• News

  • Opini

Mualaf dan Murtad Masih Laku di Pasar, Mengapa Anda Ikut Geger?

Deddy Corbuzier memutuskan memeluk agama Islam, Jumat (21/6/2019)
foto: gempak.com
Deddy Corbuzier memutuskan memeluk agama Islam, Jumat (21/6/2019)

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Beberapa waktu lalu, jagad medsos riuh rendah oleh berita tentang presenter sekaligus magician Deddy Corbuzier yang menjadi mualaf. Deddy mengaku telah mendalami Islam selama delapan bulan kemudian mantap menjadi seorang muslim.

Mantan suami Kalina ini kemudian membacakan Kalimat Sahadat pada hari Jumat, 21 Juni 2019. Ia sekaligus menambah deretan artis-artis tenar lainnya yang sebelumnya juga menjadi mualaf.

Beberapa artis papan atas yang menjadi mualaf antara lain Roger Danuarta (29 Oktober 2019), Dian Sastrowardoyo (2006), Almarhum Chrisye (1982), Natalie Sarah (2001), Steve Immanuel (Mei 2008), Marsha Timothy (2012), Dewi Sandra (2013), dan Tamara Bleszynski (1995).

Fenomena baik artis maupun bukan artis yang kemudian memutuskan menjadi penganut agama Islam, sejatinya patut disyukuri oleh siapapun. Mengapa?

Jika hal menjadi mualaf dilandasi oleh niat atau dorongan ingin mewujudkan kehidupan yang lebih baik untuk dunia dan akhirat melalui hidup beragama sesuai ajaran Islam, mengapa disesalkan?

Islam adalah agama untuk menuju keselamatan hidup di dunia dan di akhirat. Dengan demikian, sudah sepantasnya, semua orang beragama baik yang memeluk agama Islam, Hindu, Kristen, Budha, maupun agama lainnya, ikut tepuk tangan memberi selamat kepada orang yang menjadi mualaf.

Sebetulnya, untuk menjadi seseorang yang baik dan bermartabat, sebenarnya bisa menjadi penganut agama apapun. Bahkan tak sedikit orang yang tak beragama pun mampu hidup yang baik dan bermartabat, beradab, mengormati makhluk hidup, dan sebagainya.

Dan sebaliknya, tak sedikit pula orang yang beragama maupun tak beragama hidupnya super jahat. Tak bisa menjamin seseorang beragama atau tidak, hidupnya pasti baik atau pasti buruk.

Uniknya, di Indonesia, berita mualaf sering mengundang kehebohan. Geger. Ada yang merasa rugi, tapi ada juga yang merasa diuntungkan. Padahal, untung dan rugi hanya ada di kepala orang itu. Sedangkan pihak yang menjadi mualaf memiliki pengalaman unik yang khas dan tersendiri.

Pengalaman pribadi yang menjadi mualaf selalu bersifat asasi, khas pribadi, dan tak akan sama dengan orang lain. Sama halnya dalam relasi intim dengan Tuhan. Hubungan secara vertikal dengan Tuhan, antara orang yang satu dengan lainnya tak bisa diukur.

Sekarang kita menengok dari kaca mata lain. Orang yang menjadi mualaf berarti dianggap murtad bagi pihak ajaran yang ditinggalkan. Sama halnya, seorang penganut Islam pindah ke agama lain, ia juga dinyatakan murtad.

Jumlah orang murtad sebenarnya tak sedikit. Sama halnya dengan jumlah yang menjadi mualaf juga tak sedikit. Konon, berdasarkan data stastistik penganut agama Islam di Indonesia pada tahun 2015 tercatat ada lebih dari 206 juta orang (80%) dari total penududuk sebanyak 255 juta jiwa.

Bila dibanding dengan data tahun 2010, jumlah penganut Islam pada tahun 2015 mengalami penurunan sebanyak dua juta orang. Sejumlah pihak menyimpulkan bahwa sepanjang 2010-2015 telah terjadi pemurtadan sebanyak 2 juta orang.

Benar tidaknya angka dan penilaian tersebut, yang mau dimaksud di sini adalah bahwa persoalan mualaf  dan murtad yang sangat bersifat pribadi dan intim antara seseorang dengan Tuhan, seringkali dibuat geger oleh pihak lain yang tidak mengalami.

Parahnya, hal itu tak jarang diklaim sebagai keberhasilan atau kegagalan. Padahal, tidak bisa semudah itu.

Tak sedikit orang yang setelah menjadi mualaf, kehidupannya benar-benar menjadi sangat saleh. Tak sedikit pula orang murtad (pindah agama), juga benar-benar menjadi saleh.  

Sebaliknya tak sedikit pula orang yang menjadi murtad atau mualaf, ternyata kualitas hidupnya sama saja atau bahkan lebih buruk. Tak ada angka pasti atas perbandingan semua itu.

Parahnya, berdasarkan pengalaman dan pengamatan penulis, tak sedikit di antara orang yang murtad dan yang mualaf dilatarbelakangi oleh motif “jual-beli”.

Sepanjang 16 tahun (1993 s.d 2009) di salah satu desa di Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, ada seorang kepala desa yang memutuskan menjadi mualaf menjelang detik-detik Pilkades (Pemilihan Kepala Desa).

Konon, hal itu dilakukan sebagai salah satu cara dan proses meraih kemenangan. Entah ada hubungannya atau tidak, yang pasti, ia benar-benar memenangi Pilkades. Ia menjabat sebagai kepala desa selama dua periode.

Sepanjang menjadi kepala desa, ia sangat aktif melayani masyarakat, murah senyum, mendorong warga desa untuk maju, aktif di masjid, di musola, dan sebagainya. Selama 16 tahun, ia berhasil membuat warga mengakui kualitas pelayananannya yang memang baik.

Bahkan, ia menjadi salah satu tokoh yang berhasil mempersiapkan kader pemimpin atau calon kepala desa yang baru. Usai dua kali menjabat, ia lengser dari kepala desa, dan saat Pilkades terbukti pemenangnya adalah pemuda yang dikader tersebut.

Uniknya, begitu ia lengser dari  kepala desa, ia “murtad” dan kembali ke agama sebelum ia menjadi kepala desa. Usai menjadi kepala desa, ia sangat aktif kembali dalam kehidupan umat beragama yang selama 16 tahun ditinggalkan.

Banyak orang geleng-geleng kepala dengan keunikan orang tersebut. Saat ia menjadi mualaf, banyak orang menyayangkan dan tak sedikit yang tepuk tangan. Namun saat ia menjadi murtad, semua orang terbengong-bengong. Orang tak gegabah lagi menilai murtad maupun mualaf.

Dalam contoh kasus terakhir, penulis hanya sodorkan salah satu penyebab menjadi mualaf dan murtad yakni faktor “pasar”. Laksana pasar, “ente jual, ane beli”, kadangkala (bukan selalu) juga berlaku.

“Saya jual diriku dengan menjadi mualaf atau murtad di pasar. Ketika ada konsumen berani membayar sepadan atau lebih tinggi, ya pantas dijual.”

Anda meniru atau tidak, itu hak Anda. Mau jadi mualaf atau murtad, seyogyanya bukan seperti melakukan jual beli di pasar.

 

Penulis: Ahmad Suteja

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?