• News

  • Opini

Tidak Ada Alasan bagi Aplikator Ojek Online Menolak Ketentuan Tarif Baru

Azaz Tigor Nainggolan
Foto: tagar.id
Azaz Tigor Nainggolan

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Kenaikan tarif ojek online yang mulai berlaku per 1 Mei 2019 mendapat tanggapan keberatan. Tanggapan tersebut meminta agar ketetapan tarif baru tersebut dikaji ulang atau ditinjau ulang. 

Alasannya adalah kajian  dibutuhkan agar tarif baru tidak memberatkan  penumpang dan tidak  beralih menggunakan kendaraan pribadi seperti sepeda motor.

Keberadaan ojek online saat ini memang sudah menjadi alternatif alat transportasi masyarakat guna menyiasati keterbatasan layanan angkutan umum selama ini. Artinya layanan ojek online ini sudah menjadi angkutan  kebutuhan bertransportasi masyarakat.

Tarif murah bukanlah alasan utama 1 ojek online sebagai alternatif. Nyatanya sejak tarif mahal hingga murah sebelum ada ketentuan tarif baru ojek online, masyarakat tidak pernah mempersoalkan.

Ojek online menjadi pilihan atau alternatif karena layanannya yang mudah, akses dan cepat.  Jadi alasan keberatan atas tarif baru ojek online yang akan membuat penurunan minat menggunakan ojek online jadi tidak tepat.

Memang pada tahap awal pemberlakuan tarif baru ojek online  dengan kenaikan rata-rata 40 persen dari tarif sebelumnya ada keberatan penumpang. Tetapi setelah dijelaskan oleh para pengemudi ojek online, para penumpang bisa menerima kenaikan tarif baru tersebut.

Menurut pengalaman beberapa penumpang juga terjadi perbedaan tarif mencolok diantara kedua aplikator yang ada sekarang ini. Para penumpang selaku membandingkan tarif dari kedua aplikator saat memesan layanan ojek online.

Secara tarif, ternyata tarif aplikator Grab Bike jauh lebih murah dari GoJek walau sama-sama menggunakan skema tarif baru yang ditentukan oleh Keputusan Menteri Perhubungan RI No KP 348 Tahun 2019 Tentang Pedoman Perhitungan Biaya Jasa Penggunaan Sepeda Motor yang Digunakan untuk Kepentingan Masyarakat yang Dilakukan dengan Aplikasi, yang berlaku mulai 1 Mei 2019 lalu.

Kebutuhan masyarakat terhadap layanan  ojek online  saat ini sangat tinggi karena menjawab kebutuhan alat transportasi yang akses, cepat, dan efektif.

Masyarakat menilai bahwa adanya Keputusan Menteri Perhubungan tentang tarif online sudah tepat guna membangun layanan ojek online yang berkeselamatan, akses dan cepat. Jadi kritik atau penolakan dari masyarakat sebenarnya tidak ada.

Masyarakat pengguna ojek online sadar bahwa tarif ojek online yang baru sudah wajar untuk menjawab kebutuhan layanan yang lebih baik dan berkeselamatan.

Tarif baru memberi keadilan bagi pengguna terutama pengemudi ojek online berupa pendapatan layak sehingga bisa merawat kendaraannya dan memberi layanan yang baik kepada penumpangnya.

Justru masyarakat pengguna dan pengemudi ojek online menekankan kepada aplikator menurunkan potongan komisi 20 persen yang sangat besar dari tarif yang dibebankan kepada penumpang.

Menurut masyarakat justru wajar para pengemudi mendapat pendapatan tambahan sekarang ini setelah adanya peraturan tarif baru ojek online.

Masyarakat mengatakan bahwa pengemudilah yang bekerja keras di jalanan dan menanggung semua resiko atas layanan yang diberikan kepada penumpangnya.

Pihak aplikator biasanya lepas tangan jika ada masalah atau kecelakaan di jalanan dan membebankan tanggung jawabnya kepada pengemudinya.

Ketetapan atau regulasi ojek online yang sekarang ini merupakan produk pembuatan yang melibatkan semua pihak hingga menjadi Keputusan Menteri dan Peraturan Menteri Perhubungan tentang ojek online seperti sekarang ini.

Dalam setiap pembahasannya pemerintah, dalam hal ini Kementerian Perhubungan, melibatkan dan dihadiri oleh kedua aplikator ojek online yakni GoJek dan Grab Bike.

Saya pun ikut terlibat secara aktif sejak awal pembuatan regulasi tentang ojek online serta penyusunan pedoman tarif bagi ojek online. 

Jadi tidak ada alasan pihak aplikator meminta meninjau ulang atau mengkaji ulang, apalagi menolak ketentuan tarif baru ojek online, karena mereka ikut terlibat aktif dalam pembuatan regulasinya. 

Jika memang para aplikator mau membantu pengguna ojek online dapat dilakukan menurunkan potongan komisi 20 persen jatah mereka menjadi 5 persen untuk 15 persen dikembalikan kepada penumpang.

Tidak perlu para aplikator meresahkan masyarakat soal regulasi tarif baru ojek online.

 

Penulis: Azas Tigor Nainggolan 

Analis Kebijakan Transportasi, Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), dan Ketua Koalisi Warga untuk Transportasi (KAWAT) Indonesia.

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?