• News

  • Opini

Stres karena Kalah Pemilu, Tontonlah Film Horor!

Ilustrasi menonton film horor
foto: klikdokter.com
Ilustrasi menonton film horor

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Penghitungan suara hasil Pemilu 2019 secara resmi oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), sebenarnya belumlah selesai. Artinya, perhitungan hingga saat ini masih bersifat sementara. Akan tetapi, ada sebagian caleg dan para pendukungnya, terlanjur stres lebih dulu.

Hal ini disebabkan karena dari hasil pemantauan internal dan hitung cepat menunjukkan kekalahan. Namanya pertandingan, tentu saja ada yang menang dan ada yang kalah. Bagi yang kalah, memang menyakitkan dan bila tidak kuat menerimanya, akan mengalami stres.

Dalam dua minggu terakhir, banyak beredar video dan berita tentang sosok caleg yang tiba-tiba berperilaku aneh usai mengetahui dirinya kalah. Hal itu sebenarnya merupakan fenomena psikologi yang wajar sebagai akibat tekanan batin yang harus ditanggung.

Caleg gagal memang bisa mengalami stres yang bisa digolongkan sebagai stres psikososial. Mengutip pernyataan DR. dr. Nurmiati Amir beberapa waktu lalu, stres psikososial terjadi ketika seseorang merasakan ancaman sosial dan merasa tidak dapat memecahkan masalah yang terjadi.

Hal itu disebabkan karena adanya pengalaman atau situasi yang penuh dengan tekanan (stresor) yang menyebabkan perubahan dalam kehidupan seseorang, sehingga orang tersebut terpaksa beradaptasi kembali untuk menyeimbangkan hidupnya.

"Berat ringannya skala stresor, tergantung pada persepsi seseorang terhadap stresor tersebut. Selain itu, kepribadian, daya tahan psikologis, pengalaman, dan kemampuan, atau keterampilan seseorang mengatasi stresor, juga menentukan," terang Nurmiati. 

Stres psikososial biasanya mencakup rasa ancaman terhadap status sosial, termasuk penghargaan sosial, rasa hormat, atau penerimaan dalam suatu kelompok. Hal ini kemudian direspon oleh tubuh yang bisa memengaruhi kesehatan fisik dan mental.

Akibat dalam jangka waktu tertentu, bisa beraneka rupa. Bila individu tersebut mampu bangkit dan beradaptasi pascakekagagalan, maka kesehatan fisik dan mentalnya akan berangsur pulih.

Akan tetapi bila tidak, dalam waktu tertentu bisa timbul obesitas, berkurangnya kesehatan mental (muncul perilaku aneh), memicu kanker payudara (kaum perempuan), dan sebagainya.  

Untuk itu, penting bagi siapapun yang mengalami stres psikososial. Ada banyak cara. Ia harus mampu move on dari kenyataan, misalnya dengan mengontrol emosi, tetap waspada dan tenang, mengubah persfektif kegagalan menjadi bersifat positif, dan sebagainya.

Dan dari sekian banyak cara agar mampu bangkit dari kegagalan adalah dengan “terapi” menonton film menyeramkan atau film horor. Menurut peneliti, menonton nonton film seram bisa berdampak positif dan menghilangkan stres.

Mengapa bisa demikian? Rasa takut yang dikelola dangan baik, sebenarnya bisa memengaruhi kesehatan seseorang. Kesehatan fisik dan mental orang yang mengalami stres pun bisa dipulihkan.

Margee Kerr, seorang sosiolog dan fear expert pada Time  seperti dikutip Tempo, pernah mengatakan, “Stimulasi negatif yang tinggi dapat meningkatkan mood seseorang secara signifikan.”

Saat mengalami rasa takut, neurotransmitter dan hormon yang berbeda akan dilepaskan. Stres merupakan energi yang tidak baik bagi tubuh sehingga harus dikeluarkan dari dalam sistem tubuh.

Salah satu caranya adalah dengan menonton film-film menyeramkan. Cara ini adalah cara paling mudah tanpa mengeluarkan banyak biaya.

Memelihara stres dapat menimbulkan malapetaka dalam jangka panjang. Tentu saja hal ini tidak diinginkan oleh siapapun.

Akan tetapi, perlu diperhatikan. Menonton film horor juga memiliki dampak negatif terutama bagi orang yang memiliki perasaan benar-benar benci dengan film horor, benci ketika ditakuti, dan tidak bisa menikmati kisah menyeramkan dalam film horor.

Bila Anda ternyata tergolong orang yang seperti itu, maka menonton film horor sebagai obat stres, tentu saja akan sia-sia. Menurut Kerr, menonton film horor untuk menjadi obat penghilang stres hanya efektif bagi orang-orang yang suka akan ketakutan.

Oleh sebab itu, bila Anda ingin menyarankan orang agar tidak stres usai Pemilu 2019, tetap harus memperhatikan tabiat orang tersebut. Bila ia tidak bisa “menikmati” rasa takut, janganlah dipaksa, sebab bukannya sembuh, ia bisa jadi malah semakin tertekan.

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?