU Sistem Perbukuan yang nanti jika sudah final bisa mendorong literasi masyarakat Indonesia melalui cinta buku.

Sebagai pendidik, ia juga menyoroti budaya baca anak-anak juga rendah karena kalah dengan budaya menonton televisi. “USAID Prioritas pada Maret 2016 merillis rata-rata orang Indonesia melihat televisi perhari selama 300 menit, padahal di negara maju hanya 60 menit. Hasil penelitian Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2015 tentang kemampuan membaca siswa juga menyebutkan kemampuan membaca siswa di Indonesia berada di urutan ke-69 dari 76 negara yang disurvei,” tegas Dian

 

Editor : Sulha Handayani