• News

  • Opini

Ahok Kini Jauh Lebih Sabar, Bukan karena Manuver Ingin Jadi Menteri

Birgaldo Sinaga
foto: facebook/Birgaldo Sinaga
Birgaldo Sinaga

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Apa yang berbeda dari Basuki Tjahaja Purnama atau akrab dipanggil dengan sebutan Ahok, ketika bertemu dengan warga DKI yang meminta foto selfie dengannya?

Pada 1 Juli 2019 lalu, ketika Ahok keluar dari rumah duka Sentosa RSPAD Gatot Subroto, puluhan orang spontan mendekati Ahok.

Ahok dicegat. Ia tidak bisa berjalan menuju parkiran mobil. Ahok ditahan untuk berpoto bareng.

Saya yang melihat kejadian itu hanya senyum-senyum saja. Daya tarik Ahok rupanya belum pudar. Daya magnetnya ternyata belum melemah.

Ada perubahan

Riuh dan gaduh puluhan orang meminta foto selfie dengan Ahok. Bahkan ada yang tidak puas berkali-kali foto ganti posisi. Ada yang berbeda dari Ahok saat menghadapi para penggemar tersebut.

Saya melihat ada yang beda dari cara Ahok melayani penggemarnya. Apa itu?  Kesabaran. Ya, kesabaran. Ahok sudah lebih sabar melayani orang yang meminta berfoto dengannya.

Bahkan Ahok mau meladeni dengan memegang hape penggemarnya lalu memotretkan untuk penggemarnya itu.

Gesture, senyum, dan mimik muka Ahok juga lebih luwes, rileks dan hangat. Tidak terkesan terburu-buru lagi. Setelah puas, Ahok dengan santun berpamitan sama penggemarnya.

Saya melihat cara Ahok menghadapi penggemarnya sudah lebih baik. Sepertinya Ahok belajar dari Pak Jokowi yang super sabar menghadapi fansnya.

Jika karakter Ahok bisa lebih kalem, hangat dan rileks, saya pikir Ahok punya peluang terbang tinggi dalam kancah politik nasional ke depan. Bagaimana menurut Anda?

Manuver jadi menteri

Benarkah Ahok ingin menjadi menteri? Benarkah Ahok melakukan manuver cari perhatian publik seperti nyinyiran pentolan Partai Demokrat Ferdinand Hutahaen?

Saya cukup heran sama kecemburuan die hard AHY ini. Selalu saja nyinyir bicara soal Ahok. Dulu paling nyinyir sama Jokowi. Setelah Jokowi menang, irama lagunya berubah menjadi puja puji Jokowi. Sekarang mulai menyerang kawan satu koalisinya.

Saya curiga jangan-jangan kemunculan Ahok di publik ini bikin kuping Ferdinand merah-merah delima.

Maklum bosnya AHY kalo pergi ke area publik tidak ada sambutan warga. Dingin dingin saja. Kecuali kalo sedang berkunjung ke markas Demokrat. Di sana AHY dikalungkan bunga dan dielu-elukan.

Intinya sih kecemburuan. Ahok meskipun sudah dikirim ke perut bumi selama 2 tahun bertapa, begitu keluar, publik antusias menyambutnya. Kehadirannya dinanti. Begitu muncul langsung diserbu warga. Sementara junjungan Ferdinand dilirik warga saja kagak.

Sudahlah Fer (Ferdinand, red)! Gak usahlah sampai menyerang Ahok kayak kamu menyerang Jokowi. Poleslah junjunganmu agar bersinar.

Gak ada tokoh besar menjadi besar dengan menyerang orang lain. Kecuali memang junjunganmu ngak ada kemampuannya sama sekali. Jadi, ngak ada nilai jualnya, selain anak SBY doang.

Oh ya Fer, saya mau bilang sama kamu. Waktu Ahok melayat temannya, Pendeta Bigman Sirait pada 1 Juli 2019, itu puluhan orang langsung menyerbu Ahok.

Saya juga heran. Lho, Ahok yang sudah hilang 2 tahun ternyata masih dicintai warga. Bergerak saja susah saking padatnya memepet Ahok.

Itu kejadian spontan. Tak ada rekayasa. Sama seperti di Stasiun MRT kemarin.

Saya mau ingatkan kamu Fer!. Kamu kan ingin AHY, jadi presiden 2024 kan?

Saya kasih saran hentikanlah nyinyiranmu sama orang. Poleslah jagoanmu sekinclong-kinclongnya. Ngak usah kamu nyinyirin orang lain. Dah, gitu aja Fer!

Salam perjuangan penuh cinta

 

Penulis: Birgaldo Sinaga

Editor : Taat Ujianto