• News

  • Opini

Mahalnya Kejujuran dan Bagaimana Jika Jokowi Mengalah Saja?

Ilustrasi Pilpres 2019
Netralnews/ Nuramar
Ilustrasi Pilpres 2019

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ada surat terbuka beredar di media sosial. Surat itu konon ditulis Jumiarti Agus, WNI yang tinggal di Jepang, Ketua Internasional ACIKITA, dan sekaligus pemerhati pendidikan. Ada beberapa hal menarik yang akan penulis gunakan sebagai titik tolak catatan ini.

Pertama menyoal tentang mahalnya kejujuran di negeri Indonesia. Nilai dasar dari tatanan hidup yang bermartabat, kian hari rasanya semakin menjauh pergi dan menghilang di awan gelap.

Kejujuran digadaikan oleh motif-motif demi merebut kekuasaan. Ketidakjujuran semakin merajalela terutama selama menjelang pelaksanaan Pemilu 2019.

Malangnya, walaupun pencoblosan surat suara sudah dilaksanakan pada 17 April 2019 lalu, tampaknya “kejujuran” belum juga mau pulang kembali.

Konon menurut Jumiarti Agus, dalam hal kejujuran, pelaksanaan pemilu di Jepang sangatlah jauh berbeda dengan apa yang terjadi di Indonesia. Pemilu di Jepang, berlangsung aman dan damai, tanpa ada hiruk pikuk kampanye, apalagi bagi-bagi sembako, uang, baju kaus dari pemimpinnya.

Bangsa Jepang terbiasa melihat kenyataan dan berfikir dengan logis. Dengan cara itu, mereka mampu memilih siapa calon pemimpin yang tepat. Saat pemilihan umum dilaksanakan rakyat berdatangan dengan antrian tertib untuk memilih calon yang mereka sukai.

Karena ketertiban dan tanpa kampanye yang tidak perlu, pemilu di Jepang tidak menghambur-hamburkan dana yang besar. Pemilu berlangsung efisien, tertib, aman, dan yang paling penting adalah jujur.

“Semua pihak berlaku jujur, pemimpinnya jujur, penyelenggara pemilu jujur, dan rakyat juga jujur memilih pemimpin yang dia sukai”, tulis Jumiarti.

Dengan demikian, siapapun yang terpilih merupakan pemimpin yang memang memenangkan suara rakyatnya dan dilandasi data yang jujur tanpa manipulasi.

Mengapa bisa demikian? Sebab, budaya dan mentalitas bangsa Jepang terbukti unggul dan berkualitas tinggi. Salah satunya karena ditopang sistem pendidikan yang didasarkan pada konsep dan kurikulum yang baik.

Dengan sistem pendidikan yang baik, moralitas dan karakter unggul ditanamkan sejak dini. Singkat kata, setiap generasi muda di Japang secara umum memiliki kepribadian yang jujur.

Dengan kepribadian jujur, banyak masalah sosial atau penyimpangan sosial dapat disingkirkan dengan sendirinya. Dengan jujur akan ada sportifitas.

Dengan kejujuran, prestasi dan kemajuan apapun bersifat kuat dan bukan semu. Dengan mental jujur, penyakit korupsi yang menggerogoti bangsa Indonesia akan terkikis.

Tepat jika sistem pendidikan di Indonesia harus benar-benar menjadi perhatian paling utama untuk membenahi silang sengkarut negeri ini. Pendidikan moral, akhlak, dan karakter jujur harus ditanamkan sejak dini.  

Dengan bangsa yang dilandasi kejujuran, hiruk pikuk kekacauan pemilu dalam soal sistem penghitungan suara dan maraknya penyebaran berita hoaks, semestinya tidak perlu terjadi. Kekacauan yang terjadi dalam Pemilu 2019 ini tentunya menjadi hal tidak baik di mata bangsa lain.

Sampai di sini, semua pemaparan Jumiarti Agus yang mengagungkan negara Jepang sebagai surganya WNI yang tinggal di sana, sementara menjadi ironisme bagi bangsa Indonesia, adalah sangat tepat.

Namun sayangnya, ia kemudian melompat dengan gagasan tentang tuntutan agar Jokowi mengakui kemenangan Prabowo, lengkap dengan sejumlah argumen.

“Pak Jokowi Yth, Legowolah, Pemilu 2019 Pak Prabowo Pemenangnya!” demikian tulis Jumiarti. Ia juga menambahkan, “Mari kita sudahi dengan dewasa proses pemilu tahun ini, karena sudah jelas nyata bahwa Pak Prabowo adalah pemenangnya.”

Jika Jumiarti Agus benar-benar seorang pengamat pendidikan, seharusnya tetap konsisten berpikir adil tanpa memihak (independen dan netral).

Ia semestinya konsisten mempersoalkan penyakit ketidakjujuran yang menghinggapi mentalitas bangsa Indonesia tanpa harus memihak salah satu kubu.

Mengapa? Selama proses menjelang pelaksanaan pencoblosan dan sesudah pencoblosan, masih kurangkah data tentang adanya praktik ketidakjujuran di antara kedua belah kubu capres-cawapres 01 dan 02?

Tidak ingatkah tentang praktik kebohongan yang dilakukan Ratna Sarumpaet yang begitu telanjang berusaha menggiring opini rakyat Indonesia agar mencitrakan keburukan di salah satu paslon capres-cawapres?

Tidak ingatkah penyebaran berita hoaks ibu-ibu yang masuk ke rumah-rumah dengan mengatakan pelajaran agama dan pesantren akan dihapus? Tidak ingatkah bahwa sebelum pemilu praktik ujaran kebencian telah menyeret sejumlah tokoh masuk penjara?

Namun, tulisan ini dibuat bukan semata-mata untuk menyanggah surat terbuka Jumiarti Agus. Tulisan ini bukan untuk membela kubu Jokowi atau ingin menjatuhkan kubu Prabowo sebagai capres Pemilu 2019.

Tulisan ini ingin mengajak semua pihak tetap berlaku jujur dan membiarkan proses tahapan pemilu 2019 bisa berlangsung dengan sebaik-baiknya. Kita harus yakin masih banyak orang Indonesia yang jujur yang tetap ingin memperjuangkan pemilu 2019 berlangsung dengan baik.

Kita juga berharap semoga “Roh Kejujuran” mampu memimpin setiap pejabat dalam lembaga Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Bawaslu sehingga Pemilu 2019 dapat dituntaskan tanpa konflik yang justru bisa membuat Indonesia berjalan mundur.

Yang terakhir, bagaimana jika Jokowi mengalah saja dan menyerahkan kemenangan Pemilu 2019 kepada Prabowo Subianto? Rasanya, pertanyaan ini tidak layak dan tidak tepat diajukan dalam konteks Pemilu 2019.

Pemilu jujur adalah keharusan. Namun bukan soal mengalah dan tidak mengalah. Dalam pemilu 2019, keharusan yang harus ditegakkan adalah kejujuran atas fakta dan data hasil suara pilihan rakyat.

Hasil suara Pemilu tidak boleh dimanipulasi. Data itu harus dikawal oleh semua pihak. Dan bila ada yang bertindak curang, maka ditandingi dengan fakta membongkar kecurangan itu.

Hingga akhirnya diperoleh rekapitulasi data KPI yang jujur. Dan proses itu sebenarnya sudah diatur dalam tahapan Pemilu 2019.

Ada pepatah Jawa yang berbunyi “wani ngalah luhur wekasane”, atau terkadang diucapkan “andhap asor, wani ngalah luhur wekasane”. Artinya “siapapun yang berani mengalah, ia lebih tinggi martabatnya”.

Ketika seseorang difitnah, artinya kehormatannya dinodai oleh praktik ketidakjujuran. Dalam kacamata falsafah Jawa di atas, maka ia diuji untuk berani mengalah dengan tidak melakukan praktik ketidakjujuran yang sama.

Ia lebih baik mengalah dengan tidak melawan dengan fitnah, namun melawan dengan menunjukkan data yang jujur.  

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?