• News

  • Opini

Panasnya Pemilu 2019 dan Sejuknya Ramadan Menguji Ketakwaan

Ilustrasi Rukyat Hilal
Foto: net
Ilustrasi Rukyat Hilal

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Puncak Pemilu 2019 berhasil dilalui bangsa Indonesia dengan relatif kondusif. Sudah selayaknya, segenap bangsa Indonesia mengucap syukur sebab pesta demokrasi bisa berlangsung tanpa konflik yang berarti.

Memang, secara resmi proses pemilu belumlah selesai. Penghitungan hasil suara yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Republik Indonesia masih akan berlangsung hingga tuntas sekitar tanggal 20 Mei 2019.

Kini tiba bulan baru yakni bulan Ramadan 1440 Hijriyah. Bangsa Indonesia, khususnya umat muslim secara bersama-sama akan menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Bulan Ramadan, bulan penuh berkah.

Berkah pertama-tama yang paling dirasakan adalah kesejukan bagi jiwa dan raga. Kondisi ini sebenarnya sudah muncul sejak umat muslim menyambut datangnya Ramadan.

Tradisi umat muslim menyambut Ramadan melalui aneka olah rasa, olah batin, olah spiritual, kumpul keluarga, “munggahi”, bermaaf-maafan, dan sebagainya telah memberikan hawa baru, laksana air yang tercurah di lahan kering dan tandus.

Ramadan selalu mengajak semua orang untuk tidak hanya menjalani hidup sekadar rutinitas. Persoalan ruhiyah dalam artian makna Idrak Shilah BilLaah, kesadaran akan hubungan dengan Allah, sangatlah penting.

Kesadaran inilah yang menguji dan bisa menjadikan seseorang hamba bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan kesadaran dan ketundukan menjalankan syariat, umat muslim diuji ketakwaannya dengan penuh ikhas.

Bulan Ramadan, umat muslim melakukan tirakat agung. Tidak hanya olah lahiriah melalui puasa menahan lapar dan hawa nafsu, tetapi juga olah batin untuk bercermin dan memperdalam relasi dengan sesama dan Tuhan.

Bagi kesehatan, Ramadan pun menjadi saat tepat memperbaiki cara hidup sehat sebab pola makan sangat erat kaitannya sebagai pemicu munculnya berbagai penyakit.

Bulan suci Ramadan akhirnya mengajak semua umat Islam untuk bergembira memohon berkah, rahmat, dan ampunan. Sebagai manusia yang lemah dan bergelimang dosa, sudah sepantasnya memohon ampunan-Nya.

Mungkin selama satu tahun lalu, telah melanggar perintah Tuhan dengan berbuat dosa terhadap diri sendiri, terhadap orang lain, maupun terhadap Tuhan sendiri.

Terlebih, selama proses Pemilu 2019, yang sempat diwarnai ketegangan, aksi saling melontarkan cacian kasar, menyebarkan berita bohong secara sadar maupun tidak sadar, mudah marah karena perbedaan pilihan politik, dan sebagainya.

Melalui Ramadan, kita semua diajak bercermin diri, instrospeksi, bertobat, dan memperbaiki diri.Momen Ramadan menjadi saat untuk refleksi dan mengukur kadar keimanan dan ketakwaan kita.

Benarkah kita sudah melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan larangan Allah dengan sungguh-sungguh? Apakah kita sudah menjadikan Alquran dan as-Sunah sebagai pedoman dalam memutuskan setiap perkara?

Bahkan, Ramadan pun bisa menjadi momen untuk menengok kembali tentang sistem politik, pemerintahan, ekonomi, pertahanan keamanan, pendidikan, kesehatan, sistem pergaulan. Apakah semua itu sudah berpedoman pada aturan Allah dan Rasul-Nya?

Semoga hasil dari permenungan agung selama tiga puluh hari ke depan bisa diterima dan menjadi berkah baik secara pribadi maupun bagi bangsa dan negara kita tercinta. Semoga Tuhan melimpahkan berkat pertobatan bagi kita semua. Amin.

Kepada segenap umat Islam, selamat menunaikan ibadah puasa di bulan suci Ramadan.

Editor : Taat Ujianto