• News

  • Opini

Abdul Somad Tidak Salah sekaligus Tidak Kedepankan Irisan Menyejukkan

Ustaz Abdul Somad
foto: suara.com
Ustaz Abdul Somad

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Video kajian Islam oleh Ustaz Abdul Somad (UAS) yang diupload di Youtube oleh seseorang menimbulkan kehebohan yang patut disesalkan. Bila tidak mendudukan semua itu secara bijak, berimbang, dan diliputi hati terbuka, maka akan rentan menimbulkan api dalam sekam.

Terhadap kegaduhan tersebut, UAS sempat memberikan tanggapannya ke awak media Republika.co.id. Menurutnya, video tersebut merupakan rekaman kejadian yang sudah lewat bertahun-tahun silam.

Saat itu, lanjut UAS, sesi tanya-jawab berlangsung dalam kajian tertutup di suatu masjid di Pekanbaru, Riau. Kajian itu dijadwalkan tiap Sabtu pada waktu subuh. Karena sifatnya tertutup, hanya kaum Muslimin saja yang hadir.

''Saya menjawab pertanyaan jamaah dalam kajian tertutup yang diadakan di Masjid Agung an-Nur Pekanbaru. Itu bukan tabligh akbar semisal di lapangan terbuka atau disiarkan melalui stasiun TV," jelas UAS.

Dalam kesempatan itu, UAS menjelaskan antara lain ihwal kedudukan Nabi Isa AS. Kemudian, penjelasan juga diberikannya mengenai soal patung dan jin.

Dengan cara tersebut, ia berharap jemaah bisa memahami bagaimana ajaran tauhid dan syariat Islam memandang Nabi Isa AS, hukum memiliki patung, dan makhluk bernama jin. Jadi, tujuannya hanya memberikan pemahaman keilmuan.

''Ada orang islam yang memotong-motong video itu. Dia memposting. Tujuannya supaya orang paham tentang hukum patung. Jadi, ini untuk internal saja (umat Islam -Red),'' tegasnya.

Sayangnya, video itu kemudian tersebar ke komunitas lintas agama, termasuk umat Nasrani. ''Video itu sampai ke grup Katolik. Mereka posting di instagram-instagram mereka, jadi ramai,'' kata UAS.

Tidak menyalahi ajaran Islam

Banyak khalayak umum sependapat bahwa UAS memang tidak menyalahi ajaran Islam. Ia menyampaikan telaah berdasarkan ajaran Islam. Dan ajaran Islam, jelas tidak akan sama dengan ajaran agama lain, termasuk Kristen dan Katolik (Nasrani atau Kristiani).

Ambil contoh lain yaitu tentang sosok yang akan dikorbankan Nabi Ibrahim AS. Umat Islam berpedoman pada Alquran bahwa yang akan dikorbankan adalah Ismail. Sedangkan umat  Kristiani adalah berpedoman pada Injil Perjanjian Lama yang menyebutkan Ishak yang akan disembelih.

Kedua kisah tidak akan mungkin dibuat sama karena memang apa yang menjadi dasar ajarannya berbeda. Kalaupun diperdebatkan panjang lebar sampai ungkit-ungkit sejarah pun tak akan membuat kedua belah penganutnya mau menyamakan ajaran tersebut.

Singkat kata, dalam ajaran Islam dan Kristen, memang banyak yang berbeda dan tidak bisa dibuat sama. Itu sudah masuk dalam wilayah “meyakini” atau mengimani. Lalu bagaimana?

Mengimani, belum selesai. Iman menjadi lengkap bila umat manusia menghasilkan buah-buah kebaikan di balik kisah Nabi Ibrahim AS. Justru dalam konteks  buah keimanan, ternyata banyak kesamaan antara ajaran Islam dengan ajaran Nasrani.

Buah itu bernama: tidak egois, patuh pada perintah Tuhan, cinta, perdamaian, kerjasama, gotong royong, dan sebagainya. Inilah yang dinamakan “irisan” dari dua ajaran yang berbeda.

Mengedepankan "irisan" yang sejuk

Mengingat Indonesia adalah negara majemuk yang berbhineka tunggal ika, maka mutlak selalu menyemai pemahaman agama yang sejuk, toleran, dan saling menghormati. Perbedaan adalah keniscayaan yang harus disikapi dengan bijak.

Apa salahnya dan apa sulitnya bila UAS dalam ceramahnya, tidak lupa menyebutkan bahwa ajaran dalam Islam dalam memandang Yesus bukan Tuhan dan Yesus yang disalib dan mati itu bukanlah Nabi Isa, juga menyebutkan sikap menghormati umat lain yang memiliki iman berbeda?

Apa sulitnya di akhir ceramahnya yang konon hanya untuk internal jemaah itu juga disebutkan "Saudara kita, umat Kristiani mengimani hal yang berbeda dengan ajaran Islam, kita tetap wajib menghormati mereka. Agamamu adalah agamamu dan agamaku adalah agamaku"?

Pernyataan tersebut jauh berdampak positif bagi ke-Indonesia-an. Juga tidak menyalahi ajaran Islam yang memang tidak memercayai teologi seputar salib dan Yesus sebagai Tuhan. Namun inilah Indonesia.

Bila model ceramahnya hanya menonjolkan seperti apa yang ada dalam video tersebut, niscaya, kebencianlah yang disemai. Bukan kesadaran sebagai bangsa Indonesia yang berdasar Pancasila, tetapi dikhawatirkan justru memupuk generasi yang terus membenci umat lain.

Kebencian yang terus dipupuk akan melahirkan sikap SARA. Dan di manapun, SARA akan melahirkan buah iman yang justru tidak sejalan dengan cita-cita masyarakat yang damai dan saling mencintai.

Terakhir. Andaikata apa yang ada dalam video tersebut telah menciptakan luka di antara sesama anak bangsa, adakah yang mau rendah hati minta maaf? Mungkin saja, UAS bersikukuh merasa tidak bersalah. Terkadang, hanya "meminta maaf" dan rendah hati saja sangat mahal harganya.

Soal lapor polisi

Dalam hal usulan melaporkan UAS ke polisi agar ditindak secara hukum, penulis terus terang tidak setuju. Masalah seperti ini cukuplah diselesaikan dengan dialog yang mengedepankan persaudaraan sebagai sesama anak bangsa.

Dalam hal ini, para pemimpin agama harus duduk bersama dan memberikan pencerahan dan pendewasaan iman bagi masing-masing umatnya.  UAS pun diharapkan mau berdialog secara baik. Jiwa kenegarawan dan jiwa spiritualitas yang universal justru diuji dengan cara ini.

Lagi pula, jika kasus semacam ini dibawa ke ranah hukum, energi dan perhatian masyarakat akan terkuras sia-sia. Padahal, energi tersebut bisa dialihkan justru untuk membangun negeri melalui kerjasama antar umat beragama.

Jangan sampai umat Kristiani dan umat Islam memelihara konflik yang tidak perlu. Bila umat Kristiani dan umat Islam di Indonesia ribut, justru yang bertepuk tangan adalah pihak-pihak yang ingin berselancar untuk menumbangkan NKRI.

Salam Persatuan. 


Penulis: Ahmad Suteja

Editor : Taat Ujianto