• News

  • Opini

Model ‘Pungut, Angkut, dan Buang‘ di TPA Bantar Gebang Bekasi Harus Diubah

Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Azas Tigor Nainggolan
Netralnews/Istimewa
Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA), Azas Tigor Nainggolan

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Kemarin pada hari Selasa (16/7/2019), saya dan beberapa teman mengunjungi pembangunan sarana alat pembakaran sampah (incenerator) di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Bantar Gebang.

Proyek tersebut yang dibangun oleh BPPT dan Indomarine itu selanjutnya akan dioperasionalkan oleh pemprov Jakarta. Rencananya pada akhir tahun 2019 ini incenerator akan mulai dioperasikan untuk membakar sampah Jakarta yang jumlah saat ini sudah mencapai sekitar 7500 ton per hari.

Jakarta memiliki perjalanan beberapa TPA untuk sampah warganya. Pertama kali Jakarta memiliki TPA Sampah sekitar tahun 1970an di daerah Gandaria, Jakarta Selatan.

Selanjutnya akhir tahun 1970an berpindah ke daerah Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Kemudian berpindah ke daerah Cakung Cilincing (Cacing) Jakarta Utara pada tahun 1980an. Setelah tahun 1989 TPA berpindah ke TPA Sampah Bantar Gebang Bekasi. 

Perpindahan TPA untuk sampah Jakarta dari satu daerah ke daerah lain disebabkan karena tuntutan kebutuhan lahan TPA yang lebih luas. Kebutuhan lahan luas itu seiring dengan meningkatnya jumlah sampah warga Jakarta.

Kebijakan memindahkan TPA sampah dari satu daerah ke daerah lain juga menunjukan bahwa model pengelolaan sampah Jakarta hanya "kumpul, angkut, dan buang". 

Model pengelolaan ini pun masih berjalan di TPA Sampah Bantar Gebang hingga kini. Awalnya luas TPA Sampah Bantar mulai dari 60 Ha, ke 80 Ha, lalu menjadi 125 Ha. Sekarang luasnya sudah menjadi sekitar 180 Ha. Lagi-lagi tambah luas karena modelnya masih dengan "kumpul, angkut, dan buang".

Sekarang pemprov Jakarta akan memulai sistem pembakaran sampah warga Jakarta dengan incenerator. Padahal, berdasar pengalaman saya tahun 2003 belajar mengenai pengelolaan sampah di Taipeh, Taiwan, cara ini sudah ditinggalkan.

Sejak awal tahun 2000an pemerintah Taiwan sudah tidak menggunakan model pembakaran sampah dengan teknologi  incenerator. Taiwan kala itu dengan tegas memilih menggunakan model pengelolaan sampah yang ramah lingkungan yakni dengan model "memakai ulang dan mendaur ulang".

Ketika saya melihat-lihat pembangunan Incenerator TPA Bantar Gebang terbersit pertanyaan, "Kok Jakarta baru sekarang bikin Incenerator, sementara negara lain di dunia sudah meninggalkan teknologi Incenerator?" 

Mengapa pula Pemprov DKI Jakarta tidak membangun pengelolaan sampah yang ramah lingkungan dengan mengelola pengendalian sampah dari hulunya?

Artinya, para produsen sampah harus dilibatkan dan bertanggung jawab atas sampah yang dihasilkan dari produknya. 

Mengelola sampah dari hulu, melibatkan produsennya juga akan membangun kesadaran dan keterlibatan  masyarakat dalam membangun pengelolaan sampah.

Mari dorong pemerintah membuat kebijakan agar para produsen bertanggung jawab atas sampah yang dihasilkan oleh produknya melalui para penggunanya atau konsumennya.

 

Penulis: Azas Tigor Nainggolan

Analis Kebijakan Transportasi dan Ketua Forum Warga Kota Jakarta (FAKTA)

Editor : Taat Ujianto