• News

  • Opini

Mengapa Saya Ateis dan Mengapa Harus Ditolak?

Ilustrasi ateisme
Netralnews/Dok.Istimewa
Ilustrasi ateisme

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Ada yang berpendapat bahwa penganut ateis sebenarnya bukan menolak dan menyangkal keberadaan Tuhan. Ia hanya “kurang” percaya pada Tuhan.

Jadi mereka yang mengaku sebagai ateis berupaya menekankan kekurangan kepercayaan mereka pada Tuhan dan bukan penolakan untuk percaya. Mereka beranggapan bahwa ateisme lebih unggul secara intelektual daripada beriman pada Tuhan.

Sayangnya, definisi ateisme sering berbenturan dengan sudut pandang kitab suci sejumlah agama. Misalnya dalam Alkitab, yang menyatakan, “Orang bebal berkata dalam hatinya: 'Tidak ada Allah'" (Mazmur 14:1; 53:1).

Para penganut ateis beranggapan bahwa setiap manusia memiliki kebebasan untuk memilih kepercayaannya masing-masing. Dalam konteks inilah tulisan ini akan membahas ateisme sebagai pilihan hidup.

Mengapa menjadi ateis

Setidaknya ada beberapa alasan seseorang mengaku menjadi ateis. Pertama, karena ketidaksadaran. Bila sebagian justru karena memiliki pengetahuan yang mendalam, jenis penganut ateis justru karena merasa “miskin” akan pengetahuan yang benar.

Begitu banyak hal dalam kehidupan yang tidak diketahui manusia. “Kedunguan” atas ketidaktahuan seringkali melahirkan ide-ide baru untuk mengisi ketidaktahuannya. Mereka kemudian beranggapan bahwa agama adalah palsu.

Pengetahuan tentang Tuhan terkadang juga dicemari oleh hal-hal yang bersifat takhayul. Kisah dalam agama selanjutnya disetarakan dengan kejadian supranatural dan dongeng. Kebingungan muncul dan menyebabkan mereka memutuskan semua itu bukanlah kebenaran.

Penyebab lain adalah karena kekecewaan atas pengalaman buruk misalnya melihat banyaknya orang beragama tapi munafik atau karena sudah banyak berdoa tapi harapan tidak terkabul. Pengalaman itu lalu berujung pada kesimpulan Tuhan itu tidak ada.

Ketakutan terhadap ateisme

Di Indonesia, banyak orang yang takut terhadap "Kristenisasi". Lain lagi di Eropa yang konon takut "Islamisasi." Tetapi di Eropa, tak ada ketakutan atas “ateisisasi” (istilah ini tidak ada dalam KBBI tapi yang dimaksud adalah gerakan meng-ateis-kan).

Izinkan saya menyitir pengakuan dan catatan Rainny Drupadi dalam Kompasiana.com dalam artikelnya yang berjudul "Mengapa Saya Memutuskan Menjadi Ateis" (diupload 11 Juni 2010).

Izinkan pula saya menempatkan diri menjadi pihak Rainny Drupadi dalam mengungkakan dugaan bahwa kehidupan bisa jadi lebih baik tanpa agama atau kepercayaan apapun.

Menurut saya, ateisme nyaman dan membuat lega. Sayangnya, saya mengalami kesulitan ketika harus berhadapan dengan tekanan sosial dari masyarakat di Indonesia.

Anggapan sosial diperkeruh lagi dengan pendapat yang menyamakan ateisme dengan komunisme. Orang-orang yang ateis dan komunis dianggap seperti manusia paling hina di muka bumi.

Padahal, penganut ateis tidak otomatis tak beretika dan tak bermoral. Orang ateis tidak mendasarkan standar moral pada agama dan Tuhan. Orang ateis mendasarkan moral pada akal budi.

Proses perjalanan hidup dan pergulatan tentang Tuhan yang begitu rumit dan panjang membuat saya menjadi ateis tanpa dipaksakan oleh pihak lain. Pencarian arti hidup membawa saya pada nihilisme.

Saya pernah mendalami ajaran Islam dan rajin mengaji. Orang tua juga rajin membimbing saya untuk mendalami ajaran Islam. Seingat saya, salah satu keistimewaan dalam Islam adalah ketika seseorang bisa masuk surga. Sebaik apapun Anda, jika tidak menjadi muslim konon akan sia-sia.

Di bangku SMP saya mulai mempertanyakan Tuhan. Di sekolah saya mulai mempertanyakan konsep “Ketuhanan Yang Maha Esa”, termasuk soal “Bhinneka Tunggal Ika,” Di sisi lain saya sering terngiang, “Di akhirat, hanya Muslim yang bisa masuk surga.”

Saya juga sempat heran dengan munculnya berbagai agama dan sebutan “Tuhan”. Bila Tuhan hanya satu, mengapa aturannya beraneka rupa? Pertanyaan ini kemudian membawa jawaban yang mengatakan “semua agama memiliki pengajaran yang baik dan belajarlah mengikuti kata hati.”

Memasuki bangku SMA, saya mulai menjadi sosok peragu dan skeptis. Kira-kira pada usia 18, saya menjadi agnostik. Lalu, di usia 20 saya menjadi seorang ateis.

Menjadi ateis dan penolakan

Hanya ada kemungkinan kecil sekali Tuhan (beserta neraka dan surganya) ada. Secara ilmiah, Tuhan itu tidak ada. Ilmuwan tidak bisa membuktikan ada dan tidaknya Tuhan.

Dalam pencarian saya, sepanjang sejarah peradaban dunia, manusia selalu rindu pada sesuatu yang pasti. Hal itu laksana kebutuhan yang melahirkan sosok imajiner yang disebut Tuhan Yang Maha Adil, Maha Kasih, Maha Kuasa, dan Maha-Maha lainnya.

Sosok imajiner itu “diciptakan” manusia silih berganti. “Tuhan” yang diciptakan itu sebenarnya pernah berulangkali “dibunuh” dan ditinggalkan lalu diganti dengan yang baru.

Saya tidak menganggap orang beragama sebagai musuh. Tetapi saya heran mengapa mereka memusuhi pengikut ateisme. Saya tidak mau melakukan penyadaran pada orang lain untuk meninggalkan kepercayaannya (ateisisasi).

Tetapi saya berharap agar orang-orang yang menganut Ateis di Indonesia tidak melulu diperlakukan dan ditolak hak hidupnya. Saya prihatin dengan perilaku orang yang beragama tetapi melakukan justifikasi untuk melakukan penindasan.

Tantangan hidup manusia ke depan bukan soal agama atau tidak beragama serta bukan soal ber-Tuhan atau tidak ber-Tuhan.

Persoalan hidup manusia ke depan adalah bagaimana semua manusia, apapun agama, ras, LGBT atau bukan, perempuan maupun laki-laki, anak atau orang tua, apapun kebangsaannya, bekerja sama melawan segala hal yang menindas antara satu dengan lainnya.

Musuh lainnya adalah persoalan peradaban yang sadar maupun tak sadar menyebabkan kerusakan lingkungan sehingga kelak planet bumi terancam bukan lagi menjadi tempat yang aman dan ramah bagi kehidupan umat manusia.

 

 Penulis : Rahmat Winartono

 Sarjana Filsafat tinggal di Jakarta

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?