• News

  • Opini

Antara Kesurupan dan Ancaman ‘Penggal Kepala‘ Jokowi

Pria berinisial HS yang mengancam akan memenggal kepala Jokowi
Netralnews/dok.buser
Pria berinisial HS yang mengancam akan memenggal kepala Jokowi

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Dalam Bahasa Inggris, kesurupan sering disebut juga trance. Namun, ada juga pendapat yang mengatakan bahwa kesurupan dan trance memiliki perbedaan. Tulisan ini bukan ingin membahas perbedaannya tetapi justru akan mengaitkan keduanya dengan fenomena ujaran kebencian.

Kesurupan

Dalam pandangan psikolog dan dunia medis, kesurupan atau trance tidak selalu berkaitan dengan kerasukan roh halus. Kesurupan juga bisa terjadi, baik di tengah situasi sedang fokus, relaks, menikmati sesuatu, larut dalam aktivitas massa, hingga terobsesi sesuatu.

Para psikolog menggolongkan kesurupan sebagai possesion syndrome atau possesion hysterical. Paham ini sedikit berbeda dengan anggapan tradisional di mana seseorang yang kesurupan dipercaya sedang dirasuki roh halus.

Kesurupan adalah reaksi kejiwaan atau reaksi disosiasi. Seseorang mengalami kehilangan kemampuan untuk menyadari realitas di sekitarnya itu.

Ada banyak penyebabnya. Bisa karena tekanan fisik maupun mental, sugesti, kepanikan massal, semangat meledak-ledak di tengah massa, dan sebagainya.

Sementara para ahli psikiatri menyebut fenomena kesurupan sebagai suatu perubahan mental dalam keadaan sadar, yang ditandai kepribadian yang mengalami pergantian identitas (muncul identitas baru) dan hal ini bisa terjadi secara berulang.

Kesurupan adalah gejala kejiwaan. Kesurupan merupakan fenomena refleksi terhadap kekacauan yang luar biasa di tengah masyarakat. Sayangnya, refleksi tersebut terkadang bersifat subjektif dan tidak mudah ditengarai tatapi timbul dalam perasaan seseorang.

Gejala kesurupan bisa berupa perasaan lemas, kepala terasa berat, penglihatan kabur, badan terasa ringan, ngantuk, atau justru muncul semangat atau gairah yang meledak-ledak.

Proses peralihannya sebenarnya masih disadari si subjek tetapi setelah itu, ia bisa saja tak mampu mengendalikan. Ada semacam kekuatan lain yang lebih kuat telah menguasainya. Ia sebenarnya sudah tidak menjadi seperti dirinya yang semula.

Tingkat kesadaran antara subjek yang satu dengan subjek yang lain juga berbeda-beda. Ada yang setengah sadar dan ada yang benar-benar tidak menyadari sama sekali tentang apa yang dilakukan.

Maka tak heran bila ada seseorang kesurupan, polah tingkah, ucapan, tindakannya seolah bergerak tanpa beban, agresif, bebas, bahkan bisa memiliki tenaga yang sangat besar.

Bila dibuat tahapan, maka setidaknya ada tiga stadium ketika seseorang akan mengalami kesurupan. Pertama, irradiation yakni proses peralihan dimana subjek sebenarnya masih menyadari adanya perubahan pada tubuhnya.

Kedua, being diside yakni ketika subjek telah berada dalam dua kesadaran, sebagian tidak disadari, sebagian lain masih disadari.

Ketiga adalah stadium incorporation yakni ketika subjek sudah benar-benar dikuasai oleh bukan dirinya lagi. Ia bisa saja tidak mampu mengingat apa yang diperbuat dan apa yang ada di sekitarnya.

Untuk menyikapi gangguan kesurupan, seseorang harus terlatih untuk terus meningkatkan kemampuan mengendalikan diri. Ia harus terlatih mengelola stres, konflik, emosi, daya pikir jernih, dengan cara-cara yang benar.

Ia juga harus membiasakan diri untuk mengembangkan kesadaran toleransi atas apa yang terjadi di dalam dirinya maupun di sekitarnya. Dengan sikap tersebut, kesurupan bisa tidak terjadi berulang.

Ancaman ‘Penggal Kepala' Jokowi

Beberapa hari terakhir, publik dihebohkan dengan adanya video tentang pemuda HS (25) yang mengancam akan memenggal kepala Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ia kemudian ditangkap oleh Jajaran Jatanras Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya di Perumahan Metro, Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Minggu (12/5/2019). 

Dalam pengakuannya kepada aparat, HS mengaku khilaf. "Iya, saat ditangkap dia ini mengaku khilaf," kata Kasubdit Jatanras Polda Metro Jaya AKBP Jerry Siagian.

Video yang viral itu diperkirakan terjadi saat HS mengikuti demonstrasi di depan kantor Bawaslu, Jakarta, pada hari Jumat (10/5/2019).

"Dari Poso nih, siap penggal kepalanya Jokowi. Insya Allah, Allahuakbar. Siap penggal kepalanya Jokowi. Dari Poso siap penggal kepalanya Jokowi. Jokowi siap lehernya kita penggal, dari Poso, demi Allah," ujarnya dalam video tersebut.

HS terancam dikenakan pasal Pasal 104 Kita Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan Pasal 27 ayat 4 junto pasal 45 ayat 1 UU RI nomor 19 tahun 2016 perubahan atas UU RI no 11 tahun 2008 tentang ITE.

Terlepas dari proses hukum, apa yang telah dilakukan HS, bisa jadi adalah bagian dari gejala kesurupan seperti telah dijelaskan di atas. Saat demonstrasi, ia mengalami kepribadian ganda, antara sadar dan tidak sadar.

Hal ini salah satunya dipicu oleh tingginya tingkat konflik di dalam dirinya akibat terlalu menghayati demonstrasi maupun saking kecewanya atas jalannya pesta demokrasi (Pemilu 2019).

Ditambah lagi maraknya praktik penyebaran berita hoaks dan ujaran kebencian yang semakin memperkeruh kepribadiannya. Bisa jadi pula, karena ia sebelumnya terkompori oleh pergaulan yang sering mengangkat kebencian terhadap orang yang semestinya dihormati karena merupakan sosok kepala negara (presiden).

Gejala kesurupan semakin kentara ketika ia ternyata tidak menunjukkan harga diri atau prinsip “radikal” layaknya orang yang terpapar paham radikalisme. Kesan dalam pernyataan “khilaf” cenderung ke arah “takut” dan  menyesal.

Bila kondisi seperti itu tidak dikelola dan HS tidak didampingi secara baik, bukan tidak mungkin akan mengulanginya atau kambuh. Untuk itu, kepolisian sebaiknya mencermati kecenderungan psikologis tersebut.

Editor : Taat Ujianto