• News

  • Opini

Sekali Lagi tentang Kemunculan Dajjal, Kiamat, dan Kemarau 2019

Isu kemunculan Dajjal setelah kemarau panjang pernah menghebohkan masyarakat Indonesia
foto: youtube
Isu kemunculan Dajjal setelah kemarau panjang pernah menghebohkan masyarakat Indonesia

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Baru-baru ini, Plh Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Agus Wibowo melaporkan bahwa  sejumlah wilayah kabupaten dan kota telah menetapkan status siaga darurat kekeringan.

Data BNPB per 22 Juli 2019, ada 7 provinsi, 75 kabupaten dan kota yang terdampak kekeringan yaitu Jawa Barat 21 kabupaten, Banten 1, Jawa Tengah 21, DI Yogyakarta 2, Jawa Timur 10, Bali 2, NTT 15, dan NTB 9.

Untuk sebaran bencana kekeringan berdasarkan tingkatan wilayah administrasi yakni  meliputi: 7 provinsi, 75 kabupaten, 490 kecamatan,  dan 1.821 desa.

Untuk mengatasinya, saat ini total air bersih yang telah didistribusikan mencapai 7.045.400 liter. Strategi lain yang telah diupayakan antara lain penambahan jumlah mobil tanki, hidran umum, pembuatan sumur bor, dan kampanye hemat air.

Menghadapi darurat kekeringan, BNPB, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah melakukan koordinasi untuk operasi teknologi modifikasi cuaca (TMC).

"Saat ini potensi awan hujan kurang dari 70 persen sehingga belum dapat dilakukan operasi TMC. Namun demikian, pesawat milik BPPT dalam posisi stand by jika ada wilayah yang berpotensi untuk dilakukannya TMC," jelas Plh Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Agus Wibowo di Jakarta, Senin (22/7/2019).

BMKG menyampaikan bahwa hingga hari ini, potensi hujan 7 hari ke depan masih cukup rendah untuk wilayah Sumatera bagian Selatan, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara.

Di sisi lain, pertumbuhan awan dan potensi hujan masih terfokus di Sumatera bagian utara, Kalimantan Timur dan Utara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat dan Papua.

"Kalau terlihat dari provinsinya kita hanya punya data 2018 dan 2019. Jumlah provinsi terdampak untuk 2018 ada 17 provinsi, pada 2019 ada 7 provinsi," terang Agus.

Bila dibandingkan dengan data 2019, maka dapat terlihat bahwa dari tujuh provinsi yang terdampak kekeringan di tahun 2019, ada 111 kabupaten/kota yang terdampak pada 2018 dan 75 pada Juli 2019.

Selanjutnya, ada 888 kecamatan yang terkena dampak kekeringan pada 2018 dan ada sebanyak 490 pada tahun ini. Untuk tingkat desa, pada 2018 ada 4.000 dan kurang lebih 1.500 desa pada 2019.

Walau data sementara di tahun 2019 lebih sedikit namun bencana kekeringan diperkirakan masih akan bertambah mengingat musim kemarau diperkirakan masih akan berlangsung hingga bulan September. "Ini baru Juli," kata Agus.

Agus memprediksikan bahwa puncak kekeringan akan terjadi pada Agustus dan akan berlangsung hingga September atau November, sebagaimana diberitakan oleh Antara.

Mencermati isu tentang bencana kemarau, ada baiknya masyarakat kembali waspada dengan penyebaran berita hoaks. Sepanjang dua hingga tiga tahun lalu, sempat viral di media sosial di mana muncul pemberitaan bahwa kemarau panjang akan melanda dunia sepanjang 2019 sampai 2022.

Berita itu sempat mengundang kepanikan publik. Kala itu, isu yang ditiapkan adalah "BMKG Prediksi Kemarau Panjang Tahun 2019 hingga 2022: keluarnya Dajjal telah sangat dekat?"

Karna mengklaim data dari BMKG, sebagian masyarakat  menelan berita itu mentah-mentah dan mengamini bahwa kiamat sudah dekat dan Dajjal akan segera muncul.

Untunglah, BMKG segera memberikan klarifikasi di laman resminya.

"BMKG tidak pernah menyampaikan serta menyebarluaskan informasi tersebut. Berita itu hoax dan tidak bisa dipertanggungjawabkan, serta membohongi masyarakat karena isu tersebut tidak berdasarkan pertimbangan ilmiah yang jelas," tulis Kepala Sub Bidang Informasi Meteorologi BMKG, Hary Tirto Djatmiko, Rabu (30/11/2016).

Isu yang menyesatkan tersebut sempat dicampuradukkan dengan argumentasi-argumentasi dengan mengutip  ayat suci dalam Kitab Suci Agama tertentu tentang tanda-tanda datangnya akhir zaman.

Tak sedikit masyarakat Indonesia yang percaya dengan penyebaran berita bohong tersebut. Mereka meyakini bahwa kiamat benar-benar akan terjadi dalam waktu dekat ini, setelah terjadi kemarau panjang yang melanda tahun 2019-20122.

"Karena itu, masyarakat diimbau dan diharapkan tidak terpengaruh serta tidak perlu menghiraukan informasi tersebut," ujar Hary.

Isu kemunculan Dajjal juga pernah dibantah BMKG melalui akun Instagramnya @infobmkg.

"Amplifikasi atas kabar berantai itu terjadi karena ketidakhati-hatian dalam memahami konteks riset/studi mutakhir soal tren peningkatan suhu global. Selain itu, ada upaya pembuat misinformasi yang mengaitkan topik pemanasan global dengan pemahaman atas keyakinan tertentu, yakni soal kiamat," tulis akun @infobmkg kala itu.

Kini sudah tiba tahun yang disebut-sebut oleh para peramal yang mengklaim menggunakan data BMKG. Kita juga akan saksikan bagaimana proses kemarau yang disebut-sebut akan berlangsung sangat panjang hingga tahun 2022.

Di sisi lain, ada baiknya, masyarakat Indonesia selalu memantau info BMKG di laman resminya agar tidak mudah dikacaukan oleh para penyebar berita bohong atau hoaks dengan mengklaim data-data BMKG secara tidak bertanggung jawab. 

 

Penulis: Ahmad Suteja

Editor : Taat Ujianto