• News

  • Nusantara

Akademisi: Mahasiswa Tolak Dialog dengan Presiden Tidak Selamanya Salah

Akademisi dari Universitas Muhammadiyah Kupang, Dr. Ahmad Atang, MSi
Media NTT
Akademisi dari Universitas Muhammadiyah Kupang, Dr. Ahmad Atang, MSi

KUPANG, NETRALNEWS.COM - Akademisi dari Universitas Muhammadiyah Kupang, Dr. Ahmad Atang, MSi mengatakan, dialog mahasiswa dan presiden adalah hal yang penting untuk mempertemukan pikiran antara mahasiswa dan negara.

"Sikap mahasiswa menolak dialog tidak selamanya salah, namun harus juga dipahami oleh mahasiswa bahwa, tanpa dialog maka tidak pernah akan ada pertemuan hati dan pemikiran antara mahasiswa dan negara," kata Ahmad Atang di Kupang, Kamis (3/10/2019).

Dia mengemukakan pandangan itu, berkaitan dengan sikap mahasiswa yang menolak untuk berdialog dengan presiden.

Dalam rangka merespons gerakan mahasiswa yang belum benar-benar redah, pemerintah telah membuka ruang dialog agar aspirasi mahasiswa dapat ditampung.

Namun niat pemerintah ini tidak mendapatkan tanggapan yang baik, justru mahasiswa mengambil sikap menolak untuk bertemu dan berdialog dengan presiden.

Dia menambahkan, dapat memahami sikap mahasiswa yang menolak bertemu dan berdialog dengan Presiden Joko Widodo, karena ketika ruang dialog dibuka, maka akan ada negosiasi kompromistis.

"Sehingga penolakan mahasiswa untuk dialog menurut saya hanya semata-mata untuk menjaga independensi dan kemurnian gerakan tanpa harus terkooptasi dengan kekuasaan," katanya, seperti yang dikutp dari Antara.

Menurut dia, perspektif seperti ini tidak selamanya salah, namun harus juga difahami oleh mahasiswa bahwa tanpa dialog maka tidak pernah akan ada pertemuan hati dan pemikiran antara mahasiswa dan negara.

Justru dengan dialog, kata dia, maka kesenjangan informasi akan tersambung, dan ruang dialog bukan untuk membungkam idealisme mahasiswa.

Mahasiswa sebagai aktivis, kata Ahmad Atang, mesti harus berwatak negarawan, yang juga harus mendengar pihak lain dalam hal ini pemerintah.

Dia mengatakan, mahasiswa tidak harus menggunakan manajemen "pokoknya". Mahasiswa yang benar sendiri dan yang lain salah semua.

Aspirasi tidak selama tersalur melalui gerakan sosial, namun dialog juga bagian dari penyampaian aspirasi untuk didengar dan ditindaklanjuti, kata Ahmad Atang menambahkan.

Mencermati tuntutan mahasiswa seharusnya aksi mahasiswa tidak berkepanjangan seperti ini, karena sebagian besar tuntutan tentang revisi undang-undang telah direspon oleh pemerintah.

Namun aksi belum juga surut, sehingga patut diduga ada apa di balik itu.

Publik bisa membangun asumsi jika gerakan mahasiswa tidak murni aspirasi, akan tetapi diboncengi dan dikendalikan oleh kekuatan besar sehingga mahasiswa pantang mundur sebelum keinginan sponsor tercapai. 

Editor : Sesmawati