• News

  • Opini

Lagi, Anak Muda Pertontonkan Radikalisme Lolos dari Kontrol Keluarga

Ilustrasi Foto Teroris
foto: iStockphoto
Ilustrasi Foto Teroris

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Sekali lagi, bangsa Indonesia mengelus dada. Di tengah suasana menyambut perayaan Hari Idulfitri yang suci, seorang anak muda mempertontonkan aksi radikalisme yang tragis.

Usianya masih sangat muda. Dia adalah Rofik Asharudin (22) yang meledakkan bom di Pos Pantau Polres Sukoharjo di simpang Kartasura, Senin (3/6/2019). Dari hasil penyelidikan, aksi ini dilakukannya seorang diri (pelaku tunggal) atau "lone wolf".

Walaupun aksinya tidak mencederai aparat kepolisian sebagai target sasaran, namun dari polanya, patut diwaspadai bersama. Pemuda ini memiliki ambisi dan obsesi radikal yang cukup jelas dari awal.

Terbukti ia meracik bom dengan membeli komponen secara dicicil dari yang dimintakan pada orang tuanya. Di sini peran keluarga dan orang tua terbukti berhasil “ditembus” selama merancang aksinya.

Hasil penggeledahan yang dilakukan aparat di rumahnya yang terletak di Kranggan Kulon, Wirogunan, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah menemukan komponen yang sama dengan bom yang telah diledakkan. Lagi-lagi, aksinya berhasil “menembus” sistem kontrol keluarga.

Bom yang diracik “kebetulan” menggunakan bahan yang "low explosive" dengan bahan baku "black powder" dan diledakkan secara manual. Keahlian itu diduga diperoleh dengan belajar sendiri atau otodidak.

Dari mana dan mengapa Rofik Asharudin menjadi radikal? Ia ternyata menerima doktrin radikalisme yang berasal dari pencerahan-pencerahan yang dilakukan kelompok Al Baqhdadi.

Pelaku disinyalir telah dibaiat pada akhir 2018 setelah intensif berkomunikasi dengan pimpinan ISIS di Suriah melalui media sosial. Lagi-lagi, medsos menjadi cara ampuh penyebaran radikalisme.

Anehnya, pemuda ini ternyata juga sempat mengajak kedua orangtuanya agar mau dibaiat untuk ikut sebagai pelaku teror bom. Orang tuanya menolak ajakan tersebut.

Kepada aparat kepolisian, orang tua Rofik menyebutkan telah mengetahui aktivitas yang dilakukan anaknya bahkan sempat memperingatkannya. Ini adalah menjadi poin terpenting dari kejadian tragis menjelang Lebaran.

Peran keluarga adalah benteng pertama dan utama selain pendidikan formal. Orang tua menjadi pihak paling penting untuk mengawasi dan mengontrol bagaimana perilaku anak sehari-hari.

Selama disebut sebagai “anak” yang belum mandiri atau masih bergantung pada orang tua, mutlak membutuhkan pengawasan dan arahan orang tua. Dengan pemantauan yang cukup, dipastikan setiap perilaku janggal bisa diketahui jauh-jauh hari.

Dalam kasus ini, bahkan sang anak sempat mengajak orang tua untuk dibaiat. Jelas bahwa sudah terang-terangan menunjukkan perilaku menyimpang (radikal dan siap melakukan aksi teror). Pertanyaannya, mengapa tidak disikapi secara serius?

Siapapun dan di manapun yang terpapar aksi terorisme semestinya disikapi secara menyeluruh dan tuntas. Orang tua bisa bekerjasama dengan tokoh agama yang tepat agar anak bisa dibina secara baik secara bertahap.

Dalam kasus ini, program kontraradikalisme terbukti tidak berjalan dengan baik. Pihak keluarga, pendidikan formal, tokoh agama di lingkungan pelaku semestinya ikut bertanggung-jawab dan aktif mengatasi persoalan seperti itu.

Di titik terakhir, sudah semestinya pula pihak orang tua berani memutuskan untuk bertindak tegas dengan bekerjasama dengan aparat negara. Selain melalui kepolisian, sebenarnya juga bisa berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Di sisi lain, peristiwa ini kembali menjadi evaluasi BNPT agar mampu memberikan layanan informasi pengaduan bagi keluarga atau pihak-pihak yang menunjukkan indikasi telah terpapar ajaran radikalisme.

Penulis menduga ada unsur abai dalam kejadian peristiwa peledakan bom di Pos Pantau Polres Sukoharjo. Bila hal seperti itu terus dibiarkan, patut diwaspadai akan muncul sosok Rofik Asharudin lainnya.

 

Penulis: Ahmad Suteja

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?