• News

  • Opini

Political Stress Syndrome alias Sakit Jiwa Pasca Pilkada

Ilustrasi Pilkada Serentak 2018
Vote Indonesia
Ilustrasi Pilkada Serentak 2018

JAKARTA, NNC - Kenduri demokrasi pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak 2018 sudah usai digelar. Kenduri demokrasi pilkada kali ini diikuti oleh 171 daerah, yang terdiri dari 17 provinsi, 115 kabupaten, dan 39 kota. 

Jumlah paslon yang bertarung dalam perhelatan demokrasi tersebut sebanyak 440,  dengan perinciran dari jalur partai politik (parpol) dan 129 paslon mendaftar dari jalur perseorangan atau independen.

Dengan demikian, dari jumlah petarung dalam perhelatan atau kenduri demokrasi tersebut, hanya sedikit pasangan yang terpilih dan lebih banyak pasangan yang gagal. 

Pertanyaannya, bagaimana nasib pasangan yang mengalami kegagalan dalam pilkada? Bukankah biaya politik sekarang ini menyebabkan keluarnya cost yang tidak sedikit, mulai dari social cost, financial cost, dan tentunya psychological cost ekstra yang sangat besar.

Political Stress Syndrome

Bagi paslon yang menang, suka cita tentunya akan dirasakan. Namun untuk pasangan calon yang kalah tentunya yang dirasakan akan berbeda. Rasa kecewa sudah pasti tak terelakkan, tetapi kekalahan dalam pilkada juga dapat menimbulkan gangguan kesehatan mental, gangguan psikologis, sakit jiwa atau depresi. 

Dalam hal ini, depresi atau gangguan mental adalah ancaman yang sangat serius bagi pasangan yang kalah dalam pertarungan pilkada. Depresi alias gangguan jiwa adalah keadaan mental yang biasa dialami oleh mereka yang tidak bisa mengatasi kegagalannya dengan baik.

Kondisi gangguan kejiwaan (psychiatric disorder) itulah yang biasa disebut sebagai Political Stress Syndrome (PSS) atau Post-Election Stress Syndrom (PoESS).

Adalah suatu istilah yang memang belum terlalu dikenal dalam disiplin psikologi populer, tetapi cukup dikenal di kalangan jurnalis, penulis media/blog dan pengamat serta aktivis sosial atau politik.

Sindrom ini dialami, selain karena mengalami kerugian secara materi, juga karena merasa angan-angan dan harapan mereka untuk memperoleh jabatan, kehormatan, gaji yang tinggi  dan fasilitas yang berlimpah tidak tercapai alias pupus.

 Ekspresi dari sindrom pasca kenduri demokrasi itu terakumulasi dalam perasaan tertekan dan kosong setelah hari pencoblosan; sibuk membuka link internet tanpa tujuan, merasa lelah tanpa sebab yang jelas, perasaan terisolasi,  emosional, bicara kasar, agresif, suka melamun, kehilangan nafsu makan, sulit tidur, mimpi buruk, merasa kehilangan harga diri dan seterusnya. 

Dalam skala yang akut, sindrom dapat berupa dorongan tindakan bunuh diri, melakukan amuk publik (public tantrums), atau menghasut orang lain untuk berbuat kerusuhan, dan lain-lain.

Orang atau individu yang terkena sindrom ini kemungkinan dapat terlibat dalam kegiatan irasional impulsif, yang akhirnya dapat menyebabkan terganggu, bahkan hilangnya kehidupan sosial dan kehancuran ekonominya. 

Perlu dicatat bahwa orang-orang yang terlibat dalam pilkada itu bukan hanya paslon, tetapi banyak sekali, mulai dari anggota keluarga, hingga para donator dan simpatisan serta kerabat dan sanak famili.. 

Sehingga, kelompok yang terkait ini pun terjebak dalam situasi psikologis yang disebut histeria massa, panik dan hiruk-pikuk kegilaan yang tindakannya mereka tidak dapat secara dijelaskan secara rasional, yang ujung-ujungnya juga dapat menimbulkan kerusakan yang luas dan susah dikendalikan 

Masalahnya, tubuh para penderita gangguan jiwa atau sakit jiwa itu  akan mengeluarkan senyawa yang disebut sikotin dan interleukin yang dapat membuat irama jantung tidak teratur. Kondisi ini dapat menyebabkan gangguan irama jantung (aritmia) dan bila dibiarkan dapat berakibat fatal, bahkan hingga memicu terjadinya serangan jantung

Fakta di lapangan banyak politisi yang mengalami stress, depresi hingga bunuh diri karena gagal dalam pertarungan politik, bukan lagi sekadar cerita bohong. Pengalaman mengisahkan, beberapa di antara politikus hanya menjalani rawat jalan, namun ada juga yang harus dirawat dan menjalani rehabilitasi .

Semua itu, tentu merupakan suatu yang mengerikan dalam ranah politik demokrasi sekarang ini. Ngeri karena mahalnya demokrasi itu bukan saja menimbulkan kerugian materi, tetapi juga kerugian nyawa orang-orang potensial di negeri ini.

Solusi

Karena itu, yang diperlukan bagi para politikus yang kalah dalam pertarungan politik itu adalah keharusannya dalam menumbuhkan kembali kematangan intelektual, spiritual dan emosional. Inilah faktor kunci untuk keluar dari perangkap sakit jiwa politik. 

Karena kematangan intelektual, spiritual dan emosional sangat diperlukan sebagai  pemegang peranan kunci dalam menstabilkan dan meng-counter depresi atau gangguan kejiwaan atau gangguan mental. 

Kemudian, adalah menumbuhkan keikhlasan sikap dalam menerima kekalahan itu sebagai bagian dari perjalanan hidup insani. Ia harus ditumbuhkan bersama dengan penumbuhan kepercayaan diri. 

Itu lebih baik didukung dengan perilaku tidur yang cukup, makan yang teratur, olahraga, yoga, dan sejenisnya. Ini untuk mendapatkan kembali spirit atau semangat baru dalam menjalankan kehidupan ke depan.

Penulis : Thomas Koten
Editor : Firman Qusnulyakin