• News

  • Opini

Kompor Pemilu 2019: Komunis vs Khilafah, Masih Laku Keras

Simulasi penanganan kerusuhan Pemilu 2019
antarafoto.com
Simulasi penanganan kerusuhan Pemilu 2019

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pemilu 2019 yang akan diselenggarakan pada 17 April 2019 semakin medekat. Kewaspadaan perlu ditingkatkan seiring meningkatnya suhu politik akibat benturan pandangan antar kubu capres-cawapres.

Dan rupanya, salah satu pemicu memanasnya situasi karena adanya kompor yang dinyalakan oleh kedua kubu yang katanya, pemilu 2019 adalah pertarungan antara pendukung idiologi Komunisme dan pendukung idiologi Khilafah.

Persoalan Komunisme dan Khilafah sebenarnya sudah usang (dalam arti sudah berulang kali dibahas). Namun entah mengapa kedua idiologi ini masih begitu laku keras menjadi bahan kampanye untuk menarik dukungan antar kubu.

Maka, tak ada salahnya jika kali ini, kita membahas ulang persoalan yang usang namun masih laku keras itu.

Terakhir, pertarungan wacana tentang kedua idiologi itu dipicu oleh pernyataan Mantan Kepala BIN (Badan Intelijen Negara) Hendropriyono pada 28 Maret 2019 dalam suatu pernyataan pers.

Jenderal purnawirawan ini mengatakan secara terang-terangan bahwa pemilu 2019 adalah pertarungan antara Pancasila vs Khilafah. Dan masyarakat Indonesia dengan mudah bisa membaca maksud dari pernyataan tersebut.

Seolah-olah pasangan capres-cawapres 01 (Jokowi-Ma’ruf Amin) adalah pihak pembela Pancasila dan pasangan capres-cawapres 02 (Prabowo-Sandiaga Uno) adalah pendukung Khilafah.

Jika 01 menang maka Pancasila akan tetap tegak berdiri, sementara jika 02 menang, haluan negara Pancasila akan berubah kiblatnya.

Dan jagad medsos pun bertempik sorak dalam perang hashtag.Hashtag #PancasilavsKhilafah diluncurkan kubu 01, sementara kubu 02 membalasnya dengan hashtag #PKIvsPancasila. Keduannya terbukti masih laku menjadi kompor pemanas.

Pertanyaannya, benarkah pendapat itu? Apakah pemilu 2019 sesederhana itu? Ke arah mana semestinya bangsa Indonesia berkiblat?

Untuk pertanyaan pertama, sebenarnya sudah terjawab dalam acara debat keempat Pilpres 2019 yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada Sabtu (30/3/2019).

Jika terpilih menjadi orang nomor satu di Republik Indonesia, kedua capres berjanji untuk menegakkan Pancasila. Dan juga, keduanya tidak setuju dengan konsep Khilafah.

Sementara mengenai paham Komunisme, berulang kali sudah ditegaskan Jokowi bahwa itu adalah fitnah yang telah dihembuskan kepadanya sejak Pemilu 2014. Berulangkali pula ia menegaskan bahwa tuduhan tersebut tak memiliki bukti alias hoaks belaka.

Lagi pula, paham Komunisme adalah paham yang benar-benar sudah bangkrut dan tak perlu lagi ditakuti. Gagasan itu utopis dan terbukti gagal dalam menyejahterakan bangsa.

Negara-negara pelopornya, terutama Uni Soviet dan Cina, sudah menanggalkannya. Mengapa? Negara Komunisme ingin mengentaskan kemiskinan namun justru terbukti hancur oleh kemiskinan.

Lalu bagaimana dengan Khilafah? Benarkah ada masyarakat Indonesia yang masih ingin mengusung gagasan Khilafah? Benarkah mereka masih mencari celah untuk mengubah haluan negeri ini?

Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) sebagai pengusung konsep Khilafah telah dibubarkan oleh Pemerintahan Jokowi (capres 01).

Sesuai Perppu Nomor 2 Tahun 2017 tentang organisasi kemasyarakatan, organisasi itu dinyatakan sebagai organisasi terlarang.

Dalam perkara kasasi bernomor 27 K/TUN/2019 pada Kamis (14/02), hakim juga telah resmi menyatakan menolak gugatan HTI.

Jadi, organisasi ini memang sudah dilarang. Hanya saja, para penganutnya masih berkeliaran di Indonesia.Jumlahnya tidak sedikit.

Konon, kelompok ini merapatkan diri ke kubu 02. Lalu bagaimana? Bukankah capres 02, Prabowo Subianto sudah menyatakan tidak setuju dengan konsep Khilafah?   

Demikianlah bagaimana rumitnya dunia politik. Tunggang-menunggangi adalah hal biasa.

Sebagai capres hasil ijtima ulama, Prabowo berusaha membela Islam (membela pengusung ijtima ulama). Meninggalkan citra itu akan berdampat tidak baik dan rentan kehilangan suara.

Walaupun Prabowo tidak setuju dengan konsep Khilafah, namun ia bersedia merangkul para pendukung HTI. Mereka dipertemukan oleh kepentingan yang sama yaitu sedang menghadapi lawan yang sama.

Tapi tunggu dulu, bukankah bagi pengikut HTI ikut mencoblos dalam Pemilu adalah tindakan yang dilarang? Bukankah mereka menolak pemilu (sistem demokrasi) karena sistem dianggap sebagai sistem kufur?

Jika pendukung HTI tidak mencoblos, keuntungan apa yang akan diterima kubu 02? Di sinilah situasi menjadi abu-abu.

Dalam situasi yang serba samar-samar tersebut, bangsa Indonesia, baik pendukung 01 maupun pendukung 02 yang menghendaki Pancasila tetap sebagai idiologi pemersatu, hendaknya cermat dan waspada.

Para pendukung Khilafah akan senantiasa mencari kesempatan agar bisa kembali menyuarakan konsep Khilafah. Dan itu bisa dicapai melalui jalur resmi (diizinkan pemerintah) atau bisa juga dengan memanfaatkan situasi.

Apakah jalur resmi adalah sesuatu yang ditawarkan ke mereka oleh capres 02? Mungkinkah mereka mau bersabar dengan cara ini sementara obsesi mereka kian menggebu?

Atau, cara kedua? Mereka sedang menunggu kesempatan untuk bisa menawarkan konsep Khilafah? Bagaimana caranya?

Jika Pemilu 2019 gagal (ditandai dengan kerusuhan), maka di situlah kesempatan yang bisa mereka mainkan.

Bila terjadi kerusuhan, itu pertanda bahwa demokrasi adalah sistem yang gagal. Lalu bagaimana agar hal itu tidak terjadi?

Kedua kubu 01 dan 02 yang menghendaki Pancasila menjadi pemersatu bangsa harus bersatu padu agar bertindak sportif. Siapapun pemenang Pemilu 2019, harus tetap dihormati dan diterima.

Andaikata ada keberatan tertentu, antar kubu tetap harus sportif, konsisten, dan berkomitmen kuat untuk menyelesaikannya melalui undang-undang yang berlaku.

Ancaman Amien Rais yang akan mengerahkan massa (people power) jika ada kecurangan dalam Pemilu 2019 sehingga menyebabkan kubu 02 kalah, adalah wujud nyata memancing di air keruh. Semoga ancaman itu dilakukan secara tidak sadar.

Jika hal itu benar-benar terjadi, maka celah yang ditunggu para pendukung Khilafah akan tiba. Saat massa kubu 01 dan massa kubu 02 berada dalam situasi kekacauan, mereka akan menari dan bertempik sorak.

Editor : Taat Ujianto