• News

  • Opini

Kebangkitan Daun Pohon Jati yang ‘Sakti’ di Hari Idul Adha Suci

Ilustrasi pohon jati besar dan daun jati untuk mengemas daging kurban
Foto: Istimewa
Ilustrasi pohon jati besar dan daun jati untuk mengemas daging kurban

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Ada yang menarik dalam perayaan Hari Idul Adha yang suci pada tahun ini. Di sana-sini ramai-ramai menyuarakan tentang pentingnya penggunaan bahan-bahan alami yang ramah lingkungan.

Hal ini patut disyukuri. Apalagi bila dilanjutkan menjadi kebiasaan yang membudaya di masyarakat. Artinya, bukan hangat-hangat tahi ayam, bahan alami ramai hanya digunakan saat Idul Adha, setelah itu kembali ke dalam kebiasaan lama.

Penggunaan kantong plastik sekali pakai memang sudah memprihatinkan. Sampah plastik banyak menggunung di mana-mana. Padahal, jenis sampah plastik sulit terurai di tanah.

Sampah plastik memang bisa didaur ulang tetapi karena tabiat buruk warga membuang di kali membuat pendangkalan sungai menjadi jauh lebih cepat. Selain itu rentan menimbulkan banjir di musim penghujan.

Dari sekian banyak jenis bahan alami yang digunakan saat Idul Adha 1440 Hijriah, di sejumlah daerah kembali menggiatkan penggunaan bahan untuk mengemas daging kurban yakni dengan daun pohon jati (Tectona grandis).

Berita itu rasanya terdengar "adem" di zaman milenium yang serba canggih dan modern. Penggunaan daun jati seperti kembali kepada era tradisional lengkap dengan aroma gerakan cinta lingkungan di balik seruan itu.

Beberapa daerah yang menyerukan penggunaan daun jati antara lain di Purwakarta, Surabaya, hingga di daerah Musi Banyuasin, Palembang. Semua juga dilandasi keprihatinan yang sama yakni untuk mengurangi munculnya sampah plastik.

Di Musi Banyuasin (Muba), Sumsel, beberapa Pondok Pesantren (Ponpes), mengemas daging hewan kurban dengan daun jati dan daun pisang. Daun-daun tersebut diambil dari lokasi ponpes dan tanaman warga sekitar Ponpes.

Pimpinan Ponpes Ashidiqiyah Desa Simpang Tungkal Kecamatan Tungkal Jaya, Muba, Anas mengatakan pihaknya menyediakan daun-daun sebagai pembungkus daging yang dibagikan kepada masyarakat dan pengurus ponpes. Jumlahnya mencapai 200 paket dengan berat 2 Kg.

Sebenarnya, daun dari pohon jati yang terkenal memiliki batang kayu yang mahal harganya, sejak zaman dahulu sudah akrab digunakan di berbagai daerah di Nusantara untuk mengemas makanan. Nasi hangat yang dibungkus daun jati akan terjaga kehangatannya. Selain itu, nasi akan memiliki aroma yang khas.

Pohon ini bisa tumbuh di lahan tandus. Ketika layak tebang, dijamin harga kayunya selangit. Bila tumbuh subur, batang pohon jati bisa mencapai lingkar batang hingga dua meter.

Dahulu, karena terkenal kekuatannya dan tahan dari serangga kayu, batang kayu pohon jati digunakan untuk bangunan rumah kaum bangsawan, bahan untuk membuat kapal, kusen, pintu, almari, dan sebagainya.

Ciri khas pohon jati yang "sakti" karena harganya yang super mahal, juga bisa diketahui dari tunas mudanya. Tunas muda pohon jati bisa menghasilkan warna merah, bila dijilat akan terasa sepet, dan memiliki aroma khas.

Warna merah di tunas pohon jati dikarenakan daun tanaman jati memiliki pigmen berwarna merah. Sedangkan pada kulit batang mengandung terpen, saponin, dan tanin. Kayu jati mengandung tektol, dehidrotektol, dan 2,2-dimetilnaftokroman (Setijo, 2010).

Warna merah pada tunas muda daun jati biasa digunakan sebagai pewarna dalam proses pemasakan gudeg (dari buah nangka muda). Emak-emak pembuat gudeg biasanya akan mengambil tunas muda pohon jati secukupnya sebagai alas di kuali untuk memasak gudeg nangka muda.

Hasil akhirnya akan membuat masakan gudeg berwarna merah kecoklatan sehingga mempengaruhi kesan dan cita rasa gudeg yang mengundang selera makan.

Dengan demikian, banyak bagian dari pohon jati sangat berguna bagi manusia. Daunnya sebagai pembungkus makanan yang ramah lingkungan, kayunya, hingga tunas mudanya.

Tak berlebihan bila menyebut pohon jati memang "sakti". Satu lagi. Andaikata masyarakat Indonesia beramai-ramai kembali memanfaatkan pohon jati secara maksimal, maka perlu gerakan penanaman pohon jati.

Penanaman pohon sama artinya dengan gerakan cinta lingkungan. Menanam pohon adalah tindakan nyata dalam rangka menyelamatkan bumi dari ancaman bahaya pencemaran lingkungan. Menanam pohon jati berarti merawat kehidupan.

Editor : Taat Ujianto