• News

  • Opini

Tari Memanggil Arwah Dinodai oleh Sabetan Parang dan Amuk di Hari Lebaran

Puluhan rumah hangus terbakar akibat bentrok antar warga dua desa di Buton, Sulawesi Tenggara
foto: tribratanews
Puluhan rumah hangus terbakar akibat bentrok antar warga dua desa di Buton, Sulawesi Tenggara

BUTON, NETRALNEWS.COM - Masyarakat Buton, Sulawesi Tenggara sesungguhnya memiliki budaya luhur yang bernama tari Lumense yang bermakna “memanggil roh untuk mengusir bencana.”

Tarian ini pernah digelar sebagai Festival Budaya Tua Buton pada bulan Agustus 2016. Kementerian Pariwisata turut mensponsori tarian kolosal dengan melibatkan 10 ribu penari di mana salah satu yang dipentaskan adalah tari Lumense.

Para penari terdiri dari pria dan wanita. Penari wanita mengenakan dress dan rok panjang, sementara penari pria ditandai dengan topi kerucut. Warna merah, kuning, dan hitam menjadi corak yang paling menonjol.

Musik pengiring tari Lumense adalah tabuhan gendang dan sejumlah alat musik tradisional lain khas Buton. Prosesi tari diwarnai adegan jalan zig-zag, gerakan-gerakan tangan, dan para pria memegang parang atau golok.

Ada adegan di mana penari pria akan menebas pohon pisang hingga putus. Usai pisang ditebas, para penari akan mengekspresikan kesan gembira. Itulah gambaran singkat tari Lumense.

Tari tradisional ini dipercaya masyarakat Buton sebagai simbol untuk memanggil dan memuja roh leluhur. Sejak awal, tari ini ditujukan sebagai permohonan agar desa atau daerah tempat tinggal mereka dijauhkan dari marabahaya.

Marabahaya bisa mengakibatkan bencana. Marabahaya ada banyak jenisnya seperti serangan orang-orang dari daerah lain, bencana alam, gempa, banjir, dan sebagainya. Prosesi pohon pisang ditebas adalah simbol bencana harus dicegah.

Sayangnya, tari itu telah dinodai. Bencana yang dicegah itu justru disebabkan oleh sejumlah pemuda yang lupa untuk menjaga pesan tari Lumense. Pasalnya, bencana telah terjadi karena diciptakan mereka sendiri.

Seperti telah diberitakan oleh sejumlah media, bentrokan meletus di Buton, Sulawesi Tenggara, pada hari Rabu (5/6/2019). Padahal, hari itu umat Muslim sedang merayakan Idulfitri atau Lebaran.

Selain menodai makna Lebaran, bentrokan ini juga mencoreng kerukunan hidup bersama khususnya antara warga Desa Sampuabalo dengan warga Desa Gunung Jaya.

Akibat bentrokan, dua orang tewas dan sekitar 871 warga harus mengungsi. Tidak hanya itu, puluhan rumah di kedua desa hangus terbakar akibat saling serang antara kedua kubu.

Melihat dari penyebabnya, rasanya sangat sepele. Konflik dipicu konvoi motor di malam takbiran oleh sejumlah pemuda Desa Gunung Jaya. Konvoi itu melewati jalan Desa Sampuabalo dan membuat warga Desa Sampuabalo merasa terganggu. Kemudian, terjadilah percekcokan.

Keesokan harinya, ada satu pemuda dari Desa Sampuabalo hendak berkunjung ke saudarannya di Desa Gunung Jaya dalam rangka Lebaran. Ia terkena panah di bagian dada kiri sehingga membuat teman-temannya marah.

Ratusan pemuda Desa Sampuabalo kemudian berkumpul lalu menyerang warga Desa Gunung Jaya. Mereka membakar sekitar 50 rumah, satu unit mobil, dan satu unit sepeda motor. Kerusuhan kemudian melebar dan antara kedua kubu saling serang.

Setidaknya tiga Satuan Setingkat Kompi (SSK) Brimob, dua SST Korem, dan satu SST Polres Bau Bau dikerahkan untuk mengatasi kerusuhan. Kapolda Sultra, Danrem, Bupati setempat, dan beberapa tokoh agama dan tokoh bergerak untuk meredakan situasi.

Namanya pemuda, saat berkelompok menjadi mudah emosional, ugal-ugalan, berkata tidak sopan, dan sebagainya.

Ketika ditanggapi oleh kelompok lain yang merasa terganggu, ulah mereka seringkali justru semakin menjadi-jadi. Parang yang dibawa-bawa, bukan lagi untuk menari tarian Lumense tetapi untuk menyerang orang lain.

Bahkan bom molotov pun digunakan untuk mengumbar amuk.  Yang mereka lakukan sudah bukan lagi sebagai kenakalan tetapi sudah menjurus kepada perpecahan.  

Apapun jenis kesalahpahaman yang menyebabkan bencana tersebut, semua patut menahan diri. Ini peristiwa yang sangat memprihatinkan dan harus diselesaikan secara tuntas. Keduanya harus mampu diarahkan untuk melakukan rekonsiliasi.

Sementara penyelidikan dan proses hukum terus berlangsung, para tokoh agama dan tokoh masyarakat patut melakukan upaya melalui pendekatan adat dan budaya sesuai yang berlaku di wilayah Buton.

Dengan cara itu, penyelesaian konflik bisa menyentuh kepada sistem kesadaran budaya yang lebih kuat. Nilai-nilai yang terkandung dalam Tarian Lumense harus diperkuat kembali.

Penari yang memegang parang bukan ditujukan untuk menjadi pemuda garang dan menyerang saudara sendiri. Tarian menebas pohon pisang jangan sampai dibayangkan menebas sesama saudara sendiri.

Dalam hal ini, kesadaran primordial, “kelompokisme” berdasar ikatan desa, kampung, geng motor, dan sebagainya harus dikritisi. Tarian menebas pohon pisang dalam tari Lumense harus ditempatkan dalam konteks “mematahkan” marabahaya yang disebabkan pemikiran sempit.

Akan sangat fatal jika dalam benak pemuda yang memeragakan tarian Lumense membayangkan musuh adalah kelompok dari tetangga sebelah. Sentimen “kelompokisme” itu harus dibendung dengan kesadaran “nasionalisme” yang kokoh (sesama bangsa).

Itu pun belum cukup. Nasionalisme pun harus dipayungi kesadaran nilai-nilai Pancasila terutama sila kedua yakni “Peri Kemanusiaan” atau kemanusiaan yang otentik dan universal.

Mumpung masih dalam nafas dan semangat Lebaran, mereka yang dilanda konflik diharapkan kembali kepada fitrah yang suci. Saling memaafkan mutlak harus tercipta.

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?