• News

  • Opini

Bagaimana Kaum Ateis, Teis, dan Umat Non-Muslim Beri Ucapan ‘Selamat Lebaran’?

Ilustrasi tradisi Lebaran di Indonesia
foto: inews.id
Ilustrasi tradisi Lebaran di Indonesia

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ada satu tayangan di Youtube yang berjudul “Pengakuan Seorang Atheis Indonesia, Tuhan dan Agama itu Khayalan Saja” yang diupload sejak dua tahun lalu oleh pemilik akun bernama NewsChannel. (Tayangan itu bisa klik disini).

Isinya sebenarnya biasa-biasa saja namun dikemas dengan gaya yang mengandung ujaran kebencian yang dipastikan akan rentan mengundang kegaduhan yang tak perlu.

Benar saja, tayangan itu mendapat banyak sekali komentar dalam beragam gaya bahasa, mulai dari menganggap hal itu sebagai pengakuan seorang ateis (KBBI ditulis ateis bukan atheis) kampungan, dianggap lawakan, hingga ada pula yang menanggapinya dengan amarah dan membalas dengan ujaran caci maki tak pantas.

Apa yang menarik dari tayangan tersebut? Apa urusannya antara pernyataan orang yang mengaku ateis dengan kaum teis? Apa hubungannya dengan Lebaran atau Hari Raya Idul Fitri di Indonesia (dalam konteks di Indonesia)? Mari kita tengok bersama.   

Sejuta Aliran di Indonesia

Sejatinya, di Indonesia itu (bahkan di dunia) ada banyak sekali aliran dan kelompok manusia yang satu dengan yang lainnya. Biasanya orang menggampangkan dengan menggolongkannya ke dalam beberapa kolompok seperti teis, ateis, dan agnostik.

Sebagai gambaran, mari kita tengok secara sekilas.

Kaum teis umumnya diartikan sebagai orang-orang yang percaya atau mengimani adanya Tuhan, Dewa-Dewi, atau apapun istilahnya yang diyakini memiliki sifat Ilahiyah atau Penguasa dan Pencipta alam semesta.

Kaum ateis menunjuk pada orang yang tidak percaya akan adanya Tuhan dan pada apapun yang bersifat Ilahiyah. Mereka mendasarkan pendapatnya dalam anggapan tidak adanya bukti akan adanya Tuhan, terutama melalui pendekatan sains.

Sedangkan kaum agnostik menunjukan pada orang yang bukan teis maupun ateis. Mereka adalah kaum yang menyatakan diri bahwa akal budi manusia tak akan mampu memahami secara rasional tentang Tuhan. Oleh sebab itu mereka tidak berwenang membenarkan ada atau tidak ada Tuhan.  

Bagi mereka, pengetahuan tentang ada atau tidaknya Tuhan bukanlah persoalan terpenting. Mereka kemudian memilih menjalani kehidupan sesuai dengan cara hidup yang terlepas dari sistem kepercayaan dalam agama.

Bila kita telusuri mendalam, masing-masing kelompok itu sebenarnya juga ada banyak sekali ragamnya. Orang Indonesia yang mengaku ateis dengan kaum ateis di Belanda dijamin memiliki banyak perbedaan.

Orang Ateis di Indonesia kebanyakan jahil dan sibuk mengurus kaum lain seperti sosok dalam tayangan Youtube di atas. Kaum ateis di negara lain justru lebih banyak bersikap masa bodoh dengan kaum agamawan.

Contoh orang di luar Indonesia yang konon mengaku ateis antara lain pemenang Nobel ekonomi dari India yang bernama Amartya Sen. Juga ada tokoh Stephen Hawking, Albert Einstein, aktris Hollywood Angelina Jolie, serta Jodie Foster.

Dalam kalangan agnostik pun juga ada banyak ragamnya. Ada golongan agnostik-empirik dan ada juga golongan agnostik-humanis. Agnostik-empirik mengaku bahwa dalam pengalaman hidup manusia ada hal-hal yang tidak bisa diterangkan oleh sains.

Sementara agnostik-humanis menganggap persoalan Tuhan hanyalah masalah perdebatan antara manusia dan mereka tidak mau terlibat dalam kekisruhan itu. Persoalan itu bukanlah hal penting bagi kehidupan pribadi mereka.

Yang terakhir adalah kelompok teisme. Seperti kita ketahui, ada banyak sekali kelompoknya. Ada yang mengaku beragama dan ada juga yang mengaku beraliran kepercayaan asli (ada yang menyebut kaum pagan, animisme, dinamisme, dan sebagainya).

Bila dipecah-pecah lagi, sebenarnya masing-masing kelompok teis ini juga banyak sekali jenisnya. Ambil misalnya kaum pengikut Yesus Kristus (Kristiani). Ada Kristen Protestan yang jumlahnya ratusan, Katolik Roma, hingga Katolik Ortodok.

Penganut Islam pun ada banyak macamnya bahkan antar penganut Islam yang satu dengan lainnya kadang saling bertentangan hingga bunuh-bunuhan. Sama halnya dalam sejarah gereja Kristen dan Katolik di abad pertengahan.   

Apapun jenis dan nama kelompok teis, merekalah yang paling heboh dan paling sibuk dengan urusan kepercayaan terhadap Tuhan, mulai dengan mengadakan ritual untuk menyembah-Nya, berdoa dan memohon suatu berkah kepada-Nya, hingga “menggunakan-Nya” sebagai dalil-dalil idiologi politik.

Tradisi Lebaran di Indonesia

Pernahkah Anda mencermati tradisi Lebaran di Indonesia yang sangat unik itu? Selain adanya tradisi mudik yang mana tidak akan ditemukan di negeri Arab (tempat asal mula Islam), ada tradisi menarik lainnya.

Saat Lebaran berlangsung di Indonesia, yang ikut bergembira merayakannya sebenarnya bukan hanya umat Islam. Sudah tentu, umat Islam yang banyak ragamnya itu merayakan Idul Fitri atau Lebaran. Tidak hanya mereka sebenarnya.

Baik itu ateis, agnostik, maupun teis non-muslim ikut terdampak baik sadar maupun tidak. Bahkan, tak sedikit yang ikut merayakan Idul Fitri mulai dari sekadar ikut mengucapkan hingga memanfaatkan momen lebaran untuk menjual suatu produk tertentu.

Kaum agnostik yang menggeluti bidang perekonomian sebenarnya tidak memedulikan urusan Tuhan dalam perayaan Lebaran tetapi mereka melihat kebiasaan Lebaran di Indonesia selalu mengonsumsi daging, baju baru, menukar uang receh, uang mengalir ke desa, dan sebagainya.

Di balik semua itu ada peluang ekonomis. Kaum agnostik yang kebetulan seorang pebisnis tak mau berdiam diri, maka ia ikut meramaikan Lebaran dengan caranya sehingga memperoleh banyak keuntungan.

Lain lagi dengan umat non-muslim di Jawa yang merantau ke daerah lain. Saat Lebaran mereka ikut mudik dan silaturahmi ke saudara-saudara di kampung. Mereka seringkali juga ikut berkeliling mengucapkan selamat Hari Lebaran kepada saudara sekitar di kampungnya.

Itulah indahnya Lebaran di Indonesia bagi orang yang mampu melihat dari beragam segi dan memiliki jiwa toleransi serta penghargaan yang tinggi terhadap keberagaman cara hidup manusia di Indonesia.

Keunikan Lebaran di Indonesia laksana pelangi. Di dalamnya ada warna-warni yang menyatu dan elok dipandang. Akan tetapi, keindahan ini bisa jadi menjadi memuakkan di mata orang yang memang dalam hatinya tidak bisa melihat keragaman sebagai sesuatu yang indah.

Mungkin bagi orang yang menginginkan  dunia ini seragam dengan versi doktrin alirannya, menganggap pihak yang tidak sama cara hidupnya sebagai sesat atau kafir. Padahal, pelangi tak akan dinamakan pelangi bila menjadi satu warna.

Persaudaraan di Dunia

Apapun agama, aliran, teis maupun ateis, sudah semestinya diikat oleh jiwa kemanusiaan yang sama seperti dimuat dalam sila kedua Pancasila: "Kemanusiaan yang adil dan beradab." Sementara Soekarno dalam pidato 1 Juni 1945 menyebutnya “Internasionalisme atau Perikemanusiaan”.

Kemanusiaan yang otentik (kasih sayang, persaudaraan, perdamaian, memberi makan yang lapar, dan sebagainya) berlaku secara universal tak peduli beraliran apapun. Antar manusia saling menjalin pergaulan sosial dalam persaudaraan sejati.

Dalam konteks ini, perayaan Lebaran dalam tradisi di Indonesia sangatlah menarik. Melalui momen Lebaran, rakyat Indonesia bisa saling menjalankan prinsip persaudaraan sejati yang bersifat Universal.

Tentu saja, bagi umat Islam, Idul Fitri memiliki makna yang sangat mendalam sesuai ajaran yang dianutnya. Tetapi bagi non-muslim, pun sudah seharusnya ikut mengucapkan selamat Idul Fitri, ikut bergembira, menghormati, dan menghargai hari kemenangan saudara-saudarinya.

Mengapa? Dalam persaudaraan sejati, saudara yang satu melihat saudara lain merayakan kemenangan, sudah semestinya memberikan ucapan dan ikut bersukacita. Bukankah Lebaran adalah hari kemenangan umat muslim? 

Dalam konteks ini pula, sesungguhnya aneh bila ada tokoh masyarakat tertentu dengan berbagai alasan melarang saling memberikan ucapan selamat hari raya bagi pemeluk agama yang berbeda dengan apa yang dianutnya.

Dalam “Internasionalisme atau Perikemanusiaan”, sudah semestinya umat Kristiani mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri dan sebaliknya umat Islam mengucapkan selamat Hari Natal.

Sayang, niat berpijak pada persaudaraan sejati masih sering dirancukan dan dianggap sebagai bagian aliran “pluralisme” yang bisa mengancam agama tertentu.

 

Penulis: Ahmad Suteja

Pengamat Politik di Indonesia, tinggal di Bogor, Jawa Barat

Editor : Taat Ujianto