• News

  • Opini

Dituduh Penganut Ateis tapi Potong Hewan Kurban

Seekor kambing untuk kurban di Hari Raya Idul Adha
foto: youtube
Seekor kambing untuk kurban di Hari Raya Idul Adha

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Sejatinya, kedalaman spiritualitas seseorang tak bisa diukur orang lain, bahkan dirinya sendiri sekalipun. Namun, terkadang seseorang terlalu mudah atau buru-buru menghakimi dan memberikan label tertentu.

Berawal dari pengamatan penulis terhadap sosok tetangga, sebutlah namanya Udin. Mungkin lebih tepat disebut pribadi yang "unik" daripada menyebut dengan label lain yang justru malah tidak tepat.

Penulis sendiri tak tahu agama apa yang sebenarnya dianut oleh Udin. Di Kartu Tanda Penduduk (KTP) memang tertera sebagai penganut salah satu agama.

Anehnya, suatu ketika ia mengaku apa yang tertera di KTP hanya sekadar memenuhi administrasi. Singkat kata, ia tak mau menyebutkan apa agamanya.

Keberadaan Udin dalam kehidupan bermasyarakat di wilayah Rukun Tetangga, belum pernah sekalipun membuat keonaran dan justru sebaliknya. Ia tertib bayar iuran RT dan RW. Ia juga tertib membayar pajak.

Biarpun mengaku tak mau menyebutkan apa agamanya, ia tak segan ikut menghadiri acara baca Yasin bila ada tetangga yang meninggal.

Di acara baca Yasin, ia terlihat tidak ikut baca doa tetapi hanya “hadir”, bersila, seolah khusyuk berdoa karena terlihat diam dan memejamkan mata. 

Ia juga rajin bila diundang mengikuti kerjabakti di masjid, sama rajinnya bila ada undangan membersihkan lingkungan RT di wilayah Bojonggede, Bogor, wilayah tinggalnya.

Namun, bila diundang acara resmi Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) seperti acara pengajian di masjid, Salat Jumat, ia tak pernah hadir. Bila melihat kecenderungan itu, maka benar juga pengakuannya bahwa ia memang bukan seorang muslim.

Bila ada panitia renovasi DKM dan penggalangan dana untuk anak yatim, si Udin tak pernah absen dan ikut menyumbang. Saat perayaan Idul Fitri, ia sekeluarga turut serta berkeliling dan keluar kata-kata dari mulut mereka, “Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon maaf Lahir dan Batin.”

Bila ada tetangga yang nonmuslim merayakan hari raya, ia rutin mendatangi rumah tetangganya, dan secara khusus mengucapkan selamat merayakan hari raya.

Ia sangat santun. Ia cukup hati-hati dalam berbicara dan tak pernah menyebar hoaks. Ia suka bercanda dan murah tertawa. Tak pernah terucap unsur-unsur jorok dari mulutnya ataupun bernada menggunjingkan orang lain.

Suatu ketika, ia justru seperti mengunci mulutnya ketika saat ikuti kegiatan ronda, ada warga lain yang sedang ngrumpi kejelekan orang lain. Singkat cerita, perilaku sosialnya, bisa dikatakan nilainya maxima cum laude.

Penilaian penulis memang bersifat subjektif tetapi kebetulan, penulis menjabat sebagai seorang Ketua RT. Setidaknya, penilaian didasarkan pada pengamatan selama Udin tinggal di wilayah RT yang penulis pimpin yang kini sudah berlangsung sekitar 14 tahun.

Dilihat dari latar belakang pendidikannya, cukup tinggi. Udin adalah seorang lulusan sarjana ilmu ekonomi di salah satu perguruan negeri di Jawa Tengah. Hingga kini, ia bekerja sebagai seorang PNS di Direktorat Kebudayaan.

Puncaknya, menjelang perayaan Hari Raya Idul Adha 1440 H, yang jatuh hari Minggu (11/8/2019) lusa. Si Udin ternyata mengirimkan hewan kurban berupa 4 ekor kambing miliknya sendiri yang dipelihara oleh warga kampung (biasa diistilahkan sistem gado).

Penulis yang kebetulan menjadi panitia Idul Adha, mencatat hewan korban milik Udin ditujukan untuk orang tua dan saudaranya di kampung. Panitia Idul Adha tak memiliki alasan apapun untuk menolak hewan kurban dari Udin.

Secara pribadi, penulis menanyakan soal kurban yang ia kirim sementara ia sebelumnya mengaku bukan seorang muslim.

Dengan sopan ia menjawab bahwa hewan hasil peliharaannya diharapkan bermanfaat bagi orang tuanya di kampung dan bagi orang lain. Kebetulan Udin juga seorang vegetarian.

Penulis baru ingat, bahwa tahun lalu pun, ia memang memberikan jatah daging kurban untuk tetangga sebelahnya, karena ia memang terbiasa menjadi seorang vegetarian.

Sampai di sini, penulis mengaku tak bisa menerka lebih jauh tentang ajaran dan spiritualitas yang dianut Udin. Ia pun tak pernah berusaha menjelaskan atau mengajarkan paham yang dianutnya kepada orang lain.

Sedangkan istri dan satu anak perempuannya pun terlihat  hidup rukun dan juga mengikuti pola hidup yang dijalani Udin. Artinya, bila tidak salah terka, istri dan putrinya juga sama-sama memiliki penghayatan kepercayaan yang sama dengan Udin.

Suatu ketika, ada warga yang nyeletuk dan menuduh bahwa Udin adalah penganut "ateis". Buru-buru orang itu penulis sentil agar tidak sembarangan memberikan label penganut ateis kepada siapapun.

Lagipula, tak ada alasan mencukupi untuk menilai Udin sebagai seorang penganut ateis.

Hingga kini, terus terang, sosok Udin membuat penulis sering merenung. Ia seorang yang "baik" dalam kehidupan bersosial dan bermasyarakat. Ia rupanya tak pernah sibuk dengan urusan agama tetapi sangat peduli dengan persoalan masyarakat sekitar. 

Penulis bisa melihat dan merasakan langsung tentang arti manusia “unik”. Penulis mengaku tak bisa mengukur seperti apa kedalaman spiritualitas sosok si Udin. Walaupun ada tetangga yang pernah nyeletuk bahwa ia seorang ateis, lubuk hati penulis menyatakan tidak sependapat.

Ada satu jenis label lain di luar penganut ateis dan teis yakni kaum agnostik. Mereka adalah kaum yang menyatakan diri bahwa akal budi manusia tak akan mampu memahami secara rasional tentang Tuhan.

Oleh sebab itu mereka cenderung tidak mau bicara tentang Tuhan, apalagi mengklaim kebenaran seputar Tuhan. Apakah Udin tergolong dalam kelompok ini, sementara ia pun tak pernah menyebut dirinya teis, ateis, maupun agnostik?

Ia tak pernah jahil dan mengusili orang lain, aliran, maupun paham tertentu. Ia tak pernah  mengucapkan jargon dan penghakiman tentang segala hal yang menyangkut agama, apalagi mengaitkannya dengan politik.

Seolah ia dan keluarganya "bungkam" setiap kali menyinggung soal agama dan Tuhan.

Di sisi lain, ia begitu giat dan sangat peduli dengan persoalan korban bencana. Penulis berulangkali menyaksikan Udin ikut menyumbang penggalangan dana untuk bencana gempa di Palu beberapa waktu lalu yang digalang oleh panitia DKM.

Penulis tak berwenang memberikan label apapun kepada Udin, selain menyebut Udin merupakan salah satu warga Indonesia yang unik dan baik dalam kehidupan sehari-hari.  Itu saja.

 

Penulis: Ahmad Suteja

Editor : Taat Ujianto