• News

  • Opini

Segera Menikah Sebelum Mati Tertimpa Bencana Gempa Bumi

Ilustrasi gempa bumi 6,9 SR di Banten
foto: mediariau.com
Ilustrasi gempa bumi 6,9 SR di Banten

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Dalam suatu percakapan dengan teman-teman penulis, ada seorang teman yang masih lajang mendadak ingin segera menikah. Ia akan mempercepat pernikahan dengan pacarnya karena takut keburu mati akibat gempa bumi megathrust.

Ia bukan sedang bercanda. Ia benar-benar serius dan mengaku khawatir dengan ancaman gempa besar yang akan melanda Indonesia. Akibatnya, muncul gejolak ngebet ingin segera menikah. Katanya, kalaupun mati, sudah merasakan bagaimana menjadi suami-istri.

Yang menarik dari kejadian tersebut bukan persoalan pernikahannya yang dipercepat tetapi bahwa pada bulan-bulan terakhir ini, masyarakat Indonesia terus menerus disuguhi kejadian dan berita tentang gempa bumi. Sadar atau tidak, hal itu akan berdampak terhadap kondisi psikologis rakyat Indonesia.

Gempa bumi dan gunung meletus adalah keniscayaan dari kondisi geografi Indonesia. Prediksi gempa sebenarnya bisa diketahui berdasarkan zona gempanya. Sementara soal waktu atau kapan akan terjadi, secara ilmiah belum ada alat ukurnya.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Rahmat Triyono sempat mengungkapkan bahwa gempa bumi memiliki waktu perulangan (recurrence time).

Ia menyebut bahwa gempa bumi dengan kekuatan magnitudo (M) 7 biasanya terjadi antara 30 dan 50 tahun sekali, gempa M 8 terjadi 50 dan 100 tahun sekali, dan gempa M 9 terjadi tiap 100-200 tahun sekali.

Hanya mendasarkan pada pendekatan pengulangan gempa juga belum bisa untuk menentukan kepastikan pola waktu perulangan gempa.  Diperlukan ketersediaan data, analisa, akurasi data, dan sebagainya, sedangkan data di BMKG, secara baik baru tersedia sejak tahun 1990-an.

Dalam analisa gempa Aceh, misalnya, sebelum gempa 2004 berkekuatan 9 SR terjadi, dikabarkan gempa yang merusak pada seabad sebelumnya pernah terjadi. Apakah bisa disimpulkan bahwa gempa besar Aceh berulang tiap 100 tahun?

Rahmat Triyono  menegaskan bahwa kesimpulan semacam itu belum bisa dilakukan. Soalnya, perulangan yang teramati baru sekali, sedangkan perulangan 200-300 tahun ke belakang tidak tercatat dengan rinci.

Lalu apa yang bisa dilakukan bagi bangsa Indonesia jika melihat potensi bencana ada di depan mata? Menurut hemat penulis, yang segera dilakukan adalah melakukan revolusi budaya mitigasi secara menyeluruh.

Dalam hal ini, dunia pendidikan formal hendaknya menjadi garda terdepan untuk menggaungkan budaya upaya mitigasi. Dinas pendidikan harus segera membuat rapat kerja untuk merumuskan kurikulum dan penerapannya dalam pembelajaran di kelas-kelas.

Generasi Indonesia mutlak harus bisa memiliki perilaku tanggap bencana, memahami apa yang mesti dilakukan bila terjadi gempa, tsunami, hingga soal bagaimana memahami model tempat tinggal yang tahan gempa.

Melihat potensi gempa yang akan berulang terjadi ke depan, perumusan dan eksekusi pendidikan mitigasi di sekolah formal adalah bersifat darurat dan tak bisa ditunda-tunda.

Korban meninggal saat gempa Aceh maupun gempa di Yogyakarta beberapa tahun lalu, selain karena terjangan tsunami, yang paling parah adalah akibat  “ketidaktahuan” dan akibat tertimpa bangunan roboh.

Artinya, tanggap bencana, perilaku apa yang mesti dilakukan bila terjadi gempa, perilaku seperti apa pada pascagempa, bagaimana teknik membangun tempat pengungsian, bagaimana ciptakan sistem gotong royong menolong korban bencana, membangun budaya disiplin saat terjadi bencana, semua itu sangatlah penting.

Dengan disiplin dan tertib hadapi gempa bumi, kekacauan saat bencana terjadi seperti penjarahan harta milik korban, perampasan logistik karena korban terlanjur kelaparan, dapat dicegah. Di sisi lain, manajemen bantuan darurat juga bisa diajarkan di sekolah.

 

Penulis: Ahmad Suteja

Editor : Taat Ujianto